12 Rabiul-Awal 1443  |  Senin 18 Oktober 2021

basmalah.png

Liga Arab dan OKI Kecam Keretakan Diplomatik Aljazair-Maroko

Liga Arab dan OKI Kecam Keretakan Diplomatik Aljazair-Maroko

Fiqhislam.com - Perselisihan antara Aljazair dan Maroko yang berujung pada pemutusan hubungan diplomatik disayangkan sejumlah pihak. Organisasi Kerjasama Islam (OKI), Liga Arab dan sejumlah negara Timur Tengah meminta keduanya duduk satu meja untuk menyelesaikan perselisihan tersebu

OKI , Liga Arab dan Arab Saudi menyerukan Aljazair dan Maroko untuk dialogguna menyelesaikan perselisihan diplomatik antara dua negara tetangga itu.

Aljazair pada Rabu kemarin telah memutuskan hubungan diplomatik dengan Maroko karena tindakan bermusuhan. Pengumuman itu dikeluarkan setelah ketegangan yang bangkit kembali di antara dua yang bersaing di Afrika Utara itu berbulan-bulan.

"OKI menyerukan dialog untuk menyelesaikan segala kemungkinan perbedaan," sebuah pernyataan dikeluarkan organisasi yang berbasis di Jeddah itu seperti dikutip dari AFP, Kamis (26/8/2021).

Seruan yang sama juga dikeluarkan oleh Arab Saudi.

"Arab Saudi meminta kedua negara untuk memprioritaskan dialog untuk membantu mencapai keamanan dan stabilitas," bunyi pernyataan yang dikeluarkan Kementerian Luar Negeri Arab Saudi.

Sementara itu Sekretaris Jenderal Liga Arab Ahmed Aboul Gheit mendesak kedua negara untuk menahan diri dan menghindari eskalasi lebih lanjut dalam sebuah pernyataan.

Seruan untuk menahan diri juga datang dari Libya melalui Kementerian Luar Negerinya. Libya, yang berbatasan dengan Aljazair, mengatakan sangat menyesali memburuknya hubungan kedua negara dan meminta mereka menahan diri.

Tripoli juga menyerukan pembicaraan regional di sela-sela pertemuan Liga Arab berikutnya, yang dijadwalkan pada 7-9 September di Kairo, Mesir.

Aljir telah lama berselisih dengan Rabat khususnya terkait wilayah Sahara Barat. Daerah bekas jajahan Spanyol itu dipandang Maroko sebagai bagian integral dari wilayahnya, tetapi Aljir telah mendukung gerakan kemerdekaan Polisario.

Persaingan mereka memasuki babak baru tahun lalu ketika Presiden Amerika Serikat kala itu Donald Trump mengakui kedaulatan Maroko atas wilayah Sahara Barat sebagai imbalan untuk normalisasi hubungan Maroko dengan Israel.

"Bagi Aljazair, itu sama dengan Rabat memperkenalkan kekuatan militer asing ke Maghreb," kata Menteri Luar Negeri Ramtane Lamamra.

Kementerian luar negeri Maroko membalas dengan mengatakan langkah Aljazair sama sekali tidak dapat dibenarkan. [yy/sindonews]