14 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 21 Oktober 2021

basmalah.png

Pangeran Arab Saudi: Syariat Islam Versi Taliban Bukan Interpretasi Wahabi

Pangeran Arab Saudi: Syariat Islam Versi Taliban Bukan Interpretasi Wahabi

Fiqhislam.com - Pangeran senior Arab Saudi , Turki al-Faisal, menolak praktik Syariat Islam di negaranya disamakan dengan yang dipraktikkan Taliban di Afghanistan. Menurutnya, hukum yang diadopsi penguasa baru Afghanistan itu bukan interpretasi Wahabi.

Pangeran Turki al-Faisal adalah mantan kepala dinas intelijen Arab Saudi. Selama jadi bos mata-mata, dia berusaha dengan waktu yang sangat luar biasa untuk menjauhkan dirinya dan Arab Saudi dari peran apa pun dalam kebangkitan gerakan Taliban di Afghanistan.

Dia mengundurkan diri sepuluh hari sebelum serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat (AS) yang dikenal sebagai serangan 9/11.

Serangan itulah yang jadi dalih AS menginvasi Afghanistan karena menyembunyikan pemimpin al-Qaeda Osama bin Laden. Invasi itu telah menggulingkan rezim Taliban.

Menurut Pangeran Faisal, hukum yang diadopsi Taliban lebih cenderung pada mazhab Deobandi dan sama sekali berbeda dari Muhammad ibn Abd al-Wahhab, pendiri aliran Wahabi yang dianut Arab Saudi.

Pangeran Faisal menyampaikan hal itu pada 22 September 2021, selama pertemuan Royal Society of Asian Affairs di London, untuk menandai peluncuran bukunya "The Afghanistan File" yang diedit oleh Michael Field.

Pendapat Pangeran Faisal itu merupakan upaya untuk menghilangkan kesalahpahaman umum yang mengeklaim bahwa al-Qaeda dan Taliban terinspirasi oleh Wahabisme.

"Ada banyak referensi, baik di media atau di buku-buku ilmiah yang mengeklaim bahwa ada pengaruh Wahabi terhadap Taliban. Namun, bukan ini yang terjadi," katanya, seperti dilansir dari Arab Weekly, Kamis (30/9/2021).

"Secara ideologis, Taliban memiliki pandangan yang berbeda,” ujarnya."Ideologi Deobandi terus menentukan visi kelompok tersebut hingga hari ini.”

Deobandi adalah mazhab Islam India yang memadukan pemikiran Salafi yang ketat dan tasawuf, yang menjadikannya sasaran kritik oleh banyak gerakan Sunni Arab. [yy/sindonews]