9 Safar 1443  |  Jumat 17 September 2021

basmalah.png

Kota Launceston dengan Pertumbuhan Muslim Pesat tanpa Masjid

Kota Launceston dengan Pertumbuhan Muslim Pesat tanpa Masjid

Fiqhislam.com - Bagi keluarga Seleem, pindah dari Brisbane ke Launceston di Utara Tasmania, Australia dua tahun lalu Adalah pilihan sulit. Namun keputusannya ini ternyata sepadan dengan tantangannya.

"Saya pikir Launceston adalah tempat yang bagus untuk membesarkan keluarga, orang-orang di sini benar-benar baik, ke mana pun Anda pergi. Saya pikir itu mungkin keputusan terbaik yang pernah kami buat," kata Mostafa Seleem dilansir dari ABC News, Rabu (7/7).

Seleem adalah seorang spesialis medis yang bekerja di Rumah Sakit Umum Launceston dan istrinya Mariam Eissa adalah seorang insinyur listrik. Mereka punya empat anak yang semuanya berusia di bawah enam tahun dan menjadi keluarga yang sibuk. Tetapi keluarga tersebut menikmati kehidupan di Tasmania.

"Di sini lebih damai, sepi, tidak ada lalu lintas jadi kami menghabiskan lebih banyak waktu sebagai keluarga," kata istri Mostafa, Eissa.

Tetapi satu aspek kehidupan mereka telah berubah secara dramatis sejak pindah. Meskipun saat di Brisbane, keluarga itu tinggal tepat di sebelah masjid.

“Ketika kami datang ke sini, hal pertama yang kami tanyakan adalah apakah ada pusat komunitas, masjid tempat kami bisa pergi dan bertemu orang-orang. Ketika kami mendengar tidak ada [masjid di Launceston], itu adalah berita yang menghancurkan,” kata Seleem.

Populasi Islam Tasmania tumbuh, dan berkembang

Asosiasi Muslim Tasmania memperkirakan populasi Muslim meningkat lebih dari dua kali lipat sejak sensus terakhir pada 2016, yang menemukan ada 2.498 orang Muslim di Tasmania. Tetapi negara bagian hanya memiliki satu masjid, yaitu di Hobart.

“Ketika kami datang ke sini, anak-anak mulai bertanya kapan kami akan mengunjungi masjid,” kata Eissa.

Komunitas berdoa di ruang universitas kecil

Warga lain, Bart Idris pindah ke Tasmania dari Malaysia sembilan tahun lalu dan menikmati bekerja di pertanian di Deloraine. "Ada banyak keramaian di rumah, kemacetan lalu lintas di mana-mana, [Tasmania] adalah tempat yang cukup bagus dan tenang untuk ditinggali," katanya.

Dia adalah salah satu dari banyak orang yang datang ke sebuah ruangan kecil di Universitas Tasmania di Newnham untuk sholat Jumat. Beberapa orang datang dari St Helens di pantai timur, sekitar 160 kilometer atau lebih dari dua jam perjalanan, untuk berdoa di universitas. Tapi ruangannya terlalu kecil untuk komunitas yang sedang berkembang ini.

Rabiul Islam, seorang dosen di universitas tersebut, mengatakan dia telah melihat komunitas Islam berubah secara dramatis dalam delapan tahun terakhir. "Saya datang pada tahun 2013 dan pada waktu itu kami memiliki sekitar 40 hingga 50 keluarga. Sekarang kami memiliki 500 keluarga, jadi tidak mungkin ruang ini cukup," katanya.

Komunitas Islam di Launceston telah menandatangani kontrak untuk sebuah bangunan di Kings Meadows, yang mereka harap akan segera menjadi masjid pertama di kawasan itu. Seleem mengatakan masjid akan menjadi titik berkumpul bagi masyarakat, dan akan bermanfaat bagi wilayah secara keseluruhan.

"Salah satu alasan utama orang ingin datang dan tinggal secara permanen, terutama orang-orang yang sangat terampil, adalah jika ada pusat komunitas. Masyarakat lokal akhirnya akan memiliki tempat di mana mereka dapat bertemu, menyapa, bersosialisasi, dan berbicara satu sama lain, tempat di mana mereka dapat berada. Komunitas Muslim memiliki nilai-nilai besar, orang-orang hebat dan banyak hal untuk ditawarkan," kata Saleem.

Eissa mengatakan penggalangan dana sekarang sedang berlangsung untuk membayar bangunan dan berharap masjid bisa dibuka sebelum akhir tahun. "Saya terus berkeliling gedung dengan anak-anak dan menunjukkan kepada mereka apa yang akan menjadi masjid, dan mereka tidak sabar menunggu sampai masjid dibuka," katanya. [yy/ihram]