14 Dzulhijjah 1442  |  Sabtu 24 Juli 2021

basmalah.png

Dokter Hindu Bacakan Syahadat untuk Muslim Picu Polemik

Dokter Hindu Bacakan Syahadat untuk Muslim Picu Polemik

Fiqhislam.com - Tindakan dokter Hindu yang membacakan syahadat terhadap pasien Muslim memicu perdebatan di media sosial antara orang beriman dan ateis. Tindakan tersebut dinilai sebagai tindakan tidak profesional dan tidak etis.

Dokter dari Pattambi, India, dr Rekha Krishnan, mendapat pujian dari seluruh negeri atas tindakannya. Tokoh terkenal, termasuk Shashi Tharoor, telah membuat cicitan bahwa tindakan dokter Krishnan adalah model kemanusiaan Kerala.

Sementara dalam unggahan Facebook, perdebatan mulai muncul dari pemikir rasionalis C Ravichandran yang merasa tidak pantas untuk merayakan fenomena itu. Menurut dia, sudah kewajiban seorang dokter untuk membuat saat terakhir pasien menjadi lebih mudah. Jika dokter telah membantu pasien untuk mengurangi rasa sakit, itu akan sangat bermanfaat.

“Membawa pandangan agama seseorang tanpa persetujuan pasien, bukan profesional. Saya juga tidak melihat ada gunanya membocorkan seluruh 'Cerita pribadi’ ini ke publik,” kata Ravichandran.

Dia menyebut cerita itu disebut unik karena beberapa alasan eksternal dan bukan karena tindakan kemanusiaan saja. “Kita dapat melihat tindakan yang lebih manusiawi setiap hari. Bagi saya, alasan untuk merayakan cerita ini sebagai hal luar dunia adalah hampa,” ujar dia.

Ravinchandran juga ingin tahu apakah dokter percaya pada kalimat syahadat yang diucapkannya yang mengatakan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan.

“Bagaimana seseorang bisa melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak dia yakini? Tindakan itu sendiri kurang melibatkan emosi,” kata dia menambahkan.

Pemimpin Sunni Abdul Hameed Faizi, yang termasuk orang pertama yang memberi selamat kepada dokter Krishnan, mengatakan dia gagal memahami mentalitas ateis. Baginya, dokter Krishnan telah melakukan segala hal sesuai ilmu kedokteran. Setelah itu, dia ingin meringankan rasa sakit pasien dan dokter telah melakukan pendekatan psikologis pada saat itu.

“Tidak ada yang salah secara hukum dan etika dari pihak dokter. Dia melakukan yang terbaik untuk pasien. Lantas, bagi mereka yang ateis, apa yang akan mereka lakukan jika berada di posisi dokter?” kata Faizi. [yy/Meiliza Laveda/republika]