21 Dzulhijjah 1442  |  Sabtu 31 Juli 2021

basmalah.png

Dilema Masjid di Balik Rencana Pencabutan Karantina Italia

Dilema Masjid di Balik Rencana Pencabutan Karantina Italia

Fiqhislam.com - Langkah Italia yang memulai fase kedua pasca pencabutan penetapan karantina wilayah memungkinkan rumah ibadah termasuk masjid-masjid di negara itu bisa beroperasi lagi.

Seperti gereja-gereja katolik di negeri pizza itu bakal memulai kembali pelayanan pada 18 Mei mendatang.

Sementara komunitas Muslim di Italia sedang membicarakan dengan Kementerian Dalam Negeri agar masjid juga bisa kembali membuka pintu bagi berbagai pertemuan dan juga pelaksanaan sholat berjamaah.

Seperti diketahui masjid-masjid di Italia tutup sejak penetapan karantina karena virus corona pada 9 Maret lalu. Ada sebanyak 2,5 juta Muslim di Italia, masalahnya sebagian besar masjid yang ada di negara itu berukuran kecil.

Seperti ada hampir 100 masjid di ibu kota Roma dan separuhnya lebih kecil dibanding masjid Agung Roma, terlebih masjid-masjid itu bukan milik salah satu asosiasi Islam nasional.

Presiden Persatuan Komunitas Islam Italia, Yassine Lafram, yang mewakili 163 masjid di seluruh Italia, merasa khawatir masjid-masjid yang berukuran kecil tak bisa menjamin persyaratan yang ditetapkan pemerintah untuk menjaga jarak sosial bila kemudian dibuka lagi.

"Sebagian besar masjid-masjid itu bukan milik asosiasi nasional, ini sebabnya saya memberi tahu semua masjid di Italia, bila tanggal diputuskan silakan buka hanya bila anda bisa menjamin keamanan jamaah, tapi kalau tidak, tolong tutup saja," kata Lafram seperti dilansir Arab News pada Rabu (13/5).

Hussein Salah salah satu imam yang memimpin 12 ribu Muslim di kota pelabuhan Genoa mengatakan lockdown selama Ramadhan telah membuat mereka tak bisa berkumpul untuk melaksanakan sholat sunnah malam seperti tarawih dan lainnya. Salah pun mengkhawatirkan umat Muslim di Italia tak bisa merayakan Idul Fitri tahun ini.

"Bahkan sebelum lockdown, kami sudah merekomendasikan tidak datang sholat Jumat karena itu bisa membantu penyebaran infeksi. Saya yakin itu adalah pilihan yang tepat,” ujar dia.

Di sisi lain, kata dia, Islam memberikan relevansi yang besar dengan ritual terkait dengan pemurnian dan kebersihan pribadi. “Sering mencuci tangan, hidung dan mulut adalah bagian dari budaya kita, ini tentu saja membantu," katanya.

Salah masih menanti keputusan pemerintah tentang usulan pembukaan kembali masjid-masjid di negara itu. Namun demikian menurut Salah jaga jarak sosial minimal 1 meter akan menjadi sulit dilakukan terlebih pada pertemuan jamaah yang banyak.

"Kita harus liat apa hanya sholat individu atau beritikaf yang dibolehkan atau kita juga punya lampu hijau untuk pertemuan yang lebih besar. Sholat bersama mengharuskan orang untuk dekat sebagai tanda persatuan dan kesetaraan di antara manusia. Tak perlu dikatakan jarak sosial minimal 1 meter diperlukan, ini akan sulit dilakukan," katanya.

Selama Ramadhan, komunitas Muslim Genoa kerap membantu masyarakat yang kesulitan di tengah lockdown. Mereka juga bertemu secara virtual melalui platform daring untuk berbagi kesempatan dan iftar.

Sementara draf terkait langkah-langkah keamanan untuk mendukung dibukanya kembali tempat ibadah telah diajukan. Termasuk membersihkan tempat-tempat ibadah sebelum dan sesudah kegiatan keagamaan diadakan, menggunakan ruang luar sebisa mungkin untuk mematuhi protokol jarak sosial, wajib menggunakan masker, sarung tangan dan desinfektan untuk jamaah, serta disiplin yang ketat untuk akses masuk dan keluar dari tempat ibadah.

"Kami sedang mengerjakan protokol 'ad hoc', tetapi kami belum memperoleh tanggal untuk dibuka kembali. Kami ingin membuka kembali tetapi dengan aman. Kami berharap kami akan mencapai solusi 24 Mei selambat-lambatnya untuk akhir Ramadhan, " katanya.

Berdasarkan data Universitas Jhon Hopkins ada 30.560 kematian tercatat di Italia dan jumlah kasus yang terkonfirmasi lebih dari 219 ribu kasus. [yy/republika]