22 Dzulhijjah 1442  |  Minggu 01 Agustus 2021

basmalah.png

Kritik Pemerintah Islamofobia, Jurnalis Muslim Prancis Diancam Dibunuh

Kritik Pemerintah Islamofobia, Jurnalis Muslim Prancis Diancam Dibunuh

Fiqhislam.com - Seorang jurnalis Muslim Prancis , yang gencar mengkritik pemerintah atas kebijakan yang dia sebut "Islamofobia", telah mendapat ancaman pembunuhan.

Jurnalis bernama Nadiya Lazzouni tersebut juga menerima penghinaan, di mana dia dijuluki sebagai "pelacur Islam", karena sikap kritisnya.

Nadiya kini meminta Presiden Emmanuel Macron untuk memberikan perlindungan terhadapnya karena ancaman pembunuhan itu dirasa sangat serius.

Jurnalis yang juga YouTuber tersebut menjadi populer karena memperdebatkan politisi konservatif di televisi dan menentang larangan jilbab di negara tersebut.

Nadiya mengatakan kepada saluran BFM TV,yang dilansir Minggu (11/4/2021),bahwa dia menghubungi administrasi Macron dan telah meminta perlindungan.

Dia mengaku telah diberitahu oleh penasihat keamanan presiden bahwa pihak berwenang memperlakukan situasi yang dia alami dengan sangat serius. Penyelidikan juga telah diluncurkan untuk menilai tingkat ancaman terhadap Nadiya.

Nadiya membagikan foto di media sosial dari surat tulisan tangan yang telah dikirimkan kepadanya. Surat itu berisi penghinaan dan ancaman. Surat itu menyebutnya sebagai "pelacur Islam" dan membahas tentang akan adanya "peluru yang menembus lehernya".

Lazzouni menggambarkan situasi itu sebagai "perburuan penyihir yang sebenarnya". "Pertama hanya melawan kaum Islamis, dan kemudian melawan [semua] Muslim," katanya.

Jurnalis tersebut meminta Presiden Macron, Menteri Dalam Negeri Gerald Darmanin dan Menteri Kewarganegaraan Marlene Schiappa untuk mengambil tindakan melawan kampanye kebencian terhadapnya. "Dan semua Muslim yang tinggal di Prancis," paparnya.

Dia kemudian berargumen bahwa media terlena dalam iklim beracun, yang menstigmatisasi komunitas Muslim.

Schiappa mengatakan bahwa tidak ada debat politik yang dapat membenarkan ancaman "seksis dan rasis". Dia menyarankan Nadiya untuk mengajukan keluhan kepada pihak berwenang.

Nadiya, yang memiliki saluran YouTube sendiri, pertama kali menjadi populer tiga tahun lalu dengan memperdebatkan politisi konservatif di acara televisi Prancis dan menentang proposal yang melarang jilbab bagi Ibu yang menemani anaknya dalam perjalanan sekolah.

Dia juga berbicara menentang Islamofobia, mengatakan kepada Al Jazeera pada tahun 2019 bahwa tidak ada "reaksi sosial" terhadap pandangan Islamofobia di Prancis, dan mengkritik pemerintah karena mempromosikan pesan bahwa Muslim Prancis adalah "musuh terselubung dari dalam negeri."

Menyusul serangkaian serangan kelompok militan Islamis tahun lalu, pemerintah memperkenalkan rancangan undang-undang (RUU) yang memungkinkan tindakan keras terhadap kelompok dan individu yang dicurigai sebagai ekstremis dan merusak prinsip-prinsip sekuler negara tersebut.

RUU tersebut, dan retorika Macron tentang Muslim, menuai kritik baik di dalam maupun luar negeri.

Perdebatan seputar RUU itu muncul kembali minggu ini, setelah anggota parlemen menambahkan amandemen yang akan melarang anak di bawah umur mengenakan jilbab Muslim di depan umum. [yy/sindonews]