19 Dzulhijjah 1442  |  Kamis 29 Juli 2021

basmalah.png

Jejak Rabi Radikal di Balik Gelombang Kekerasan di Israel

Jejak Rabi Radikal di Balik Gelombang Kekerasan di Israel

Fiqhislam.com - Pandangan politik Meir Kahane dianggap sedemikian hina, Israel dan Amerika Serikat melarang Partai Kach bentukannya pada 1988.

Visi gerakan yang kelak dinamakan Kahanis itu meyakni tindak kekerasan dan balas dendam sebagai perintah agama, bahwa Yudaisme baru sempurna jika Israel mengusir sepenuhnya bangsa Palestina dari tanah yang dijanjikan.

Ideologinya penuh amarah, tulis editor harian Israel, Haaretz, dalam tajuknya. "Dan selama separuh abad, pemikirannya menemukan semakin banyak pengikut." Usai dilarang, Meir Kahane harus melepas jabatannya di parlemen. Dua tahun berselang, dia dibunuh oleh seorang warga AS keturunan Mesir.

Hari-hari ini beratus pengikut Kahane memenuhi jalan-jalan kota di Israel sembari berteriak "matilah Arab!," dan memburu setiap orang Palestina yang berpapasan. Sejak kerusuhan meletus, kaum Kahanis dilaporkan membakar kendaraan, atau merusak aset milik warga Arab, yang dibalas dengan tindakan serupa.

Tindak kekerasan yang dilancarkan kaum ultrakonservatif mengejutkan warga Israel. Tapi bagi penduduk Palestina, gerakan Kahanis adalah produk alami dari sistem yang diskriminatif, yang dinormalisasi oleh pejabat yang memiliki pandangan serupa.

Pengikut Kahane yang tergabung dalam faksi Zionisme Agama merebut enam kursi di Knesset dalam pemilu Maret silam. Aliansi ekstremis itu bahkan sempat diajak berunding dengan Partai Likud pimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Kahanisme di arus utama

Saat ini Ketua Umum Partai Otzama Yehudit, Itamar Ben-Gvir, adalah tokoh Kahanis paling populer. Menyusul pemilu yang bertubi-tubi, dia belakangan semakin rajin tampil dalam wawancara televisi. Gayanya yang ringan dan santai berhasil menarik perhatian publik, seperti yang dilaporkan oleh lembaga periset, Ifat.

Menurut studi yang digelar baru-baru ini, Ben-Gvir adalah politisi nomer tiga yang paling sering tampil di televisi dan radio, setelah Netanyahu dan Naftali Benett, tokoh sayap kanan lain.

"Dia orator yang baik dan tahu bagaimana memainkan permainan ini," kata Shuki Firedman, peneliti kelompok ultrakonservatif di Institut Demokrasi Israel. "Di satu sisi, dia bisa menyapa pendukungnya, di sisi lain dia tahu batasan untuk tidak memancing amarah mayoritas warga Israel."

Pendukung Ben Gvir kebanyakan terdiri dari kaum agamis atau Yahudi ultra-Ortodoks yang cendrung hidup dalam keluarga besar. Netanyahu berharap bisa mendulang dukungan kelompok ini dengan membentuk blok kanan jauh di parlemen dengan Ben-Gevir dan Bezalel Smotrich, tokoh ultranasionalis lain.

Dan Meridor, bekas menteri kehakiman dan tokoh senior Likud yang membantu menyusun legislasi untuk melarang Partai Kach dan mengusir Kahane dari jabatannya sebagai anggota legislatif pada 1988, meyakini Netanyahu telah membuat kesalahan fatal saat bersanding dengan Ben-Gvir.

"Anda bisa melihat perubahan dramatis dan sangat merusak yang dialami Partai Likud ketika mereka melegitimasi pengikut Kahanis," kata dia. "Hal ini mengubah partai secara tragis menurut saya."

Warga Arab Israel sebaliknya melihat Ben-Gvir sebagai politisi lain di Israel yang memperlakukan mereka sebagai warga negara kelas dua. Hal ini ikut menjelaskan amarah yang membakar kota-kota di Israel sejak beberapa hari terakhir.

Diana Buttu, seorang advokat dan warga Palestina di Israel, mengatakan mudah bagi masyarakat untuk menganggap kaum Kahanis sebagai kelompok marjinal. "Tapi jika Anda mundur dan melihat negara ini dari kacamata Palestina, Anda melihat bahwa di setiap level politik, di setiap partai politik, ada rasisme anti-Arab."

Laporan ini disadur dari berita eksklusif Associated Press oleh Josef Federman, Joseph Kraus dan Ben Zion. [yy/news.detik]