13 Rabiul-Awal 1443  |  Rabu 20 Oktober 2021

basmalah.png

Kegagalan Institusi Agama Inggris Tangani Pelecehan Anak

Kegagalan Institusi Agama Inggris Tangani Pelecehan Anak

Fiqhislam.com - Sebuah penyelidikan yang menyelidiki pelecehan seksual anak di berbagai organisasi dan lingkungan keagamaan di Inggris pada Kamis (2/9) menemukan hal mengejutkan. Temuan ini menunjukkan kegagalan dalam berapa banyak agama yang menangani tuduhan pelecehan, dengan menyalahkan korban dan penyalahgunaan kekuasaan oleh para pemimpin agama.

Penyelidikan Independen tentang Pelecehan Seksual Anak menyelidiki perlindungan anak di 38 organisasi keagamaan di Inggris dan Wales, termasuk Saksi-Saksi Yehuwa, Baptis, Metodis, Islam, Yudaisme, Hindu, Sikhisme, dan denominasi Kristen non-konformis. Penyelidikan ini mengambil bukti dari dua minggu dengar pendapat publik yang diadakan awal tahun ini.

Hasil dari penyelidikan ini mengutip angka-angka yang menunjukkan bahwa dari 2015 hingga 2020, semua institusi yang dikenal di mana pelecehan telah dilaporkan, 11 persen terjadi di dalam organisasi atau lingkungan keagamaan. Sekitar 10 persen tersangka dipekerjakan oleh atau terkait dengan suatu agama.

Tapi penyelidikan mengatakan kemungkinan banyak yang tidak dilaporkan. Bukti yang didengarnya tidak diragukan lagi bahwa pelecehan seksual terhadap anak-anak terjadi dalam berbagai latar agama.

Beberapa pengaturan agama tidak memiliki kebijakan perlindungan anak. Saat ini tidak ada atau sangat terbatas pengawasan perlindungan anak dalam organisasi keagamaan.

"Pemeluk agama dapat merasa sulit untuk menerima bahwa anggota jemaat atau pemimpin agama mereka dapat melakukan pelecehan," kata laporan itu.

Penelitian ini menyatakan, akibat kondisi itu, beberapa orang menganggap bahwa tidak perlu memiliki prosedur perlindungan anak khusus atau mematuhinya secara ketat. Laporan tersebut mengutip contoh termasuk empat korban yang mengalami pelecehan seksual ketika mereka berusia sekitar sembilan tahun ketika diajari Alquan oleh seorang guru di sebuah masjid. Guru itu dihukum pada 2017.

Dalam contoh lain, seorang anak laki-laki dilecehkan oleh seorang pemimpin terkemuka dalam sebuah organisasi evangelis yang terhubung dengan United Reformed Church di kamp sekolah Minggu dan tempat-tempat lain dari usia tujuh hingga 10 tahun. Pelaku divonis pada 2017, beberapa dekade setelah pelecehan terjadi.

Laporan itu datang setelah penyelidikan sebelumnya ke gereja-gereja Anglikan dan Katolik Roma yang merinci pelecehan yang meluas. Penyelidikan yang berlangsung lama dengan mendengar dari ribuan korban. Proses ini menyelidiki tuduhan pelecehan yang terkait dengan lembaga pemerintah dan anggota parlemen Inggris. Laporan akhirnya diharapkan akan ditunjukkan ke Parlemen tahun depan. [yy/ihram]