13 Rabiul-Awal 1443  |  Rabu 20 Oktober 2021

basmalah.png

Masjid-masjid Bersejarah di Mesir Menanti Penyelamatan

Masjid-masjid Bersejarah di Mesir Menanti Penyelamatan

Fiqhislam.com - Masjid-masjid bersejarah di Mesir menanti penyelamatan setelah sejumlah masjid kuno mengalami kerusakan. Masjid Sultan Hassan di Kairo, Mesir, sempat mengalami kerusakan pada bagian dari tutup kayu kubah air mancur untuk berwudhu yang ambruk pada 28 Mei 2021 lalu.

Kerusakan itu mendorong sekelompok arkeolog dan arsitek memeriksa air mancur tersebut dan memulai pekerjaan restorasi (pemulihan). Kepala Departemen Kepurbakalaan Islam, Koptik dan Yahudi di Dewan Tertinggi Kepurbakalaan, Osama Talat, mengatakan dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan di halaman Facebook Kementerian Luar Negeri Mesir bahwa bagian yang rusak itu bukan bagian dari tutup kayu asli yang direnovasi pada abad terakhir.

Komite Pelestarian Barang Antik Arab mengganti tutup asli yang bobrok dengan yang baru yang saat ini ada di masjid tersebut, setelah yang lama jatuh karena erosi dan seiring berlalunya waktu. Renovasi bagian penutup kayu modern yang rusak itu telah rampung pada 2 Juni lalu.

Selanjutnya ada Masjid Al-Rifai, yang terletak di seberang Masjid Sultan Hassan. Kaca di atas lampu gantung tembaga jatuh dari langit-langit aula megah masjid tersebut pada 11 Juni 2021. Tim pemulih kemudian segera dibentuk untuk memeriksa pecahan kaca dan memulai proses perbaikan.

Insiden berulang ini kembali memicu perdebatan tentang pengabaian masjid-masjid bersejarah di Mesir dan kurangnya pemeriksaan berkala. Belum lagi kasus pencurian yang mendorong anggota parlemen Ahmad Idris, anggota Komite Pariwisata dan Penerbangan parlemen, menyerukan pada 12 Juni lalu untuk pembentukan komite teknis yang terdiri dari arsitek, ahli dan arkeolog yang misinya untuk melestarikan masjid bersejarah.

"Masjid bersejarah harus berafiliasi hanya dengan Kementerian Pariwisata dan Purbakala, karena itu adalah satu-satunya pihak yang memiliki teknik yang tepat untuk menangani bangunan arkeologi, baik dalam hal restorasi atau pemeliharaan. Kementerian ini memiliki pengalaman untuk mengimplementasikan proyek-proyek ini (restorasi dan pemeliharaan) dan menempatkan masjid-masjid ini di peta tempat-tempat wisata di Mesir," kata Idris kepada Al-Monitor, dilansir Ahad (27/6).

Menurutnya, alasan di balik insiden berulang ini adalah karena sebagian besar masjid terletak di lingkungan populer, di mana penduduk biasanya tidak memiliki pengetahuan budaya tentang monumen arkeologi ini dan tidak tahu bagaimana cara melestarikannya. Selain itu, ada juga kekurangan pengawas khusus untuk menindaklanjuti dan menemukan kerusakan di masjid-masjid dan untuk menanggapi insiden semacam itu.

Direktur jenderal Departemen Riset, Kajian Arkeologi, dan Publikasi Ilmiah di Sinai Selatan yang berafiliasi dengan Kementerian Pariwisata dan Purbakala, Abdel Rahman Rihan, mengatakan tumpang tindih tugas antara kementerian pariwisata dan lembaga keagamaan menghalangi setiap upaya untuk melestarikan masjid arkeologi. Menurutnya. masjid arkeologi yang berafiliasi dengan Kementerian Wakaf setiap hari dikunjungi oleh inspektur barang antik selama jam kerja.

"Tetapi di luar jam kerja, kementerian juga harus bertanggung jawab atas segala kerusakan," kata Rihan.

Dia mengatakan, solusi untuk krisis kerusakan berulang di masjid-masjid bersejarah Mesir adalah dengan mengeluarkan undang-undang untuk melindungi masjid-masjid ini dengan sepenuhnya menempatkan mereka dalam perawatan Kementerian Pariwisata dan Purbakala tanpa tugas yang tumpang tindih dengan Kementerian Wakaf Agama, yang menurutnya peran yang seharusnya hanya terbatas pada bagian keagamaan dan penyelenggaraan ibadah.

Pada 11 Maret 2019, Menteri Pariwisata dan Purbakala Khaled al-Anani mengumumkan bahwa amandemen hukum dibuat untuk menyelamatkan masjid-masjid bersejarah yang juga tunduk pada Kementerian Wakaf pada saat yang bersamaan.

Menurut statistik Departemen Kepurbakalaan Islam, Koptik dan Yahudi dari Dewan Tertinggi Purbakala, Mesir memiliki 349 masjid arkeologi.

Seorang peneliti arkeologi, Moaz Lafi, menilai bahwa keadaan pengabaian dan kekacauan yang melanda masjid-masjid ini adalah karena kurangnya komite teknis pengawas untuk setiap masjid, yang bertanggung jawab untuk pekerjaan pengawasan dan restorasi.

Dia mengatakan, tutup kayu di Masjid Sultan Hassan telah diperbaiki oleh Komite Pelestarian Barang Antik Arab pada abad terakhir. Tetapi karena terkikis dan tanpa pengawasan atau inspeksi, sebagian dari penutup yang direstorasi itu terlepas pada Mei lalu.

Menurutnya, Kementerian Pariwisata dan Purbakala melakukan pekerjaan restorasi dalam beberapa hari tanpa memeriksa apakah seluruh penutup perlu diganti. Selain itu, kejadian lain di Masjid Al-Rifai menurutnya adalah akibat kelalaian yang menyebabkan sebagian kaca penutup lampu gantung itu jatuh.

"Harus ada laporan dan pemantauan berkala di dalam masjid-masjid ini, jika tidak, insiden berbahaya seperti ini akan terus terjadi," kata Lafi.

Dia mencatat bahwa tugas yang tumpang tindih antara dua kementerian pariwisata dan wakaf juga menjadi masalah. Belum lagi Kementerian Wakaf yang dikatakannya tidak memperhitungkan bahwa masjid-masjid ini adalah monumen arkeologi dan bukan hanya bangunan biasa, dan karenanya harus lebih berhati-hati dalam menanganinya.

"Para imam masjid-masjid ini hanya boleh diangkat setelah menerima pelatihan yang tepat tentang nilai sejarah dan arkeologi dari masjid-masjid ini, yang muncul di peta wisata Mesir. Itu sangat penting untuk melestarikannya," tambahnya. [yy/republika]