29 Rabiul-Akhir 1443  |  Sabtu 04 Desember 2021

basmalah.png

Dunia Harus Akui Islamofobia adalah Bentuk Rasialisme

Dunia Harus Akui Islamofobia adalah Bentuk Rasialisme

Fiqhislam.com - Saat kebijakan anti-Islam bangkit dan suara Muslim dibungkam, edisi terakhir jurnal akademis terkemuka di Turki bernama Insight Turkey memperlihatkan praktik anti-Islam tengah berlangsung di seluruh dunia.

Edisi tersebut memuat artikel-artikel yang berfokus pada praktik anti-Islam politik, ekonomi, sosial dan budaya di berbagai negara. Contohnya di Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Italia, Austria, Denmark, Argentina, India, dan Turki. Ini menunjukkan sentimen anti-Islam tidak hanya terjadi di negara barat.

Ada beberapa parameter yang menentukan bangkitnya sentimen anti-Islam di dunia, seperti yang ditulis oleh Muhittin Ataman di kolom Daily Sabah, Rabu (30/6).

Muslim sebagai yang lain

Setelah Perang Dingin dan runtuhnya Uni Soviet, politikus Barat mulai menganggap Islam dan Muslim sebagai hal lain dalam dunia Barat. Meskipun Islam dan Muslim tidak menimbulkan ancaman nyata bagi Barat dan dunia, pemerintah Barat terus mempolitisasi dan meminggirkan Islam dan Muslim sebagai musuh utama mereka.

Selain itu, negara-negara non-Barat memiliki alasan sendiri atas pembatasan Islam dan Muslim. Misal, China dan India meminggirkan Islam dan Muslim dengan alasan yang berbeda.

Di India, Muslim merupakan populasi terbesar kedua. Jumlahnya sekitar 200 juta orang. Anak benua India terbelah menjadi tiga bagian saat kaum Muslim meminta negaranya sendiri, yaitu Pakistan dan Bangladesh.

Konflik India dan Pakistan tentang hegemoni regional dan krisis Kashmir sudah berlangsung lama. Oleh karena itu, politikus India cenderung meminggirkan Islam dan Muslim. Di sisi lain, rezim personalistik di dunia Arab, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Mesir meminggirkan Islam dan Muslim agar dapat mempertahankan rezim despotik mereka.

Karena kepentingan negara-negara Barat yang ingin mempertahankan hubungan hierarkisnya, banyak negara Arab meminggirkan Islam dan Muslim. Satu-satunya perbedaan antara rezim Arab dan negara-negara Barat adalah rezim Arab mengizinkan representasi Islam dalam kehidupan sosial.

Efek migrasi

Sebagian besar negara Muslim, terutama di Timur Tengah harus menghadapi perang saudara, ketidakstabilan politik, dan perampasan ekonomi. Ini menyebabkan banyak dari warganya bermigrasi ke negara lain berharap adanya kehidupan yang lebih baik.

Salah satu tujuan pertama mereka adalah negara-negara di Eropa. Dalam perkembangannya, Islam sebagai agama dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Islam saat ini menjadi agama terbesar kedua di banyak negara Eropa.

Banyak dari kalangan Muslim mulai muncul di berbagai bidang masyarakat dan terlibat dalam politik domestik. Namun, beberapa negara Eropa menganggap penyebaran Islam dan peningkatan Muslim sebagai ancaman terhadap cara hidup dan politik mereka.

Salah satu bentuk rasialisme

Alasan utama kebangkitan praktik anti-Islam di dunia adalah munculnya xenofobia, rasialisme dan ultranasionalisme, serta sikap pemerintah Barat. Saat pemerintah Barat mengasingkan agama, negara, atau aktor politik apa pun, sebagian besar negara non-Barat juga melakukan hal serupa. Akibatnya, persepsi negatif Barat dan non-Barat tentang Islam sepenuhnya dibangun secara politis.

Namun, baru-baru ini Islam dan Muslim telah menjadi sasaran di negara-negara Barat setiap hari. Muslim yang tidak bersalah yang tinggal di negara-negara Barat sering diserang oleh tindakan rasialis. Untuk mengakhiri situasi ini, negara-negara Eropa dan lembaga-lembaga Uni Eropa perlu mengakui sikap anti-Islam sebagai bentuk rasialisme.

Mirip dengan perspektif politik yang menargetkan semua anggota agama atau etnis, ideologi anti-Islam juga merupakan bentuk rasialisme dan harus ditentang. Pemerintah Barat dan non-Barat harus berhenti menganggap Islam dan Muslim bertanggung jawab atas masalah apa pun di dunia dan harus memerangi segala bentuk diskriminasi dan rasialisme. [yy/republika]