27 Dzulhijjah 1442  |  Jumat 06 Agustus 2021

basmalah.png

Sebut Samuel Paty Layak Dipenggal, Remaja Prancis Dikeluarkan dari Sekolah

Sebut Samuel Paty Layak Dipenggal, Remaja Prancis Dikeluarkan dari Sekolah

Fiqhislam.com - Seorang siswa dikeluarkan dari sekolah di Prancis setelah membela pembunuhan mengerikan terhadap Samuel Paty oleh seorang ekstrimis Islam. Paty adalah seorang guru yang dipenggal pada Oktober lalu setelah memperlihatkan kartun Nabi Muhammad di kelas.

Menurut radio France Bleu, siswa tersebut awalnya membuat komentar pada 2 November lalu, lebih dari dua minggu setelah Paty terbunuh.

Para siswa baru saja kembali dari liburan ke salah satu sekolah di kota Saint-Jean-de-Luz di barat daya Prancis, dekat perbatasan Spanyol. Setelah hening cipta sejenak, dilakukan diskusi di dalam kelas. Kemudian salah satu remaja mengejutkan semua orang dengan mengatakan bahwa pembunuhan brutal terhadap Paty "pantas dilakukan".

Seorang guru meminta siswanya untuk menjelaskan apa yang dia maksud. Siswa itu menjawab bahwa tidak ada yang berhak mengolok-olok agama, dan pemenggalan itu memang pantas dilakukan. Pernyataan yang sama kemudian diulangi oleh siswa tersebut selama pertemuan dengan wakil kepala sekolah dan penasihat senior pendidikan.

"Setelah rapat panel disiplin sekolah, yang dihadiri oleh orang tua siswa, siswa tersebut dikeluarkan. Para orang tua kemudian ditawari pilihan pendidikan di lembaga lain," kata France Bleu seperti dinukil dari Russia Today, Selasa (15/12/2020).

Seorang guru sejarah dan geografi, Paty dipenggal oleh seorang ekstremis muda Islam di Paris pada 16 Oktober karena menunjukkan kepada kelasnya kartun Nabi Muhammad selama pelajaran tentang kebebasan berekspresi. Pembunuhan itu memicu kemarahan yang meluas di Prancis, memaksa pihak berwenang untuk memperhatikan kaum muda yang teradikalisasi dalam sistem pendidikan dan menindak kelompok-kelompok ekstremis.

Awal bulan ini, Kementerian Pendidikan Nasional Prancis mengatakan ada 793 "insiden" di sekolah-sekolah selama penghormatan kepada guru yang terbunuh. Empat puluh persen di antaranya dilaporkan sebagai "provokasi" dan "perselisihan", 17 persen sebagai pembelaan terorisme, 12 persen sebagai penolakan untuk berpartisipasi dalam penghormatan kepada Paty, dan sembilan persen sebagai upaya untuk mengganggu penghormatan tersebut. Secara keseluruhan, 131 siswa diskors dan 44 dikeluarkan. [yy/sindonews]