21 Safar 1443  |  Rabu 29 September 2021

basmalah.png

Madzhab-Madzhab Islam Melebur di Masjid-Masjid Amerika

Madzhab-Madzhab Islam Melebur di Masjid-Masjid Amerika

Fiqhislam.com - Sebuah survei dilakukan oleh Institute for Social Policy and Understanding terhadap perkembangan masjid-masjid di Amerika Serikat. Survei yang dilakukan setiap 10 tahun itu menemukan, bahwa masjid-masjid di Amerika banyak yang memadukan pelbagai madzhab Islam, Maliki, Syafi'i, Hanafi, dan Hambali.

Dilansir dari Religion News Service (RNS), masjid Amerika kini menjadi lebih Amerika. Begitulah menurut Ihsan Bagby, yang telah menulis laporan untuk Institute for Social Policy and Understanding berdasarkan survei baru terhadap masjid-masjid Amerika. Laporan tersebut menemukan, bahwa masjid-masjid Sunni Amerika semakin menjadi tempat meleburnya tradisi, memadukan berbagai madzhab Islam.

Dalam banyak hal, pendekatan pluralistik ini menunjukkan kembalinya tradisi, misalnya mengenai peran laki-laki dan perempuan. Temuan dalam laporan tersebut menunjukkan bahwa masjid Amerika menghidupkan kembali posisi kepemimpinan tertentu bagi wanita di masjid, meskipun umum pada masa awal Islam, telah ditinggalkan.

"Para pemimpin masjid Amerika condong ke arah pemahaman Islam yang menganut dasar, sumber tekstual Islam (Qur'an dan Hadits) tetapi terbuka untuk interpretasi dengan melihat ke tujuan hukum Islam dan keadaan modern,” kata laporan itu, dilansir dari RNS, Rabu (4/8).

Studi ISPU dibangun berdasarkan wawancara langsung dan kuesioner standar. Penulis laporan tersebut berbicara langsung dengan ratusan pemimpin masjid dalam melakukan penelitian untuk laporan tersebut.

Di banyak negara di dunia Islam, satu madzhab akan mendominasi dan sementara imigran Amerika dari negara-negara tersebut mempertahankan praktik tersebut, masjid mereka sering mencampurkan tradisi untuk menarik banyak jemaah yang potensial.

Prinsip khusus dari madzhab dapat bervariasi, mulai dari detail tentang tatacara sholat, hingga tata cara kepemilikan hewan peliharaan. Daya tarik yang kuat terhadap perspektif madzhab tunggal, terutama di komunitas imigran campuran, dapat mematikan bagian dari jamaah, sedangkan pendekatan pan-madhab memungkinkan tren yang berbeda untuk berbaur bersama dalam kehidupan sehari-hari masjid.

“Anekdotnya, saya kenal seseorang yang menjadi pengurus sebuah masjid di Atlanta yang merasa harus mengingatkan semua orang bahwa itu bukan masjid Hanafi,” kata Bagby.

Menurut Bagby, masjid Hanafi dan Syafi'i adalah yang paling umum di Amerika. Namun, lanjutnya, masjid-masjid yang mengikuti madzhab Maliki sedang meningkat, karena migrasi baru-baru ini dari Afrika dan karena banyak mualaf Amerika tertarik pada interpretasi yang lebih fleksibel dari sejumlah praktik Islam.

Dalam praktik Islam tradisional, individu dapat memadukan tradisi sampai batas tertentu, tetapi dalam beberapa generasi terakhir, karena masjid telah berubah menjadi lembaga negara di banyak negara mayoritas Muslim, kepatuhan terhadap madzhab tertentu menjadi lebih ketat.

Di Amerika, sejumlah faktor kemungkinan telah memengaruhi praktik masjid. Laporan baru mencatat khususnya keterlibatan dalam politik serta peningkatan penggunaan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari dan praktik masyarakat.

Dalam survei institut tahun 2000, 53 persen masjid Amerika menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama untuk khutbah jumah; yang dibandingkan dengan 72 persen hari ini. Laporan itu juga mencatat 51 persen dari masjid yang disurvei menjadi tuan rumah seorang politisi untuk kunjungan atau pembicaraan.

Menurut Bagby, ini adalah tingkat keterlibatan politik yang lebih tinggi daripada gereja-gereja Kristen.

“Sejumlah besar masjid mendukung upaya seperti ini bukan karena alasan politik, melainkan karena mereka percaya mereka memajukan hubungan antara Muslim dan non-Muslim. Ini angka yang cukup besar dan mencerminkan perubahan itu,” katanya.

Studi ini menemukan bahwa sejumlah besar masjid terlibat dalam upaya lintas agama yang dirancang untuk membangun ikatan antara komunitas Muslim dan anggota kelompok agama lain. Laporan itu juga mencatat 67 persen masjid di Amerika Serikat memiliki perempuan yang bertugas di dewan mereka.

Ini menandai peningkatan yang patut dicatat dari edisi-edisi laporan sebelumnya yang menemukan bahwa hanya 50 persen masjid yang memiliki anggota dewan perempuan pada 2000 dan 59 persen pada 2010.

“Masjid Amerika lebih terintegrasi dari perspektif gender daripada masjid di tempat lain, seperti tidak memiliki pemisah antara area di mana muslim dan muslimah sholat dan tetapi masjid-masjid ini akan berpendapat bahwa praktik ini bukan inovasi melainkan kembali ke praktik yang berakar pada praktik Muslim paling awal,” kata Bagby. [yy/ihram]