27 Dzulhijjah 1442  |  Jumat 06 Agustus 2021

basmalah.png

Kekhawatiran Muslim Bangladesh Karena Serangkaian "Penghilangan Paksa"

Kekhawatiran Muslim Bangladesh Karena Serangkaian "Penghilangan Paksa"

Fiqhislam.com - Sabiqun Nahar, seorang istri pendakwah Muslim dari Bangladesh yang terkenal, berbicara penuh harap hingga memohon agar dibantu supaya suaminya ditemukan. Perkataan itu diucapkannya saat sekelompok jurnalis menanyainya.

"Saya sangat mencintainya. Biarkan dia kembali padaku. Atau bawa aku ke dia," katanya, dilansir dari Turkish Radio and Television (TRT World), Jumat (18/6).

Afsanul Adnan, seorang dai Bangladesh yang dikenal sebagai Abu Taw Haa Muhammad Adnan hilang bersama tiga temannya sejak 10 Juni. Sejak kepergiannya, media sosial Bangladesh dibanjiri dengan banyak unggahan dan tweet. Ini menunjukkan pengkhutbah berusia 31 tahun itu mungkin telah menjadi korban dari serangkaian penghilangan paksa yang disponsori negara.

Selama seminggu terakhir, Nahar dengan panik berlari dari satu kantor polisi ke kantor polisi lainnya mencari suaminya, tetapi tidak berhasil. “Di mana saya akan mengajukan kasus? Kepada siapa saya akan mengajukan keluhan? Saya mulai lelah berjalan di sekitar kantor polisi. Tidak ada kantor polisi yang bertanggung jawab,” kata Nahar.

Nahar pergi ke kantor Cabang Detektif polisi dan Batalyon Aksi Cepat (RAB), angkatan polisi elite Bangladesh yang terkenal karena keterlibatan mereka dengan banyak penghilangan paksa di negara itu. Dia secara pribadi bertemu dengan kepala RAB yang mengatakan kepadanya mereka tidak menangkap Adnan.

Nahar bahkan menulis surat kepada Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina meminta intervensinya untuk menemukan suaminya. "Saya tidak tahu harus berbuat apalagi. Saya bahkan tidak tahu harus berkata apa saat konferensi pers. Saya hanya ingin suami saya kembali dengan selamat. Jika dia melakukan kejahatan, tolong tunjukkan dia ditangkap dan diadili di bawah hukum yang ada," katanya.

Juru Kampanye Asia Selatan Amnesty International Saad Hammadi mengatakan penghilangan dalam bentuk apa pun membingungkan bagi keluarga. “Pihak berwenang Bangladesh harus segera menyelidiki dan mendeteksi keberadaan Abu Taw Haa Muhammad Adnan dan ketiga sahabatnya. Jika mereka berada dalam tahanan negara, mereka harus segera dibebaskan atau didakwa dengan tindak pidana yang dapat dikenali,” katanya.

Menteri Dalam Negeri Bangladesh Asaduzzaman Khan Kamal pada Rabu mengatakan kepada media lembaga penegak hukum sedang menyelidiki hilangnya Adnan. "Kami menyadari situasi ini dan mencari petunjuk," katanya.

Namun, TRT World menghubungi setidaknya tiga kantor polisi dan menemukan tidak ada kemajuan dalam penyelidikan. Sebuah kantor polisi di bawah Polisi Metropolitan Rangpur (RPMP), sebuah kota di Utara sekitar 300 kilometer dari Dhaka tempat Adnan tinggal, baru saja mendaftarkan pengaduan tentang orang hilang", tetapi itu saja. Mereka belum memulai penyelidikan.

Nahar mengatakan dia berkomunikasi terakhir dengan Adnan melalui Whatsapp ketika dia membagikan lokasinya yang menunjukkan dia berada di Gabtoli Dhaka pada waktu itu. Beberapa saat sebelum menghilang, Adnan menelepon istrinya untuk memberi tahu dua orang yang mengendarai sepeda motor mengikuti mobilnya.

“Berdoalah untukku” adalah apa yang terakhir dia katakan kepada Nahar. Dua dari kantor polisi Darussalam dan Pallabi terletak di dekat Gabtoli Dhaka menolak mengajukan laporan orang hilang. Namun, petugas Kantor Polisi Darussalam Tofael Ahmed mengatakan kepada TRT World mereka telah memeriksa rekaman CCTV, tetapi sejauh ini tidak menemukan apa pun.

Asif Shibgat Bhuiyan, seorang blogger Bangladesh yang populer tentang isu-isu agama, mengatakan sulit untuk mengetahui kasus ini. “Sulit mengatakan apakah pemerintah sudah berbuat cukup karena kami bahkan tidak tahu sifat penculikan itu,” ujarnya.

Bhuiyan mengatakan fakta banyak kantor polisi tidak mau mengajukan kasus ini, bahkan istri korban penculikan harus memohon keadilan sangat disayangkan.

Tindakan keras terhadap kaum Islamis

Beberapa aktivis HAM yang berlokasi di Bangladesh mengisyaratkan hilangnya Adnan mungkin merupakan kasus baru-baru ini dari penghilangan paksa yang disponsori negara. Menurut Human Rights Watch (HRW), sejak 1 Januari 2009 hingga 31 Juli 2020, setidaknya 572 orang dilaporkan dihilangkan secara paksa oleh pasukan keamanan dan lembaga penegak hukum di Bangladesh.

Beberapa akhirnya dibebaskan atau secara resmi ditangkap atau ditemukan tewas oleh pasukan keamanan dan lembaga penegak hukum dalam apa yang disebut pertemuan "tembak-menembak". Banyak dari mereka bahkan tetap tidak diketahui.

Seorang aktivis Bangladesh yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan kepada TRT World bahwa Adnan, dalam beberapa videonya, mempublikasikan pemerintah saat ini membiarkan badan-badan intelijen India mencampuri urusan dalam negeri Bangladesh. Adnan juga memberikan ceramah video tentang banyak isu geopolitik internasional dan berbicara luas tentang propaganda anti-Islamisasi yang dilakukan dunia Barat.

Dalam sebuah video baru-baru ini, Adnan menyerukan persatuan semua Muslim dan berkata, “Kami akan bekerja untuk umat Islam. Kami adalah bagian dari keluarga. Tapi kami akan merebut Yerusalem dari Zionis."

“Ceramah-ceramah ini bisa memprovokasi aparat keamanan negara yang biasanya menunjukkan ketidakpedulian terhadap hukum ketika mereka menganggap seseorang sebagai ancaman potensial,” klaim aktivis hak asasi manusia itu.

Selain itu, pemerintah Bangladesh dalam beberapa bulan terakhir melakukan tindakan keras besar-besaran terhadap banyak dai Islam, terutama terhadap pengkhutbah Hefajat-e-Islam, sebuah kelompok Islam yang dengan cepat berubah dari platform advokasi Islam menjadi kelompok penekan politik.

Setidaknya 40 pemimpin kelompok mereka ditangkap karena keterlibatan dengan protes anti-Modi yang mengguncang Bangladesh pada akhir Maret. Akibatnya, spekulasi terus beredar Adnan mungkin diculik oleh negara sebagai bagian dari tindakan kerasnya terhadap kelompok Islamis.

“Saya berharap itu tidak terjadi,” kata blogger Bhuiyan. Tapi ini lagi yang terjadi ketika ada kurangnya kepercayaan antara pihak berwenang dan orang-orang. Setiap kegagalan membuka jalan bagi lebih banyak spekulasi dan teori konspirasi," ujarnya. [yy/republika]