fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


4 Syawal 1442  |  Minggu 16 Mei 2021

Komunitas Muslim di Minnepolis dan Ketegangan Rasial

Komunitas Muslim di Minnepolis dan Ketegangan Rasial

Fiqhislam.com - Ramadhan kali ini tetap membuat Deonte Bryant semangat dalam menjalankan ibadah. Di dalam masjid bawah tanah yang remang-remang di selatan Minneapolis, dia tengah membaca Alquran.

Dengan sedikit aksen Amerikanya, penggalan ayat yang ia baca menjelaskan tentang apa yang terjadi ketika penganut agama membunuh penganut agama lain secara tidak sengaja

“Ini mengingatkanku pada sesuatu, kasus George Floyd.

Akan tetapi kasus tersebut terjadi secara sengaja,” kata pria yang juga dipanggil Abu Bakar. George Floyd (46 tahun) meninggal di bawah lutut polisi Derek Chauvin beberapa meter dari Masjid Na’matul Islam.

Floyd meninggal karena mengalami sesak napas. Pada 21 April, Chauvin dihukum atas tiga dakwaan, termasuk pembunuhan tingkat dua. Selama berbulan-bulan setelah kematian Floyd, protes berkecamuk di seluruh dunia dengan seruan untuk keadilan rasial dan akuntabilitas polisi yang lebih besar.

Masjid Na’matul Islam terletak di ruang bawah tanah toko grosir Cup Foods. Di sana, komunitas Muslim lokal datang berduka dan melarikan diri dari rasa sakit dan kekacauan yang terjadi tahun lalu.

Di bagian bawah tangga gelap menuju ruang bawah tanah Cup Foods, komunitas Muslim lokal datang untuk berduka dan melarikan diri dari rasa sakit dan kekacauan tahun lalu.Bryant yang menjadi imam shalat Jumat, mengatakan banyak dari 15 jemaah masjid itu adalah keturunan Somalia. Bagi komunitas Muslim, vonis Chauvin menjadi sebuah kelegaan tersendiri.

“Segera, ketika hakim membacakan putusan, Anda bisa mendengar orang-orang berteriak, merayakan, desahan lega,” kata Pemilik Gedung Masjid dan Cup Foods, Mahmoud Abumayyeleh.

'Saat kami tidak sedang memprotes, kami semua berdoa'

Dilansir the National News, Ahad (2/5), keputusan vonis Chauvin sangat berarti terlebih diambil pada pekan kedua Ramadhan. “Waktu yang tepat di bulan Ramadhan kita mendapat sedikit keadilan. Sebab, saat kita tidak protes, kita semua sedang shalat dan beribadah. Jelas doa kita terkabul,” kata Seniman dan Guru Multimedia Somalia-Amerika di Minneapolis, Ifrah Mansour.

Kota kembar Minneapolis-St Paul adalah rumah bagi sekitar 40 ribu orang Amerika Somalia yang sejauh ini merupakan konsentrasi terbesar di AS. Komunitas tersebut secara aktif terlibat dalam protes yang mendukung gerakan Black Lives Matter.

“Sebagai komunitas orang kulit berwarna, ketika Anda melihat orang-orang seperti Anda yang terus-menerus dibunuh, itu benar-benar menghancurkan hati Anda,” kata Mansour. Di seluruh AS, polisi membunuh sekitar tiga orang sehari dan orang kulit berwarna terpengaruh secara tidak proporsional. Sayangnya petugas jarang menghadapi dakwaan dan hukuman.

Pada bulan Desember, warga Somalia-Amerika Dolal Idd (23 tahun) ditembak dan tewas dalam baku tembak dengan polisi Minneapolis. Kematiannya adalah pembunuhan polisi pertama di kota itu sejak pembunuhan Floyd yang memicu babak baru protes.

Pada 11 April ketika Muslim di seluruh Minneapolis bersiap untuk memasuki bulan suci Ramadhan, kota itu diguncang oleh pembunuhan polisi lainnya. Daunte Wright, pria kulit hitam berusia 20 tahun ditembak secara fatal oleh seorang petugas polisi. Kejadian tersebut memicu lebih banyak protes.

Bagi Ruhel Islam yang restorannya dibakar dalam protes musim panas lalu setelah kematian Floyd, 11 bulan ini merupakan bulan yang sulit. “Sangat traumatis saat kami harus melihat semua masalah ini. Protes, kerusuhan, pembakaran, dan orang-orang yang tidak mendapatkan keadilan,” kata Islam.

Warga Amerika keturunan Bangladesh itu menjadi viral tahun lalu ketika putrinya menulis unggahan Facebook yang menceritakan bagaimana dia mendengar ayahnya berkata melalui telepon, “Biarkan gedung saya terbakar. Keadilan perlu dilayani.”

Meski begitu, Islam telah membuka restoran sementara di dekatnya. Dia masih merasa protes lebih penting daripada restorannya. Islam yang tumbuh di bawah kediktatoran militer di Bangladesh mengatakan dia bertekad untuk terus mendukung pengunjuk rasa dan perjuangan dalam menegakkan keadilan rasial.

Sebelum berbuka puasa, Islam berjalan melalui restoran sementara miliknya. Dia berhenti di dekat pintu keluar. Ada tiga bingkai besar berisi surat penghargaan atas dukungannya terhadap protes digantung. Melihat surat-surat itu, dia berkata “George Floyd menyatukan banyak orang. Kematiannya membuka tanggung jawab moral kita. Itu membangunkan kami.” [yy/republika]