18 Rabiul-Awal 1443  |  Minggu 24 Oktober 2021

basmalah.png

Mahathir: Kami Ingin Kurangi Ketergantungan pada Non-Muslim

Mahathir: Kami Ingin Kurangi Ketergantungan pada Non-MuslimFiqhislam.com - Perdana Menteri Malaysia, Tun Dr Mahathir Mohamad, mengatakan pihaknya berupaya menyelenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kuala Lumpur Summit untuk meningkatkan kehidupan umat Islam di seluruh dunia.

"Besok kita akan berusaha untuk mengatasi keadaan urusan umat Islam. Kami telah berusaha untuk mengadakan KTT ini karena kami merasa bahwa kami harus melakukan sesuatu untuk meningkatkan kehidupan umat Islam di seluruh dunia," ujar Mahathir pada sambutan makan malam peserta KL Summit di Mandarin Oriental Hotel, Rabu (18/12).

Ketua KL Summit tersebut mengatakan pihaknya merasa perlu mengatasi Islamofobia dan perlu menemukan cara untuk mengatasi kekurangan umat Islam, ketergantungan umat Islam pada non-Muslim untuk melindungi umat dari musuh-musuh Islam.



"Sungguh suatu kesenangan bagi kami untuk diberi kesempatan untuk menjadi tuan rumah bagi anda semua untuk makan malam ini yang diadakan bersamaan dengan KTT Kuala Lumpur 2019 yang secara resmi akan dimulai besok," katanya.

Mahathir mengatakan meskipun peserta akan membahas semua topik serius dan diskusi selama tiga hari ke depan makan malam tetap sangat relevan.

"Untuk semua delegasi Malaysia kami, berada di sini malam ini memberi kami kesempatan untuk menjadi tuan rumah yang sempurna. Ini juga merupakan kesempatan bagi kita untuk lebih dekat dengan saudara-saudari Muslim kita sebagaimana diperintahkan dalam Alquran bahwa semua Muslim adalah saudara," katanya.

Mahathir mengatakan terdapat pepatah Melayu "tak kenal maka tak cinta" diterjemahkan secara harfiah berarti anda tidak akan mencintai jika anda tidak saling kenal.

"Untuk tamu asing kami, adalah sambutan yang sangat hangat dan undangan bagi anda semua untuk menjelajahi Malaysia dan untuk mengenal orang-orang kami," katanya.

Dia mengatakan walaupun mayoritas orang Malaysia adalah Muslim pihaknya memiliki minoritas substansial yang berasal dari berbagai agama, budaya, adat istiadat, dan cara hidup.

"Kami tidak akan pernah mengklaim sebagai Muslim yang sempurna atau model negara Muslim yang baik, tetapi kami dapat membuktikan bahwa kami telah dapat hidup dengan warga non-Muslim dalam damai dan harmonis selama beberapa dekade dan tradisi ini telah ada sejak kemerdekaan kami," katanya.

Dia mengatakan harus diakui ada konflik rasial dan agama kecil tetapi jarang terjadi dan sedikit, tidak signifikan jika dibandingkan dengan periode perdamaian, niat baik dan kemakmuran.

"Bagi kami, itulah yang diminta Islam untuk dilakukan-hidup damai dengan warga non-Muslim kami dan bekerja sama untuk membangun negara yang makmur, damai, dan harmonis," katanya. [yy/republika]