14 Safar 1443  |  Rabu 22 September 2021

basmalah.png

Polisi Uzbekistan Paksa Muslim Cukur Jenggot

Polisi Uzbekistan Paksa Muslim Cukur Jenggot

Fiqhislam.com - Polisi di kota Angren di timur Uzbekistan dilaporkan memaksa puluhan Muslim mencukur jenggot mereka. Praktik di negara Asia Tengah tersebut menuai kritik dari organisasi hak domestik dan internasional selama bertahun-tahun.

Seorang penduduk kota mengatakan kepada RFE/RL, Selasa (8/6), bahwa sehari sebelumnya ia dipanggil ke kantor polisi di mana dia dan puluhan pria lainnya dipaksa mencukur jenggot mereka. Ia mengatakan polisi memperingatkan jika mereka menolak mencukur jenggot, polisi akan melakukannya dengan paksa.

Polisi juga mengambil foto mereka sebelum dan sesudah jenggot dicukur. Menurut warga tersebut, kampanye antijenggot ini telah berlangsung selama beberapa hari.

"Semua pria yang dipanggil ke polisi dan dipaksa mencukur jenggot mereka adalah Muslim yang taat. Ketika kami mencoba memprotes, menuntut untuk menunjukkan kepada kami undang-undang yang melarang jenggot, polisi mengatakan 'jenggot Anda berbeda dari yang dimiliki pria lain dan Anda terlihat berbeda'," kata seorang warga di kota Angren, dilansir di laman Blueprint, Jumat (11/6).

Pria lainnya mengatakan mereka yang mencoba menolak bercukur diperingatkan akan didakwa dengan alasan ketidaktaatan kepada polisi. Karena itu, menurutnya, tidak ada cara lain bagi mereka selain mengikuti perintah polisi.

Namun demikian, belum ada komentar dari pejabat polisi kota Angren mengenai hal tersebut. Sebelumnya, sudah ada banyak laporan dalam beberapa tahun terakhir tentang polisi yang mengkhususkan pria dengan janggut panjang di Uzbekistan.

Kampanye tersebut dipresentasikan oleh para pejabat sebagai upaya memerangi radikalisme di negara dengan akar dan tradisi Islam yang dalam itu. Bulan lalu, sebuah video beredar di Internet yang diduga menunjukkan seorang pejabat polisi di kota timur Namangan menginstruksikan bawahannya memilih pria berjanggut dan memaksa mereka mencukur. Polisi mendokumentasikan prosesnya, mengambil gambar pria sebelum dan sesudah bercukur.

Namun, pihak berwenang membantah laporan tersebut. Mereka mengatakan dalam beberapa kasus warga diminta mencukur jenggot agar memiliki penampilan yang sesuai dengan foto mereka dalam dokumen identifikasi. Ketua kelompok hak asasi manusia Ezgulik (Welas Asih) yang berbasis di Tashkent, Abdurakhman Tashanov mengatakan organisasinya mencatat banyak kasus di mana polisi memaksa Muslim mencukur jenggot mereka.

"Memiliki jenggot adalah masalah pribadi dan adalah keliru untuk menganiaya seseorang atau memaksa seseorang bercukur. Namun, di negara kami, jenggot dianggap sebagai tanda radikalisme dan pria berjenggot diperlakukan dengan prasangka," kata Tashanov.

Dua tahun lalu, Shuhrat Ganiev yang saat itu menjabat sebagai gubernur wilayah timur Ferghana menolak memberikan pinjaman kepada petani lokal hanya karena dia memiliki jenggot. Pada 2016, penggemar sepak bola dengan jenggot tidak diizinkan masuk ke stadion di kota Bukhara dan polisi menginstruksikan mereka bercukur sebelum menyaksikan pertandingan.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada Juni 2020, Uzbekistan terus membatasi kebebasan beragama dengan memaksa umat Islam mencukur jenggot mereka dan melarang mengenakan jilbab di sekolah dan kantor. [yy/republika]