27 Dzulhijjah 1442  |  Jumat 06 Agustus 2021

basmalah.png

Hubungan China dan Dunia Arab yang Telah Berabad-abad

Hubungan China dan Dunia Arab yang Telah Berabad-abad

Fiqhislam.com - Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk Arab Saudi Chen Weiqing menceritakan pengalamannya bekerjasama dengan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) dan menjadi perwakilan pertama Tiongkok untuk OKI. Dalam ceritanya kepada Arab News, Mantan Duta Besar Tiongkok untuk Irak ini mengatakakan sangat terkesan dengan hubungan antara China dan dunia Arab yang telah berlangsung selama berabad-abad.

“Ini merupakan kehormatan besar dan tanggung jawab besar bagi saya untuk memiliki kesempatan berkontribusi pada persahabatan China dan OKI,” tuturnya yang dikutip Republika dari Arab News, Rabu (16/6).

Persahabatan antara China dan dunia Islam, yang terlah berlangsung selama ribuan tahun adalah kekayaan spiritual yang berharga, ungkapnya. Lebih dari 2.000 tahun yang lalu, Cina mengirim utusan untuk mengunjungi Asia Barat selama Dinasti Han. Ibnu Batutah, seorang musafir Muslim yang hebat, mengunjungi beberapa kota di China, termasuk Quanzhou, Guangzhou, Hangzhou dan Beijing, pada abad ke-14. Begitu juga penjelajah Cina Zheng He, yang mengunjungi kota-kota Islam seperti Makkah, Aden, Mogadishu, Muscat dan lain-lain pada abad ke-15.

Menurutnya, toleransi dan keramahan adalah warisan budaya yang dimiliki oleh China dan dunia Islam. Keberadaan jalur sutra yang menghubungkan keduanya juga membuat pertukaran budaya semakin meningkat, seperti Masjid Niujie di Beijing, dibangun pada abad ke-10, yang telah menarik banyak minat wisatawan dari seluruh dunia karena gaya arsitekturnya yang menggabungkan budaya lokal China dan karakteristik Islam.

Lebih dari 50 universitas di China juga telah menawarkan kursus bahasa dan sastra Arab, dan beberapa bahkan memiliki lembaga penelitian khusus tentang budaya Islam.

“Semakin banyak anak muda Tionghoa yang ingin bergabung dalam membangun persahabatan dunia Islam-China. Pada saat yang sama, negara-negara Islam juga lebih mementingkan untuk menemukan, memahami, dan mempelajari Tiongkok,” ujar Mantan Wakil Direktur Jenderal Departemen Urusan Asia Barat dan Afrika Utara itu.

Pemerintah China, kata dia, telah mengundang delegasi dari OKI dan negara-negara anggotanya untuk mengunjungi daerah-daerah Muslim di Xinjiang pada banyak kesempatan. Xinjiang sendiri memiliki banyak kelompok etnis, termasuk Uighur, Han, Mongol, dan Hui, dengan ragam agama yang dianut seperti Islam, Budha, Kristen dan Taoisme, jelasnya.

Sejak 2010 hingga 2018, populasi etnis Uighur terus mengalami kenaikan hingga 25 persen, dari 10,2 juta menjadi 12,7 juta. Jumlah ini jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok etnis lainnya di Xinjiang, kata Weiqing, menambahkan bahwa klaim adanya praktek genosida di Xinjiang bertentangan dengan fakta yang terjadi di lapangan.

“Beberapa orang menghebohkan apa yang disebut “genosida” di Xinjiang, yang jelas bertentangan dengan fakta,” tegasnya.

Selain memastikan hubungan baik antara China dan negara-negara Islam, Mantan Sekretaris Ketiga Kedutaan Besar RRT di Tunisia ini juga menyinggung upaya bersama untuk memerangi pandemi yang telah melanda seluruh dunia termasuk Cina dan negara Islam.

“Dalam menghadapi pandemi, China dan dunia Islam telah bersatu dan saling membantu mengatasi virus tersebut. OKI mengeluarkan pernyataan yang mendukung upaya China memerangi penyakit virus corona (COVID-19). Setelah wabah awal dikendalikan, pemerintah pusat China, pemerintah daerah, perusahaan, organisasi non-pemerintah dan individu juga bekerja sama untuk mengambil bagian aktif dalam perang melawan epidemi di negara-negara Islam,” jelasnya.

“China telah menyediakan pasokan vaksin Covid-19 ke lebih dari 95 persen negara-negara Islam, termasuk semua anggota OKI Afrika, untuk mengatasi kekurangan dalam kapasitas dan distribusi produksi vaksin, dan meningkatkan aksesibilitas dan keterjangkauan vaksin di dunia Islam,” sambungnya, menambahkan bahwa China telah bekerjasama dengan banyak negara dalam penelitian, pengembangan, dan produksi vaksin.

Covid-19, kata dia, telah memaksa dunia untuk menyesuikan diri dengan pola hidup baru, New Normal, sejumlah persoalan lain seperti globalisasi terbalik (inverse globalization), unilateralisme dan proteksionisme juga membawa beban baru bagi masyarakat. Meski berada di era perubahan besar, dia memastikan bahwa Cina akan terus berupaya membangun perdamaian dan membantuk negara-negara berkembang untuk mengatasi dampak pandemi.

“Ke depan, kami akan terus bekerja dengan dunia Islam untuk menegakkan iman persahabatan, melabuhkan esensi pembangunan, bersama-sama menghadapi tantangan, secara aktif membangun masa depan bersama, dan memulai perjalanan baru untuk pengembangan hubungan persahabatan,” pungkasnya. [yy/republika]