14 Dzulhijjah 1442  |  Sabtu 24 Juli 2021

basmalah.png

Dikawal Pasukan Zionis, 1.200 Pemukim Israel Serbu Kompleks Masjid al-Aqsha

Media Israel: Kunjungan Umat Yahudi ke Temple Mount Bukan Menyerbu Masjid al-Aqsha

Fiqhislam.com - Lebih dari 1.000 pemukim Israel, dengan pengawalan pasukan Zionis, menyerbu masuk ke kompleks Masjid al-Aqsa di Yerusalem pada hari Minggu. Pemerintah Otoritas Palestina (PA) dan Yordania mengecam penyerbuan tersebut.

Dalam sebuah pernyataan, Departemen Wakaf Islam di Yerusalem mengatakan bahwa 1.210 pemukim masuk ke kompleks Masjid al-Aqsa melalui Gerbang Al-Mughrabi yang dikendalikan Israel, di barat daya masjid, dan melakukan ritual di dalam.

Menurut saksi mata, kelompok pemukim juga berusaha menyerbu kompleks tersebut melalui Gerbang Bab Huta dan Gerbang Raja Faisal tetapi diadang oleh jamaah Palestina.

Minggu pagi, pasukan Israel menutup semua pintu masuk dan gerbang ke kompleks Masjid Al-Aqsa. Kelompok pemukim Israel telah meminta para pendukungnya untuk memaksa masuk ke kompleks Masjid Al-Aqsa dalam jumlah besar pada hari Minggu untuk menandai apa yang mereka sebut "penghancuran kuil" di zaman kuno.

Apa yang disebut Sovereignty Movement in Israel [Gerakan Kedaulatan di Israel] juga bersiap untuk mengorganisir pawai untuk pemukim di sekitar tembok Kota Tua Yerusalem pada hari yang sama.

Pada hari Sabtu, ratusan pemukim melakukan pawai di Yerusalem Timur yang diduduki rezim Zionis menjelang penyerbuan yang direncanakan pada hari Minggu.

Masjid al-Aqsa adalah situs tersuci ketiga di dunia bagi umat Islam. Orang-orang Yahudi menyebut situs itu "Temple Mount", mengeklaim bahwa itu adalah situs dari dua kuil Yahudi di zaman kuno.

Israel menduduki Yerusalem Timur, tempat Masjid al-Aqsa berada, selama perang Arab-Israel 1967. Zionis mencaplok seluruh kota itu pada tahun 1980, dalam sebuah langkah yang tidak pernah diakui oleh masyarakat internasional.

Pada hari Minggu, Otoritas Palestina (PA) mengecam serangan pemukim Israel ke kompleks Masjid al-Aqsa di Yerusalem Timur dengan menyebutnya sebagai "eskalasi Israel yang berbahaya."

"Pemerintah Israel merusak keamanan dan stabilitas kawasan, dan menyeret kawasan itu ke dalam perang agama," kata juru bicara PA Nabil Abu Rudeineh dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh kantor berita resmi WAFA, Senin (19/7/2021).

Dia menyebut praktik Israel di Yerusalem yang diduduki sebagai "pemberontakan terhadap rakyat Palestina dan mengabaikan posisi internasional, terutama posisi Amerika," yang menuntut Israel untuk mempertahankan status quo di Yerusalem Timur.

Sementara itu, kecaman atas serbuan itu juga datang dari Yordania. "Tindakan Israel terhadap Masjid al-Aqsa ditolak dan dikutuk, dan merupakan pelanggaran terhadap status quo sejarah dan hukum dan hukum internasional," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Daifallah al-Fayez dalam sebuah pernyataan.

Menurut juru bicara itu, Amman telah mengirim surat protes resmi ke Israel menuntut penghentian pelanggaran dan provokasi Israel terhadap kesucian masjid.

"Kompleks Masjid al-Aqsa adalah murni situs ibadah Muslim dan Departemen Wakaf Islam yang dikelola Yordania adalah badan eksklusif untuk mengawasi situs tersebut," imbuh dia. [yy/sindonews]