16 Dzulhijjah 1442  |  Senin 26 Juli 2021

basmalah.png

Guru di Selandia Baru Sulit Cari Pekerjaan karena Berhijab

Guru di Selandia Baru Sulit Cari Pekerjaan karena Berhijab

Fiqhislam.com - Mazlinah Binte Haji Mohammad Noor, 55 tahun, terkejut dengan kenyataan sulitnya mencari pekerjaan sebagai guru di Selandia Baru. Padahal, di negara tersebut membutuhkan banyak tenaga pengajar.

Lebih dari 200 lamaran dikirimnya, namun Mazlinah, hanya memperoleh kesempatan lima kali wawancara, itupun bukanlah pekerjaan tetap. Suaminya, yang merupakan warga negara Selandia Baru, David Blocksidge percaya ada masalah yang dihadapi istrinya.

David meminta istrinya untuk bertanya mengapa lamarannya diacuhkan oleh sekolah-sekolah. Ia menyimpulkan ada kemungkinan istrinya menjadi korban Islamofobia.

Mazlinah yang mengenakan hijab mengaku pernah diacuhkan dalam salah satu sesi wawancara."Saya mencoba untuk tenang dan profesional, tapi saya merasa sudah dinilai dari nama dan apa yang saya kenakan,"kata dia seperti dilansir Newstalkzb, Ahad (18/7).

Mazlinah merupakan lulusan Jepang dan Inggris untuk gelar bahasa dan sastra Inggris. Ia juga memperoleh sertifikat mengajar dan menjadi guru terdaftar di Selandia baru. Di negeri kelahirannya Singapura, Mazlinah telah mengajar selama 20 tahun. Kemudian ia pindah ke Auckland pada 2009. Pada saat itu, Auckland alami kekurangan guru.

Namun, sepanjang kepindahannya ke Auckland, ia hanya memperoleh waktu mengajar di Sekolah Al-Madinah, sekolah Islam terpadu di Auckland pada 2010. Pada 2017 ia memutuskan pindah ke Wellington. Di kota inilah, Mazlinah kesulitan mendapatkan pekerjaan.

"Saya menyimpan catatan email dan lamaran serta penolakan. Saya melihat ada masalah. Anda tidak mungkin mengirimkan lamaran sebanyak itu tanpa ada wawacara,"kata dia.

"Jelas ini adalah bias dan Islamofobia. Namun sulit saya buktikan, seperti sebuah lubang, Anda tidak bisa melihatnya ke dalam, namun padahal bentuknya sama,"katanya.

Mazlinah telah menjadi warga negara Selandia Baru pada 2015. Ia mengaku lelah dengan apa yang dialaminya.

"Saya sudah mencoba mengubah namanya menjadi Mazlina Blocksidge, tapi saya tidak bisa mengubah nama Muslim saya di sertifikat dan lisensi mengajar,"kata dia.

"Saya kecewa, kepercayaan diri saya hancur, saya hanya bisa bertanya apa yang terjadi dengan saya,"

Profesor Keberagaman Universitas Auckland, Edwina Pio mengatakan banyak umat Islam mencintai tempat di mana mereka tinggal. Namun, mereka akan menghadapi beban Islamofobia.

"Perlu diketahui, Islam kerap digambarkan negatif, kontras dengan etimologinya yang berarti perdamaian,"katanya. Menurutnya, ketakutan terhadap perbedaan menjadi motif banyaknya penolakan. [yy/republika]