21 Dzulhijjah 1442  |  Sabtu 31 Juli 2021

basmalah.png

Sejumlah Negara Muslim Mulai Buka Masjid

Sejumlah Negara Muslim Mulai Buka Masjid

Fiqhislam.com - Sejumlah negara mulai berancang-ancang membuka rumah ibadah sebagai langkah pelonggaran pencegahan Covid-19. Tren ini menyusul mulai melandainya penularan Covid-19 di wilayah masing-masing.

Di Arab Saudi, Kementerian Agama telah menetapkan panduan beribadah di masjid seiring dibukanya kembali masjid-masjid pada Rabu (27/5). Namun, pelonggaran ini belum berlaku untuk masjid di Kota Suci Makkah.

Dilansir dari Saudi Gazette, Menag Saudi, Syekh Abdullatif Al-Asheikh, menginstruksikan pengurus masjid menaati pedoman tersebut. Isi pedoman itu, masjid dibuka 15 menit sebelum azan dan ditutup lagi 10 menit setelah shalat. Kedua, pembatasan waktu jeda antara azan dan iqamah hanya 10 menit. Ketiga, membuka pintu dan jendela selama shalat berlangsung.

Berikutnya, panduan itu mengatur agar jamaah menjaga jarak setidaknya dua meter dengan jamaah lain. Dengan demikian, selama shalat, dianjurkan ada ruang yang dibiarkan terbuka di antara para jamaah.

Panduan ini melarang pemberian makanan dan minuman di lingkungan masjid. Para jamaah juga diminta berwudhu dari rumah karena toilet dan tempat wudhu dianjurkan ditutup. Imam di setiap masjid diminta terus menyosialisasikan panduan ini agar ditaati jamaah. Panduan seperti penggunaan masker, membawa sajadah pribadi, dan mengindari ke rumunan tetap berlaku.

Aturan ini sedikit berbeda jika ingin mengadakan shalat Jumat. Ketika shalat Jumat, masjid boleh buka pintu 20 menit sebelum azan dan baru menutup pintu 20 menit setelah shalat. Waktu berlangsungnya shalat Jumat termasuk khutbah ditetapkan tak boleh lebih dari 15 menit.

Selain ibadah shalat, masjid belum diizinkan mengadakan kegiatan lain, seperti menghafal dan belajar Alquran. Kegiatan itu disarankan dijalankan di rumah secara virtual. Sebab, jamaah masjid dilarang berkerumun. Kerajaan Arab Saudi mencatat 2.235 kasus baru Covid-19 pada Senin dengan total menjadi 74.795 dan jumlah kematian meningkat sembilan menjadi 399.

Pemerintah Mesir juga mulai mematangkan rencana pembukaan tempat ibadah. Menteri Wakaf Mesir Mohamed Mokhtar Gomaa mengatakan, rencana itu dilakukan setelah ada peninjauan oleh komite manajemen krisis virus Covid-19 pemerintah pada awal pekan depan.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada Selasa (26/5) waktu setempat seperti dilansir Ahram Online, rencana ini disiapkan berdasarkan arahan Perdana Menteri Mostafa Madbouly sebelum Idul Fitri. Hal ini setelah melihat ketaatan warganya selama bulan Ramadhan.

Pemerintah Mesir telah menutup masjid dan gereja sejak Maret lalu dalam upaya untuk menahan penyebaran virus korona. Data terakhir pada 21 Mei, sebanyak 14.229 kasus virus korona terkonfirmasi di Mesir dengan jumlah pasien meninggal sebanyak 680 orang dan pasien sembuh 3.994 orang.

Palestina juga mulai membuka kembali rumah-rumah ibadah yang ada di Tepi Barat, tepatnya di wilayah yang diduduki oleh Israel pada Selasa (26/5). Di antara rumah ibadah yang telah dibuka kembali adalah masjid di Hebron dan Gereja di Bethlehem yang dalam tiga bulan terakhir ditutup bagi umum.

Anadolu Agency melaporkan, warga Muslim pun terlihat mulai kembali melaksanakan ibadah shalat Subuh di Masjid Ibrahimi. Meski demikian, terdapat sejumlah aturan yang harus dipatuhi untuk mencegah risiko penularan virus korona jenis baru lebih lanjut.

Menurut pejabat untuk Hebron, Hezfi Abu Sneineh, otoritas Israel hanya mengizinkan 50 jamaah yang masuk ke Masjid Ibrahimi untuk meminimalisasi penyebaran Covid-19. Karena itu, masjid melaksanakan shalat berjamaah sebanyak tiga kali untuk setiap waktu shalat, memungkinkan orang-orang tetap dapat beribadah bersama-sama.

Sementara, Malaysia telah membuka rumah ibadah secara terbatas sejak pertengahan Mei lalu. Pemerintah Malaysia melarang warga yang tidak terdaftar dalam jamaah untuk ibadah di masjid untuk shalat. Mereka bahkan tidak diperbolehkan ikut beribadah meskipun hal itu dilakukan di luar lingkungan masjid.

Seperti diwartakan kantor berita Malaysia, Bernama, pada Ahad (17/5), hal tersebut dilakukan sebagai penegasan kebijakan pembatasan sosial bersakala besar (PSBB) versi Malaysia. "Kami sepakat, setiap shalat Jumat dan shalat lainnya, kepolisian dan RELA (Departemen Relawan Malaysia) akan memantau situasi untuk memastikan kepatuhan dengan SOP di masjid yang diizinkan untuk melakukan ibadah," kata Menteri Keamanan Malaysia, Datuk Seri Ismail Sabri Yaakob.

Kementerian Agama Brunei Darussalam memberi izin pembukaan masjid untuk ibadah berjamaah di seluruh negeri. Para jamaah telah menunggu 10 pekan semenjak korona mewabah untuk bisa beribadah di masjid lagi.

Seluruh masjid, surau, dan rumah ibadah lain telah mendapat izin untuk menyelenggaraan ibadah berjamaah secara terbatas. Termasuk, mengadakan ibadah shalat Jumat pekan ini.

Kemenag Brunei baru-baru ini mengirim tim pemantau ke kota Kuala Belait untuk menyaksikan persiapan pembukaan lagi Masjid Mohammad Jamalul Alam. Kegiatan itu dipimpin oleh Haji Mohd Serudin bin Haji Timbang selaku Deputi Kemenag Brunei.

Serudin menekankan pentingnya mengikuti pedoman kesehatan yang ditetapkan Kementerian Kesehatan. Di antaranya pengecekan suhu tubuh pembatasan jumlah jamaah, pengaturan jarak antarjamaah.

"Sesuai saran dari Kemenkes, maka hanya mereka yang mendapat kode hijau dari aplikasi BruHealth yang diizinkan mendatangi masjid," kata Serudin dilansir dari Borneo Bulletin, Kamis, (28/5).

Serudin mengimbau seluruh jamaah dan pengurus masjid mematuhi protokol kesehatan pencegahan korona. Langlah itu diambil demi keselamatan semua pihak. "Kami berusaha menjamin kesehatan dan keselamatan semua yang datang untuk shalat Jumat di masjid," ujar Serudin.

Rencana pembukaan masjid lagi akan dilaksanakan dalam beberapa tahapan. Tahap pertama ialah penyelenggaraan shalat Jumat pada 29 Mei, 5 Juni, dan 12 Juni. Tahap kedua, ibadah diadakan dua pekan setelahnya jika tak ada temuan kasus korona. [yy/ fitriyan zamzami/republika]