22 Rabiul-Akhir 1443  |  Sabtu 27 Nopember 2021

basmalah.png

Di Amerika Serikat, Muslimah Paling Dirugikan Islamofobia

Di Amerika Serikat, Muslimah Paling Dirugikan Islamofobia

Fiqhislam.com - Sebuah penelitian dilakukan di Amerika Serikat oleh UC Berkeley, berkaitan dengan hak perempuan Muslim di sana. Studi ini dilakukan untuk memahami keterkaitan Islamofobia dan bentuk pandangan dunia terhadap mereka.

Dua peneliti, Elsadig Elsheikh dan Basima Sisemore, memutuskan melakukan survei nasional yang mengambil sudut pandang bagaimana Muslim di Amerika Serikat hidup dengan Islamofobia, sembari mendokumentasikan pengalaman kolektif dan menyuarakan pandangan mereka. Temuan ini lantas disampaikan dalam sebuah laporan berjudul "Islamophobia Through the Eyes of Muslims".

Sekitar 3,45 juta Muslim tinggal di Amerika Serikat, dimana wilayah Teluk San Francisco memiliki konsentrasi Muslim terbesar, berjumlah 250 ribu orang atau sekitar 3,5 persen dari total populasi wilayah tersebut.

Elsheikh mengatakan studi ini penting dan berfungsi menjelaskan prasangka dan diskriminasi terhadap Muslim di Amerika Serikat tidak dipahami dengan baik. “Islamofobia memiliki sejarah panjang. Itu tidak muncul setelah 9/11, tetapi 9/11 memperkuatnya,” katanya dikutip di Sfexaminer, Selasa (19/10)

Di sisi lain, Sisemore merasakan keresahan ketika mengetahui hasil survei menyatakan Islamofobia lebih mempengaruhi wanita Muslim Amerika Serikat daripada pria Muslim Amerika.

Sebanyak 1.123 Muslim yang tinggal dan bekerja di Amerika Serikat disebut mengikuti survei ini. Lebih dari 60 persen responden adalah imigran dan sebagian besar merupakan lulusan perguruan tinggi yang fasih berbahasa Inggris. Sebanyak 42 negara bagian diwakili dalam survei ini, dimana hampir sepertiganya peserta berasal dari California.

Sebagian besar Muslim di Amerika dalam survei ini percaya wanita lebih berisiko mengalami Islamofobia daripada kelompok lain. Hal ini masuk akal, mengingat wanita Muslim, khususnya mereka yang mengenakan jilbab atau niqab, terlihat lebih jelas sebagai praktisi agama Islam.

Contoh kasus, ketika mantan presiden Donald Trump mengkritik empat perempuan vokal Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat, yaitu Alexandria Ocasio-Cortez, Ilhan Omar, Ayanna Pressley dan Rashida Tlaib.

Saat itu, dia memusatkan sebagian besar kemarahan Islamofobianya pada Ilhan Omar, anggota parlemen Muslim kelahiran Somalia yang mengenakan hijab.

“Perempuan Muslim dipandang sebagai bagian dari budaya eksternal atau berlawanan, yaitu Islam atau Timur. Narasi yang berlaku adalah Islam bertentangan dengan cita-cita Barat dan nilai-nilai demokrasi,” kata Sisemore.

Studi tersebut juga mengungkapkan Islamofobia menyulitkan umat Islam, khususnya perempuan Muslim, membangun komunitas.

Sebanyak 82 persen wanita mengaku mereka merasa terhambat dibandingkan pria, terkait menjalin persahabatan dan ikatan komunitas.

Khususnya, 68,8 persen peserta wanita melaporkan Islamofobia mencegah mereka membangun hubungan sosial dengan Muslim Amerika Serikat lainnya.

Sembilan dari 10 wanita yang disurvei juga mengaku menyensor ucapan atau tindakan mereka karena takut bagaimana orang akan merespons atau bereaksi terhadap mereka.

Mereka mencoba menghindari mengungkapkan pikiran ketika menyangkut masalah umum masyarakat, karena khawatir hal itu dapat mengarah pada ekspresi kebencian atau kekerasan.

Salah satu pendorong Islamofobia, menurut El Sheikh dan Sisemore, adalah penggambaran media tentang wanita Muslim yang tertindas dan perlu diselamatkan oleh budaya dan cita-cita barat.

Sisemore menyematkan sikap ini pada “feminisme liberal dan imperialis”, perpanjangan dari ideologi imperialis Barat, yang memberikan narasi palsu dan berbahaya, tentang wanita Muslim yang perlu diselamatkan dari pria Muslim yang kejam dan menindas. Narasi feminis ini telah membantu politisi mengumpulkan dukungan publik untuk membenarkan invasi ke Irak dan Afghanistan.

Pada 2001 misalnya, pemerintahan Bush mengklaim perang melawan teror yang dilancarkan di Afghanistan juga merupakan perjuangan untuk hak dan martabat perempuan.

“Bahkan sebelum dideklarasikannya Perang Melawan Teror, cadar telah ditandai sebagai tirani, dan sebaliknya, membuka cadar telah menjadi simbol kebebasan dan demokrasi,” tulis peneliti Universitas San Francisco, Janine Rich, dalam sebuah makalah berjudul '’Saving’ Muslim Women: Feminism, U.S Policy and the War on Terror'.

Menurut Rich, dalam konstruksi perempuan Muslim sebagai korban pasif ini, tidak ada ruang untuk mengkaji secara kritis nalar dan konteks.

Baik Elsheikh dan Sisemore, dengan penuh semangat mereka mendeklarasikan narasi penyelamat kulit putih dan generalisasi palsu tentang peran perempuan dalam masyarakat Islam.

Di beberapa negara, wanita memang harus memakai penutup kepala atau perlu didampingi di luar rumah. Fakta lainnya, di Afghanistan perempuan dilarang bekerja, dan Taliban secara brutal menindak protes yang dilakukan perempuan.

Namun, Sisemore berpendapat media cenderung menekankan cerita-cerita ini. “Saya pikir bagian dari masalah ini adalah bahwa dunia perlu terlihat seperti Amerika Serikat,” kata dia.

Sisemore mengakui media memiliki tanggung jawab mengangkat suara kaum terpinggirkan. Tetapi penggambaran Muslim di media cenderung menyoroti perang, kekerasan, kemiskinan dan perjuangan. Dia mencatat, tidak benar untuk selalu menyajikan kasus paling ekstrem, yang kemudian menjadi seluruh kebenaran bagi banyak pembaca.

Menurutnya, negara-negara dengan populasi Muslim terbesar, seperti Indonesia, Pakistan, India dan Bangladesh, telah memilih perempuan sebagai pemimpin negara. Sementara, Amerika Serikat belum pernah memilih seorang wanita sebagai presiden. Perdana Menteri Bangladesh saat ini adalah Sheikh Hasina, seorang wanita berusia 74 tahun yang telah menjabat sejak 2009.

Elsheikh juga mengatakan, sebelum invasi Soviet dan intervensi Amerika Serikat dengan mujahidin, di Afghanistan perempuan memegang beberapa posisi penting dalam pemerintahan.

Survei tersebut lantas menjelaskan bagaimana Islamofobia menciptakan batasan yang kaku bagi masyarakat. Wanita Muslim sering menjadi target utama insiden Islamofobia, sebanyak 74,3 persen dan ini harus menjadi perhatian semua pihak.

Ironisnya, Islamofobia yang melemahkan dan melunturkan hak-hak perempuan Muslim Amerika Serikat, digunakan sebagai alat untuk mengutuk masyarakat Islam. [yy/republika]