21 Rabiul-Awal 1443  |  Rabu 27 Oktober 2021

basmalah.png

Wajah Baru Xinjiang dan Uighur, Jadi Sorotan Objek Wisata

Wajah Baru Xinjiang dan Uighur, Jadi Sorotan Objek Wisata

Fiqhislam.com - Kawat berduri yang melilit gedung-gedung publik di Xinjiang, barat laut China hampir semuanya hilang. Kamera pengintai sudah terlihat dan pemandangan remaja laki-laki Uighur tampak bersama gadis Uighur sambil bermain musik dan berdansa. Kendali China atas kelompok Uighur kini memasuki era baru.

Pihak berwenang China telah mengurangi aspek kejam. Kepanikan yang mencengkeram wilayah itu beberapa tahun lalu telah mereda dan rasa normal kembali hadir. Aktivis Uighur di luar negeri menuduh China telah melakukan genosida dengan menunjukkan penurunan angka kelahiran dan penahanan massal. Namun, pihak berwenang menyebut tujuan mereka bukan menghilangkan Uighur melainkan mengintegrasi mereka dan mengekang ekstremisme. Sebagai gantinya, pihak berwenang membuat versi baru yang siap dikomersialisasi.

Pejabat Xinjiang membawa The Associated Press (AP) dalam tur Grand Bazaar di pusat Urumqi. Di sana, ada pria Uighur berjenggot dan instrumen Uighur raksasa. China telah lama berjuang untuk mengintegrasikan Uighur, kelompok Muslim dengan 13 juta orang yang memiliki ikatan bahasa, etnis dan budaya dekat dengan Turki.

Sejak Partai Komunis menguasai Xinjiang pada tahun 1949, para pemimpin telah memperdebatkan tindakan yang dinilai lebih efektif dalam menyerap wilayah yang luas. Selama beberapa dekade, kebijakan di Xinjiang berayun bolak-balik. Bahkan ketika negara memberikan manfaat khusus kepada minoritas, seperti mempekerjakan kuota dan poin ekstra pada ujian masuk, rasisme dan pembatasan agama membuat marah banyak orang Uighur.

Semakin keras pemerintah berusaha mengendalikan orang-orang Uighur, semakin banyak yang berpegang teguh pada identitas mereka. Ratusan warga sipil tak berdosa, baik Han China dan Uighur, tewas dalam serangan yang mematikan. Perdebatan berakhir setelah Presiden Xi Jinping naik ke tampuk kekuasaan pada tahun 2012. Negara memilih asimilasi paksa, menahan ribuan orang Uighur dan minoritas lainnya tanpa pandang bulu dan mencap mereka sebagai tersangka teroris.

Hari ini, banyak pos pemeriksaan dan kantor polisi hilang dan pengeboman telah berhenti, tetapi perbedaan ras tetap jelas. Uighur hidup terperangkap dalam sistem tak kasat mata yang membatasi setiap gerakan mereka. Sementara itu, Uighur yang tinggal di luar Xinjiang harus mendaftar ke polisi setempat dan melapor ke petugas secara teratur. Pergerakan mereka dilacak dan dipantau. Banyak orang Uighur yang tinggal di Xinjiang tidak diizinkan meninggalkan wilayah tersebut.

Informasi tentang Xinjiang di China sangat disensor dan media pemerintah sekarang mempromosikan kawasan itu sebagai tujuan wisata yang aman dan eksotis. Di Xinjiang, orang Tionghoa Han dan Uighur hidup berdampingan. Di pinggiran kota Kashgar, seorang wanita Han di toko mengatakan kepada AP kebanyakan orang Uighur tidak diizinkan pergi jauh dari rumah mereka.

Dilansir Daily Sabaah, Senin (11/10), kontrol terlihat lebih ketat di pedesaan, jauh dari pasar yang ingin dilihat oleh pemerintah. Di satu desa, ada seorang pria Uighur tua dengan kopiah persegi yang mengatakan dia dan orang Uighur lain tidak terinfeksi virus korona dan semuanya dalam keadaan baik. Kontrol terhadap aktivitas keagamaan telah mengendur, tetapi tetap terikat oleh negara.

Misal, pihak berwenang telah mengizinkan beberapa masjid untuk dibuka kembali, meskipun jamnya sangat terbatas. Kelompok-kelompok kecil jamaah lansia berhamburan keluar masuk. Aspek yang paling banyak dikritik dari tindakan keras Xinjiang adalah pusat pelatihan yang menurut dokumen bocor merupakan kamp indoktrinasi di luar hukum. Setelah protes global, para pejabat China menyatakan kamp-kamp itu ditutup pada 2019.

Dalam tur yang dilakukan pada April, pihak berwenang membawa tim AP ke tempat yang mereka katakan dulunya adalah pusat pelatihan. Sekarang telah berubah menjadi sekolah kejuruan reguler di Kabupaten Peyzawat. Tiga lokasi lain yang dulunya tampak seperti kamp kini menjadi apartemen atau kompleks perkantoran. Tetapi sebagai gantinya, fasilitas penahanan permanen telah dibangun, dalam sebuah gerakan nyata dari kamp darurat ke sistem penahanan massal yang tahan lama.

Di Urumqi, pada pameran anti-terorisme di kompleks modernis, pihak berwenang China telah menulis ulang sejarah. Para pejabat menghindari pertanyaan tentang jumlah orang Uighur yang ditahan, meskipun statistik menunjukkan lonjakan luar biasa dalam penangkapan sebelum pemerintah berhenti membebaskan mereka pada tahun 2019. Sebaliknya, mereka mengaku telah merancang solusi sempurna untuk terorisme dan melindungi budaya Uighur daripada menghancurkannya. [yy/ihram]

 

 

Tags: Xinjiang | Uighur