4 Jumadil-Awal 1443  |  Rabu 08 Desember 2021

basmalah.png

Muslim Palestina Gelar Shalat Ghaib untuk Syekh Ali Jaber

Muslim Palestina Gelar Shalat Ghaib untuk Syekh Ali Jaber

Fiqhislam.com - Muslim Palestina ikut berduka atas berpulangnya almarhum Syekh Ali Jaber. Ratusan Muslim Palestina pun menggelar sholat ghaib dan doa bersama untuk almarhum, di Masjid Umari, Kota Jabalia, Gaza Utara, Palestina, Jumat (15/1).

Ulama senior di Palestina Syaikh Mahmud Abo Jamel (Al-Hafidz), Abo Jamel yang sekaligus menjadi imam shalat ghaib menghaturkan duka cita mendalam atas wafatnya ulama penjaga Alquran, Syekh Ali Jaber. Syekh Abo Jamel yang merupakan tokoh senior di Gaza Utara, mendoakan semoga amal ibadah Syekh Ali Jaber dalam dakwah diterima oleh Allah SWT.

"Ya Allah ya Tuhan, ampunilah dan sayangilah Syekh Ali Jaber layaknya selama hidup almarhum senantiasa mencintai dan peduli terhadap Al-Aqsa dan Palestina. Cahayakan kuburnya, luaskan kuburnya, ampuni segala dosanya dan jerih payah selama beliau berdakwah, jadikan syafaat saat menghadap-Mu ya Allah," kata Syekh Abo Jamel saat membacakan doa bersama, dalam keterangan tertulis yang diterima Republika, Jumat (15/1).

Dia pun berdoa agar Allah memberikan keberkahan dan Syafaat Alquran kepada Syekh Ali Jaber. Sebab selama beliau hidup, kata dia, Syekh Ali Jaber selalu mengajak umat Islam di Indonesia untuk dekat dengan Alquran. Syekh Ali dinyatakan wafat di Rumah Sakit Yarsi, Jakarta Pusat, Kamis (14/1).

Sebelumnya, ia menjalani perawatan akibat Covid-19. Sebelum meninggal, Syekh Ali sudah dinyatakan negatif Covid-19. [yy/republika]

 

Muslim Palestina Gelar Shalat Ghaib untuk Syekh Ali Jaber

Fiqhislam.com - Muslim Palestina ikut berduka atas berpulangnya almarhum Syekh Ali Jaber. Ratusan Muslim Palestina pun menggelar sholat ghaib dan doa bersama untuk almarhum, di Masjid Umari, Kota Jabalia, Gaza Utara, Palestina, Jumat (15/1).

Ulama senior di Palestina Syaikh Mahmud Abo Jamel (Al-Hafidz), Abo Jamel yang sekaligus menjadi imam shalat ghaib menghaturkan duka cita mendalam atas wafatnya ulama penjaga Alquran, Syekh Ali Jaber. Syekh Abo Jamel yang merupakan tokoh senior di Gaza Utara, mendoakan semoga amal ibadah Syekh Ali Jaber dalam dakwah diterima oleh Allah SWT.

"Ya Allah ya Tuhan, ampunilah dan sayangilah Syekh Ali Jaber layaknya selama hidup almarhum senantiasa mencintai dan peduli terhadap Al-Aqsa dan Palestina. Cahayakan kuburnya, luaskan kuburnya, ampuni segala dosanya dan jerih payah selama beliau berdakwah, jadikan syafaat saat menghadap-Mu ya Allah," kata Syekh Abo Jamel saat membacakan doa bersama, dalam keterangan tertulis yang diterima Republika, Jumat (15/1).

Dia pun berdoa agar Allah memberikan keberkahan dan Syafaat Alquran kepada Syekh Ali Jaber. Sebab selama beliau hidup, kata dia, Syekh Ali Jaber selalu mengajak umat Islam di Indonesia untuk dekat dengan Alquran. Syekh Ali dinyatakan wafat di Rumah Sakit Yarsi, Jakarta Pusat, Kamis (14/1).

Sebelumnya, ia menjalani perawatan akibat Covid-19. Sebelum meninggal, Syekh Ali sudah dinyatakan negatif Covid-19. [yy/republika]

 

Penjaga Al-Quran

Wafatnya Penjaga Al-Quran


Fiqhislam.com - Ali Saleh Mohammed Ali Jaber, yang lebih dikenal dengan panggilan Syekh Ali Jaber lahir di Madinah, 3 Februari 1976. Ulama itu kini telah meninggalkan negeri ini dan umat untuk selamanya dalam usia 44 tahun.

Tentu, duka mendalam bagi negeri ini dan umat Islam seluruh dunia, tatkala para suluh pencerah umat banyak yang meninggal dunia.

Ulama adalah mutiara yang tak bisa tergantikan. Negeri ini akan kehilangan aset paling berharga jika ditinggal ulama.

Peristiwa meninggal sebenarnya biasa terjadi, tetapi meninggalnya ulama yang sulit tergantikan. Namun, kehilangan ulama ibarat kehilangan suluh dan lentera yang selama ini, menjadi penerang bagi perjalanan kehidupan.

Syekh Ali Jaber adalah ulama asal Madinah, Arab Saudi, yang menjadi WNI. Namanya semakin kondang setelah menjadi juri kontes Hafiz Indonesia. Ulama ini banyak memberikan kebaikan bagi negeri ini dengan terus melahirkan dan mengader para penghafal Alquran.

Ulama adalah mutiara yang tak bisa tergantikan. Negeri ini akan kehilangan aset paling berharga jika ditinggal ulama. Negeri ini termasuk zalim jika tidak serius menjaga dan melindungi keselamatan para ulama.

Tidak mudah melahirkan kembali ulama besar, jika tidak hendak dikatakan mustahil. Ulama adalah pencerah dalam kegelapan kehidupan. Dalam arus politik sekularistik, peran ulama dalam meluruskan arah bangsa sangat dibutuhkan.

Ditegaskan dalam Islam, ulama adalah pewaris para nabi. Mereka adalah orang-orang yang mengetahui ajaran Nabi, baik yang menyangkut perkara-perkara akidah maupun syariah.

Mereka pun berusaha menyifati budi pekerti dan seluruh amal perbuatan Nabi dengan ilmu, yang bersumber dari Alquran dan sunah. Mereka takut berpaling atau dipalingkan dari syariah Islam karena makrifatnya yang sempurna kepada Allah SWT.

Sebab, mereka menyadari sepenuhnya, keulamaan seseorang ditentukan sejauh mana ketakutannya kepada Allah SWT.

Imam Hasan al-Bashri berkata, “Orang alim adalah orang yang takut kepada Ar-Rahman, berhasrat pada apa yang Allah cintai, dan meninggalkan apa yang Allah benci.” Lalu Imam Hasan al-Bashri membaca firman Allah, ’’Sesungguhnya orang yang takut kepada Allah di antara para hamba-Nya hanyalah para ulama. Sesungguhnya Allah Mahamulia dan Maha Pengampun.’’ (Ibnu Katsir, Tafsir al-Quran al-‘Azhim, III/668).

Ulama adalah sosok yang berjalan di belakang keteladanan Rasulullah. Terkait peran strategis ulama, Rasulullah bersabda, ”Ingatlah, sejelek-jelek keburukan adalah keburukan ulama dan sebaik-baik kebaikan adalah kebaikan ulama.” (HR Ad Darimi).

Dari ucapan Rasulullah itulah, muncul istilah dalam literatur Islam frasa ulama su’ dan ulama yang lurus.

Kata ulama adalah bentuk jamak dari ‘alim yang artinya ahli ilmu atau ilmuwan. Sementara kata su’ adalah masdar dari sa’a-yasu’u-saw’an yang artinya jelek, buruk, dan jahat. Secara bahasa arti ulama su’ adalah ahli ilmu atau ilmuwan yang buruk dan jahat.

Ilmu dan ulama adalah dua kata yang saling berkaitan. Ulama adalah orang berilmu. Secara garis besar ulama terbagi tiga, yaitu yang mengenal Allah, yang memahami perintah Allah, serta yang mengenal Allah dan memahami perintah-Nya.

Ulama yang mengenal Allah adalah mereka yang takut kepada Allah, tetapi tidak memahami sunah. Ulama yang memahami perintah Allah adalah mereka yang memahami sunah, tetapi tidak takut kepada Allah.

Adapun ulama yang mengenal Allah dan memahami perintah-Nya adalah mereka, yang memahami sunah dan takut kepada Allah. Inilah orang yang disebut-sebut dengan kebesaran di kerajaan langit (HR al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman).

Syekh Ali Jaber dikenal sebagai ulama yang banyak melahirkan kader penghafal Alquran di negeri ini. Para penghafal Alquran adalah mereka yang menjaga Alquran, baik dari sisi hafalan maupun perbuatan. Islam sangat memuliakan para penghafal Alquran.

Sebab, Alquran adalah sumber kebenaran yang mampu menyelamatkan manusia dan bangsa di dunia dan akhirat selama mau terikat pada hukum di dalamnya. Salah satu keutamaan penghafal Alquran, dia yang pertama layak dipilih sebagai imam.

Dari Abu Mas’ud Al-Ansori berkata, Rasulullah bersabda, “Yang mengimami suatu kaum adalah yang paling banyak hafalan kitab Allah, kalau dalam bacaan (hafalan) itu sama, yang lebih mengetahui sunah. Kalau dalam sunah sama, yang paling dahulu hijrahnya. Kalau dalam hijrahnya sama, yang paling dahulu masuk Islam. Dan jangan seseorang menjadi imam atas saudaranya dalam kekuasaannya. Dan jangan duduk di tempat duduk khusus di rumahnya kecuali atas seizinnya.” (HR Muslim, 673).

Akhirnya, semoga Syekh Ali Jaber mendapatkan husnul khatimah dan seluruh amal baiknya bisa dilanjutkan oleh generasi umat mendatang, hingga lahir kembali ulama-ulama penjaga Alquran sebagai penerus beliau.

Semoga, Alquran menjadi sumber nilai kebenaran bagi perjalanan umat dan bangsa ini agar mendapatkan keselamatan dunia akhirat. [yy/republika]

Ahmad Satra

    • Dosen Pascasarjana UIKA Bogor dan Ketua Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa