25 Dzulhijjah 1442  |  Rabu 04 Agustus 2021

basmalah.png

Partai Islam Israel Serukan Kerja Sama Arab-Yahudi

Partai Islam Israel Serukan Kerja Sama Arab-Yahudi

Fiqhislam.com - Partai Islam Ra'am menorehkan sejarah karena menjadi penentu dalam pemilihan umum Israel. Ketua Umum Ra'am, Mansour Abbas, memanfaatkan momen ini untuk menyerukan kerja sama Arab-Yahudi di pemerintahan mendatang.

Berpidato dengan bahasa Ibrani, Abbas meminta partai-partai Yahudi di Israel tidak memboikot partai Islam untuk bergabung dengan pemerintah berikutnya. "Sekaranglah waktunya untuk berubah," katanya dikutip dari Times of Israel, Jumat, 2 April 2021.

Pemilu Israel yang berlangsung pekan lalu berakhir dengan tidak adanya partai yang menguasai mayoritas kursi di Knesset (parlemen). Mau tidak mau partai-partai di sana harus berkoalisi untuk bisa memenangkan kursi Perdana Menteri.

Sayangnya koalisi pemerintah yang mendukung kembali Benjamin Netanyahu maupun partai-partai oposisi belum cukup memenuhi ambang batas yang diperlukan untuk bisa mencalonkan perdana menteri. Di sini lah partai Ra'am menjadi kunci karena belum menentukan sikap akan bergabung ke kubu mana.

Jika Benjamin Netanyahu ingin kembali berkuasa atau oposisi ingin merebut kekuasaan, maka harus bisa merangkul Partai Ra'am. Sayangnya kerja sama antara Ra'am dan partai-partai Yahudi yang berada di belakang Netanyahu kemungkinan besar sulit terjadi.

Selama pidatonya, yang disiarkan langsung Kamis malam oleh semua jaringan televisi utama Israel, Abbas tidak mengungkapkan dukungannya ke Netanyahu atau pemimpin oposisi Yair Lapid. Dia juga menolak untuk mengasosiasikan partainya dengan salah satu blok politik.

Abbas menekankan bahwa dia bersedia bekerja dengan semua partai politik Yahudi, kiri dan kanan, melanggar tradisi politik Arab Israel selama puluhan tahun yang menghindari kerja sama erat dengan pemerintah Israel atas konflik dengan Palestina.

"Apa yang mempersatukan kita semua lebih besar dari apa yang memisahkan kita," ujar Abbas.

Politisi Islam itu mendefinisikan dirinya sebagai seorang Muslim dan seorang Arab, tetapi juga seorang warga negara Israel. [yy/tempo]