23 Dzulhijjah 1442  |  Senin 02 Agustus 2021

basmalah.png

Penjualan Gereja Dibatalkan, Pembangunan Masjid di Montreal Ditunda

Penjualan Gereja Dibatalkan, Pembangunan Masjid di Montreal DitundaFiqhislam.com - Rencana untuk mengubah gereja lokal di Montreal, Kanada, menjadi masjid dan pusat kebudayaan Islam akhirnya ditunda setelah adanya kemungkinan penjualan gereja dibatalkan.

Penundaan ini terjadi sebagai akibat dari reaksi penduduk di wilayah utara Montreal tersebut. Para pemimpin Paroki (keuskupan) meminta peristiwa penembakan massal umat Islam pada 2017 di kota Quebec dijadikan sebagai pembenaran untuk menunda proyek tersebut. 

Para anggota keuskupan di Trois-Rivieres, Quebec, yang terlatak di sepanjang Sungai St. Lawrence antara Montreal dan Kota Quebec, mengirim satu litani email kemarahan dan mengancam ke paroki. Sementara pihak lain berbicara selama konsultasi publik yang diadakan di awal Oktober lalu. 



Seorang anggota paroki yang memimpin sebuah komite tentang masa depan gereja-gereja di kawasan itu, Rene Beaudoin, mengatakan protes tersebut membuat Uskup Luc Bouchard memikirkan dari enam pria Muslim yang ditembak mati di sebuah masjid di kota Quebec pada 2017. Uskup lantas memutuskan untuk menghentikan proses penjualan gereja tersebut. 

Menurutnya, Uskup tidak ingin peristiwa penembakan seperti demikian terjadi di Trois-Rivieres. Paroki, kata dia, ingin bersikap bijaksana. 

"Kami mendapat email yang mengatakan, 'penjualan tidak akan terjadi' dan hal-hal lain seperti itu. Jadi Uskup menghentikan penjualan. Dia bilang dia ingin memadamkan api," kata Beaudoin, dilansir di Toronto Star, Jumat (1/11).

Kisah demikian menyoroti ketegangan yang membara di Quebec, ketika provinsi itu menghadapi pergolakan sosial dan demografis. Populasi di Quebec dengan identitas sekulernya yang keras di antara mayoritas franchopone (penutur bahasa Prancis) mendorong gereja-gereja di seluruh wilayah itu menuju kebangkrutan.

Di saat yang sama, berlangsung imigrasi yang membawa gelombang pendatang baru yang beragam keyakinan dan perspektif yang turut berpengaruh terhadap identitas provinsi itu. Di Trois-Rivieres, gereja St-Jean-de-Brebeuf yang kurang dimanfaatkan saling berhadapan dengan pusat kebudayaan Islam yang tengah berkembang. 

Beaudoin mengatakan, komunitas Muslim sudah menggunakan ruang bawah tanah gereja untuk kegiatan. Saat para pemimpin masjid mengetahui bahwa gereja tersebut tengah berjuang secara finansial, mereka mulai bernegosasi dengan paroki untuk membeli bangunan itu. 

Menurutnya, kedua pihak menetapkan label harga senilai 500 ribu dolar. Namun, ketika proses penjualan berlanjut ke tahap konsultasi publik, sekitar 100 warga muncul pada 8 Oktober 2019 lalu. 

Seorang pria di daerah setempat mengatakan, bahwa dalam beberapa tahun ini akan menjadi zona larangan, tempat di mana umat Katolik tidak akan bisa pergi ke gereja. Ia menggunakan istilah yang biasa terdengar di media sayap kanan untuk menggambarkan mayoritas Muslim di lingkungan di kota-kota Eropa. 

"Itu yang kamu inginkan untuk anak-anakmua?" kata pria tersebut, menurut surat kabar Le Nouvelliste.

Menurut Beaudoin, Islamofobia adalah alasan utama yang mendorong adanya penentangan terhadap penjuangan gereja di Trois-Rivieres. Namun, ia juga menekankan bahwa banyak orang Quebec yang menolak untuk mengakui situasi genting gereja-gereja Kristen di provinsi itu.

Sementara itu, para pemimpin masjid di Trois-Rivieres tidak banyak berkomentar. Namun, presiden dan salah satu pendiri masjid utama kota Quebec, Boufeldja Benabdallah, mengatakan bahwa ia memahami apa yang tengah dialami masyarakat.

Sebanyak enam jamaah dibunuh oleh seorang pria bersenjata di masjid Benabdallah pada 2017. Dalam sebuah referendum sekitar enam bulan kemudian, warga pinggiran kota Quebec menolak proposal untuk membangun pemakaman Islam pertama di kawasan itu. Pemakaman itu adalah sebuah proyek yang dikerjakan oleh Benabdallah dan yang lainnya selama dua dekade. 

Menurutnya, masyarakat bertindak sangat alergi terhadap proposal dari komunitas Muslim. Namun, walikota Quebec akhirnya menengahi dan memulai proses penjualan sebidang tanah milik kota kepada masyarakat untuk membuat pemakaman. 

Benabdallah telah tinggal di Quebec lebih dari 50 tahun lalu dari Aljazair. Ia paham betul dengan kondisi masyarakat di sana. Karena itu, ia meminta umat Muslim di provinsi itu untuk bersabar. 

"Apa gunanya marah, berteriak? Mari kita menerima prinsip bahwa orang akan bereaksi buruk. Kami kecewa tetapi kami terus berbicara. Itu penting." ujar Bendabdallah. 

Ia mengatakan, bahwa waktu akan berpihak kepada komunitas Muslim di provinsi itu, seperti halnya bagi imigran Italia, Yahudi, dan Haiti. Menurutnya, mereka pernah diperlakukan seperti musuh, namun akhirnya menjadi bagian dari struktur masyarakat Quebec. 

"Kami berada dalam situasi yang menyakitkan sekarang tetapi perubahan selalu menang. Sekarang giliran umat Islam dan besok akan giliran kelompok lain," tambahnya. [yy/republika]

Tags: Montreal | Kanada