25 Dzulhijjah 1442  |  Rabu 04 Agustus 2021

basmalah.png

Dewan Muslim Inggris Imbau Jamaah Tetap di Rumah

Dewan Muslim Inggris Imbau Jamaah Tetap di RumahFiqhislam.com - Ketua Komisi Hak Asasi Manusia Islam atau Islamic Human Rights Commission (IHRC) di Inggris menyebut para pemimpin Muslim gagal memimpin krisis virus corona. Ia bersikeras semua masjid harus ditutup untuk mencegah penyebaran penyakit.

Masjid-masjid di seluruh negeri, termasuk Dewan Muslim Inggris, telah mengikuti saran pemerintah. Mereka menyarankan jamaah tetap tinggal di rumah jika memungkinkan dan mengikuti pedoman kebersihan yang ada. Namun, hingga saat ini mereka belum meminta untuk menutup masjid.

Ketua IHRC Massoud Shadjareh mengatakan kondisi saat ini tidak cukup baik. Masjid dan organisasi Muslim harus menunjukkan kepemimpinan tentang masalah ini.

"Saya pikir komunitas kami perlu bangkit untuk kesempatan ini. Salah satu tanggung jawab pertama yang kita miliki adalah menjaga komunitas kita dan meminimalkan risiko orang terinfeksi. Kita harus menjaga yang paling rentan, orang tua, dan mereka yang memiliki kondisi riwayat penyakit sebelumnya," ujar Shadjareh dikutip di 5 Pillars UK, Senin (16/3).



Ia menyebut salah satu prinsip paling dasar yang diketahui semua orang untuk melawan virus corona adalah tidak melakukan hal yang dapat menyebarkan penyakit dan virus tersebut. Prinsip itu menjadi bagian tak terpisahkan dari syariah Islam.

Hal-hal seperti shalat berjamaah yang dapat membantu menyebarkan virus, disebut perlu dibatalkan. Orang-orang perlu tinggal di rumah. Orang-orang yang masih menjalankan ibadah ke masjid berarti menempatkan diri mereka pada risiko yang tidak perlu.

"Terutama jika mereka sudah lanjut usia dan pergi ke masjid untuk shalat lima waktu. Proporsi orang yang berusia lanjut terkena virus sangat tinggi," ujarnya.

Shadjareh menyarankan dengan tidak adanya penutupan masjid, maka harus lebih banyak gel sanitasi disediakan. Jamaah juga harus membawa sajadah mereka sendiri untuk menghindari penyebaran virus yang dapat menginfeksi karpet masjid.

Mengenai saran pemerintah untuk tidak menutup pertemuan massal, Shadjareh mengatakan pemerintah Inggris dan AS sama sekali tidak selaras dengan saran dari seluruh dunia dan bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). “Bahkan klub sepak bola membatalkan pertandingan. Sangat memalukan klub sepak bola dan klub rugby tampaknya lebih peduli tentang komunitas mereka daripada kita," katanya.

Klub-klub tersebut tidak menunggu pemerintah. Mereka mengambil inisiatif yang harus dilakukan oleh umat Islam. Hal ini seharusnya juga dilakukan umat Muslim, tidak menunggu pemerintah memberi tahu apa yang harus dilakukan.

Dengan membuat keputusan sendiri, disebut merupakan kesempatan bagi umat Muslim untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat luas. Muslim bisa mengajarkan orang tentang kebersihan.

Dalam Islam, sangat penting untuk mencuci tangan sebelum melakukan sesuatu dan mencuci tangan setelah melakukan sesuatu. Pemuda Muslim bisa keluar dan membantu masyarakat yang rentan. Shadjareh menyebut Muslim harus memiliki standar yang lebih tinggi daripada pemerintah.

Pekan lalu, Dewan Muslim Inggris menyampaikan saran kepada ke masjid dan pusat Islam. Dalam imbauan itu disebut, jamaah diharap tidak mendatangi masjid jika baru-baru ini mengunjungi negara-negara zona merah. Atau jika jamaah memiliki gejala seperti flu, serta telah melakukan kontak dengan Covid-19 yang dikonfirmasi, sebanyak 19 kasus. Tapi saran itu tidak menyerukan penutupan masjid.

Dewan Ulama, Wifaqul Ulama, mendesak warga yang berusia lebih dari 60 tahun shalat di rumah alih-alih menghadiri masjid untuk shalat berjamaah. "Dalam pedoman medis terbaru yang kami terima, satu dari setiap 20 orang yang tertular virus corona akan mengalami gejala agresif dan berpotensi meninggal.  Namun, tingkat kematian untuk usia lebih dari 60-an yang tertular virus corona (Covid-19) jauh lebih tinggi, yaitu 25 persen," tulis Dewan Ulama, Wifaqul Ulama dalam keterangannya.

Keputusan ini diharap tidak dianggap enteng. Keluarga para lansia sangat disarankan mempertimbangkan implikasi individu yang akan meninggal dunia dari virus ini.

Sebagai contoh, karena virus dapat tetap aktif dalam tubuh korban selama berhari-hari setelah kematiannya, jasadnya akan disegel dalam kantong mayat dan segera dikuburkan di dalamnya. Anggota keluarga juga mungkin tidak dapat melihat jenazah karena diisolasi. [yy/republika]