20 Rabiul-Awal 1443  |  Selasa 26 Oktober 2021

basmalah.png

House of One: Masjid, Gereja dan Sinagoga Bersatu di Berlin

House of One: Masjid, Gereja dan Sinagoga Bersatu di Berlin

Fiqhislam.com - Sekelompok Muslim, Yahudi dan Kristen bergabung pada Kamis (27/5) untuk meletakkan batu fondasi. Mereka akan membangun sebuah tempat yang menjadi tempat beribadah bersama.

Beberapa hari setelah protes di Berlin atas konflik antara Israel dan Palestina di Gaza, dan pada saat para politisi memperingatkan meningkatnya antisemitisme di Jerman, "House of One" menawarkan suar harapan untuk dialog, kata para pendirinya.

"Penting agar konflik dunia yang dramatis dapat didiskusikan di ibu kota Jerman dan masyarakat memiliki panggung untuk menyoroti masalah di negara mereka dan mengungkapkan pendapat mereka," kata Walikota Berlin, Michael Mueller pada upacara tersebut.

"Tapi kebencian dan kekerasan, antisemitisme dan Islamofobia, rasisme dan hasutan tidak memiliki tempat dalam masyarakat kita," tambahnya dilansir dari Haaretz, Jumat (28/5).

Bangunan dengan menara persegi tinggi itu akan berisi ruangan terpisah untuk ibadah dan area umum untuk pertemuan.

Kepala Dewan Pusat Yahudi Jerman dan Dewan Pusat Muslim menyambut baik proyek tersebut dan pertukaran agama yang bertujuan untuk mewujudkannya.

Pekerjaan konstruksi, yang dimulai setelah 10 tahun perencanaan, akan memakan waktu empat tahun dan menghabiskan biaya 47,3 juta euro (57,67 juta dollar AS atau Rp 827 miliar). Pemerintah Jerman memberikan kontribusi 20 juta euro, kota Berlin 10 juta euro dan sisanya akan datang dari kontributor lain, termasuk sumbangan dari luar negeri.

Pusat tersebut akan dibangun di atas situs gereja abad ke-13 yang dihancurkan oleh pemerintah Komunis Jerman Timur pada tahun 1960-an.

"Proyek House of One mengirimkan sinyal penting saat ini," kata Heinrich Bedford-Strohm, kepala gereja Protestan di Jerman, kepada media RND.

"Antisemitisme dan Islamofobia meningkat. Tapi mereka membawa orang ke arah yang salah, mereka menyulut kebencian dan berpotensi menyebabkan kekerasan," tambahnya. [yy/ihram]