21 Dzulhijjah 1442  |  Sabtu 31 Juli 2021

basmalah.png

Dari Jeddah ke Yerusalem: Umat Islam Banjiri Masjid-Masjid

Dari Jeddah ke Yerusalem: Umat Islam Banjiri Masjid-Masjid

Fiqhislam.com - Ketika cahaya pertama muncul di cakrawala dan panggilan shalat Subuh terdengar, umat Islam dari Riyadh, Madinah, Jeddah hingga Yerusalem berbondong-bondong kembali ke masjid-masjid mereka pada Ahad.

Umat Islam di semua titik ini melepaskan kerinduan amat mendalam kepada masjid-masjid mereka, setelah istirahat dua bulan karena pandemi virus corona.

Lebih dari 90.000 masjid di seluruh Arab Saudi telah dibersihkan dan disanitasi untuk persiapan pelonggaran virus corona. Para kaum beriman ini mendaatangi masjid dengan sejumlah syarat pembatasan sosial.

Mereka harus mengenakan topeng wajah, menjaga jarak minimal dua meter, membawa sajadah doa mereka sendiri, dan melakukan ritual wudhu di rumah.

“Perasaan saya tidak bisa dilukiskan. Kami sangat senang. Alhamdulillah kita kembali ke rumah-Nya,” kata Abdulrahman, 45, di Masjid Al-Rajhi di Riyadh, tempat para jamaah memeriksa suhu mereka sebelum masuk.

Layar televisi di dalam masjid menampilkan instruksi tertulis, termasuk kebutuhan untuk menjaga jarak aman dari orang lain untuk mencegah penyebaran COVID-19.

Di Yerusalem, pada pukul 3:30 pagi, ribuan orang berkerumun di luar tiga gerbang yang ditugaskan untuk dibuka agar umat Islam dapat memasuki Masjid Al-Aqsa.

Tua dan muda, pria dan wanita, banyak dengan kamera ponsel menyala, menyanyikan lagu-lagu religius ketika mereka menunggu untuk kembali pertama kalinya sejak kuncian virus dimulai.

“Mereka yang ingin shalat diperiksa suhu tubuhnya dan mereka yang tidak memakai topeng diberikan oleh staf Wakaf. Semua diminta untuk menjaga jarak yang aman dari satu sama lain ketika mereka berdoa," kata Mazen Sinokrot, seorang anggota Wakaf Islam, kepada Arab News.

Wasfi Kailani, direktur eksekutif Dana Hashemite untuk Pemulihan Masjid Al-Aqsa, mengatakan bahwa ritual umat Islam berdoa dalam jumlah besar dan sesuai persyaratan kesehatan telah berjalan dengan lancar.

"Orang-orang bekerja sama dengan otoritas Muslim setempat dan mengikuti peraturan. Orang-orang Yerusalem telah menunjukkan tanggung jawab yang tinggi," katanya.

Juru bicara polisi Israel Miky Rosenfeld mengatakan kepada Arab News bahwa unit polisi tambahan telah dikerahkan di kota tua Yerusalem untuk pembukaan kembali Al-Aqsa.

"Orang-orang tiba di daerah yang dijadwalkan sesuai dengan pedoman kesehatan dan keamanan," katanya.

Khaled Abu Arafeh, mantan Menteri Yerusalem dalam pemerintahan Ismael Haniyeh pada tahun 2006, mengatakan orang-orang senang bisa berdoa lagi di situs paling suci ketiga Islam itu.

"Sudah waktunya untuk membuka halaman baru bekerja sama dengan lembaga-lembaga lokal dan dengan Jordan untuk mendapatkan kembali semua yang telah hilang selama bertahun-tahun," katanya kepada Arab News.

Di tempat lain di Arab Saudi, penerbangan komersial kembali mengudara, staf kantor kembali bekerja dan restoran kembali melayani pengunjung ketika kehidupan mulai kembali secara bertahap ke normal setelah kuncian virus corona.

Sebelas dari 28 bandara Kerajaan dibuka pada hari Ahad untuk pertama kalinya sejak 21 Maret. "Pembukaan kembali secara bertahap dan progresif bertujuan mengendalikan kerumunan di dalam bandara karena kami ingin mencapai efisiensi kesehatan tertinggi," kata juru bicara penerbangan sipil Ibrahim bin Abdullah Alrwosa.

Tidak seorang pun tanpa e-tiket akan diizinkan masuk ke bandara, masker wajah harus dikenakan dan menjaga jarak dengan aman, dan anak-anak di bawah 15 tahun tidak boleh bepergian tanpa ditemani. [yy/republika]