26 Dzulhijjah 1442  |  Kamis 05 Agustus 2021

basmalah.png

Neo Nazi Inggris Minta Pengikut Tularkan Corona ke Muslim-Yahudi

Neo Nazi Inggris Minta Pengikut Tularkan Corona ke Muslim-Yahudi

Fiqhislam.com - Kelompok Neo Nazi Inggris memberi tahu para pengikutnya untuk menginfeksi Yahudi dan Muslim dengan virus corona.

Sebuah laporan mengejutkan dari Commission for Countering Extremism, lembaga Inggris untuk melawan ekstremisme, memperingatkan, "Kami telah mendengar laporan dari aktivis sayap kanan Inggris dan kelompok-kelompok Neo Nazi yang mempromosikan narasi anti-minoritas dengan mendorong pengikut untuk secara sengaja menginfeksi kelompok, termasuk komunitas Yahudi."

Teori konspirasi lain dalam dokumen laporan mengklaim virus corona adalah palsu dan bagian dari plot Yahudi untuk menyesatkan publik, menurut dokumen komisi, seperti dikutip dari The Mirror, 10 Juli 2020.

Klaim kelompok Neo Nazi dalam laporan tersebut juga menunjukkan bahwa umat Islam bertanggung jawab atas penyebaran virus karena membuat masjid tetap terbuka saat lockdown.

Sara Khan, komisaris Commission for Countering Extremism, mengatakan bahwa lockdown telah dieksploitasi oleh sejumlah kelompok ekstremis sayap kanan.

"Kelompok-kelompok dari sayap kanan dan kiri ekstrem, dan kelompok-kelompok Islamis telah sepenuhnya mengeksploitasi lockdown untuk mempromosikan teori konspirasi dan disinformasi berbahaya, terutama online," katanya.

Laporan itu juga menunjukkan teori konspirasi yang menghubungkan virus corona dengan jaringan seluler 5G telah menyebabkan insiden bulan April di mana 50 tiang sinyal 5G hancur.

Warga dilaporkan membakar atau merusak tiang-tiang 5G itu, menurut laporan komisi.

Perusahaan-perusahaan media sosial juga dikritik dalam laporan tersebut karena tidak melakukan upaya yang cukup untuk menindak teori konspirasi yang sejatinya mudah dibantah.

Penelitian menemukan 649 unggahan ditandai karena informasi yang salah terkait dengan virus di Facebook, Instagram, dan Twitter antara 20 April hingga 26 Mei, hanya 9,4 persen yang ditindaklanjuti dan hanya 6,3 persen yang akhirnya dihapus.

"Kita harus berada di garda depan untuk melawan aktivitas ekstremis yang membenci yang berusaha memecah belah dan merusak segala yang diperjuangkan negara kita," kata Sarah.

Komisi menyerukan pemerintah untuk mengembangkan rencana yang jelas untuk memotong dan menangkal pandangan ekstremis sayap kanan dan memastikan bahwa hukum hasutan kebencian dapat ditegakkan secara online. [yy/tempo]