pustaka.png
basmalah.png.orig


3 Dzulqa'dah 1442  |  Minggu 13 Juni 2021

Pembebasan Shusha Karabakh Akhiri Kerinduan Warga Azerbaijan

Prancis Minta Pengawasan Internasional di Nagorno-Karabakh, Khawatir Manuver Turki


Fiqhislam.com - Prancis mendorong pengawasan internasional dalam pelaksanaan gencatan senjata Armenia-Azerbaijan di Nagorno-Karabakh. Prancis khawatir Rusia dan Turki memangkas kekuatan Barat dari pembicaraan damai di masa depan.

Rusia bersama Amerika Serikat dan Prancis yang tergabung dalam Minsk Group--kelompok pegawas konflik Nagorno-Karabakh--sempat berkontribusi menggagas gencatan senjata pertama pada Oktober lalu. Namun, upaya tersebut gagal setelah dua negara berkonflik, Armenia dan Azerbaijan, melanggar gencatan senjata.

Setelah enam pekan pertempuran di Nagorno-Karabakh, Armenia dan Azerbaijan akhirnya menyepakati penghentian pertempuran secara total pada awal November ini. Kesepakatan tersebut ditengahi oleh Rusia tanpa melibatkan Minsk Group.

Menyusul kesepakatan damai Armenia-Azerbaijan, Rusia telah mengadakan pembicaraan dengan Turki--sekutu Azerbaijan dan pengkritik keras kelompok Minsk--yang dikhawatirkan kesempatan itu dimanfaatkan Ankara mengerahkan pasukan ke wilayah Nagorno-Karabakh.

Dalam pembicaraan telepon dengan presiden Azerbaijan dan perdana menteri Armenia, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyampaikan pentingnya menjaga kesepakatan damai serta bersama-sama memfasilitasi kepentingan penduduk terdampak perang.

"Akhir pertempuran sekarang harus memungkinkan dimulainya kembali negosiasi dengan itikad baik untuk melindungi penduduk Nagorno-Karabakh dan memastikan kembalinya puluhan ribu orang yang telah meninggalkan rumah mereka dalam beberapa pekan terakhir dalam kondisi keamanan yang baik," kata Macron dikutip dari Reuters, Jumat (20/11/2020).

Populasi Prancis mencakup antara 400.000 hingga 600.000 orang asal Armenia. Macron telah berhati-hati untuk tidak mendukung pihak konflik tetapi menghadapi kritik di dalam negeri yang menganggap dia tidak mengambil tindakan yang cukup membantu Armenia.

Sumber kepresidenan Prancis mengatakan Macron mendorong pengawasan internasional terhadap gencatan senjata untuk memungkinkan kembalinya pengungsi, mengatur kembalinya pejuang asing, terutama dari Suriah, serta memulai pembicaraan mengenai status Nagoro-Karabakh.

"Kami ingin Minsk Group memainkan perannya dalam menetapkan pengawasan gencatan senjata," kata sumber.

Pernyataan Prancis diyakini sebagai upaya meredam keterlibatan Turki dalam kesepakatan damai di Kaukasus. Hubungan antara Prancis dan Turki sangat buruk beberapa bulan. Paris menuduh Ankara memicu krisis di Nagorno-Karabakh.

"Kami memahami bahwa Rusia sedang berbicara dengan Turki mengenai formula yang mungkin tidak kami inginkan serta akan meniru (proses) Astana untuk membagi peran mereka di wilayah sensitif ini," lanjutnya.

Forum Astana memungkinkan Rusia dan Turki untuk berdiskusi di antara mereka bagaimana menangani konflik Suriah dan mengesampingkan kekuatan Barat.

"Kita tidak bisa memiliki di satu sisi Minsk dan di sisi lainnya Astana. Pada satu titik, Rusia harus membuat pilihan," ucapnya. [yy/inews]