14 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 21 Oktober 2021

basmalah.png

Imam Besar Al Azhar Imbau Afghanistan Izinkan Wanita Sekolah

Imam Besar Al Azhar Imbau Afghanistan Izinkan Wanita Sekolah

Fiqhislam.com - Imam besar Al-Azhar Mesir meminta pemerintah Afghanistan untuk memastikan wanita dan anak perempuan memiliki akses penuh terhadap fasilitas pendidikan.

"Islam membebaskan wanita dari kebiasaan bodoh yang merampas hak-hak mereka dan sebagai manusia yang tidak sempurna yang tidak memiliki kehendak bebas,” kata Sheikh Ahmed el-Tayeb dalam sebuah posting Selasa di Twitter pada kesempatan Hari Anak Perempuan Internasional, dilansir di abna24.com, Rabu (13/10).

“Pada 'Hari Anak Perempuan Internasional', kami menyerukan semua tindakan yang diperlukan untuk menjamin anak perempuan dan wanita muda mengenai hak mereka yang dilindungi oleh Islam terkait pendidikan dan martabatnya,” tambah dia.

Pesan itu muncul di tengah laporan bahwa pemerintah Afghanistan saat ini telah membatasi akses wanita dan anak perempuan atas pendidikan di tahun ajaran baru di Afghanistan.

Pada Selasa, (12/10), Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres juga mengimbau Taliban untuk berhenti melanggar janji mereka untuk mengizinkan perempuan bekerja dan anak perempuan memiliki akses ke pendidikan.

Guterres menunjuk janji-janji Taliban sejak pengambilalihan kekuasaan untuk melindungi hak-hak perempuan, anak-anak, komunitas minoritas dan mantan pegawai pemerintah terutama kemungkinan perempuan bekerja dan anak perempuan bisa mendapatkan pendidikan yang sama dengan anak laki-laki.

“Saya sangat khawatir melihat janji yang dibuat untuk perempuan dan anak perempuan Afghanistan oleh Taliban dilanggar,” kata dia.

Guterres juga menekankan bahwa kemampuan mereka untuk belajar, bekerja, memiliki aset, dan untuk hidup dengan hak dan martabat akan menentukan kemajuan.

Taliban menguasai sebagian besar Afghanistan ketika pasukan AS dan NATO berada di tahap akhir penarikan mereka yang kacau dari negara itu setelah 20 tahun. Mereka memasuki ibu kota, Kabul, pada 15 Agustus tanpa perlawanan dari tentara Afghanistan atau presiden negara itu, Ashraf Ghani, yang melarikan diri. [yy/republika]