21 Dzulhijjah 1442  |  Sabtu 31 Juli 2021

basmalah.png

Kisah Bocah Yatim 13 Tahun Asal Afghanistan Yang Nafkahi 9 Anggota Keluarganya

Kisah Bocah Yatim 13 Tahun Asal Afghanistan Yang Nafkahi 9 Anggota Keluarganya


Fiqhislam.com - Manzur Khan adalah satu dari jutaan anak yatim piatu Afghani yang tinggal di negara yang penuh perang, namun pengalaman kehidupannya yang sulit, dan perjuangan memberi nafkah kedelapan adik laki-laki dan saudara perempuannya dan ibunya, membuatnya istimewa.

Tinggal di sebuah kamp darurat untuk orang-orang yang kehilangan tempat tinggal di ibu kota Afghanistan, Manzur harus memulai harinya dengan melewatkan empat saudara perempuannya ke sekolah. Anak berusia 13 tahun itu sudah mulai bekerja sejak dini hari.

Meski terlihat lemah dan pendiam, dia mulai berkeliling di sekitar wilayah Mazroryan sebelum toko-toko buka. Dia menawarkan jasa pengiriman barang-barang kepada pembeli dengan gerobak dorong. Namun barang-barang yang dia kirim, sebagian besar adalah cuma impiannya yang tidak bisa dia berikan kepada adik-adiknya dan ibunya. Jika dia beruntung, uang sebesar 3 dollar bisa dia dapatkan dalam kerja seharian yang sangat melelahkan, demikian reportasi yang ditampilkan oleh aboutislam.net, Rabu 10 Januari 2018.

Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan AboutIslam.net, Manzur mengatakan bahwa dia tidak dapat mengubah masa lalunya, namun bertekad untuk mengubah masa depan keluarganya.

“Kami harus meninggalkan rumah kami di provinsi Laghman sepuluh tahun yang lalu. Ayah saya meninggal karena kanker, dan sekarang saya satu-satunya ‘pria’ yang merawat empat adik perempuan, tiga adik laki-laki, dan ibu saya, ” katanya.

Meski usianya masih muda, Manzur tidak pernah merasa khawatirmemikul tanggung jawab besar di bahunya yang mungil.

“Apapun yang kita alami telah menjadi takdir kita sejauh ini, dan saya berharap Insya Allah kesulitan seperti itu tidak akan bertahan selamanya,” tambah anak muda itu.

Tetap Sekolah

Dengan dukungan beberapa dermawan lokal, ibu Manzur mendaftarkannya ke sebuah sekolah sore, sehingga dia tidak kehilangan kesempatan belajar selain mencarinafkah untuk saudara-saudaranya.

“Saya tidak akan pernah menginginkan saudara dan saudari saya untuk tidak berpendidikan bahkan jika saya harus mengorbankan sekolah saya sendiri. Sebuah organisasi amal sekarang telah membantu mendaftarkan saya di sebuah sekolah, dan saya bahagia, syukurlah, ” kata Manzur.

Ibunya memiliki perasaan bangga sekaligus sedih mengenai Manzur.

“Kami bertahan karena dia (Manzur), tapi dia sendiri masih kecil, dia sekarang adalah kepala keluarga. Terkadang dia mendapatkan 100 afghanis (2 dollar), terkadang lebih dan terkadang kurang, tapi syukurlah dia ada untuk kami,” ungkapnya.

Ibunya mengurus ketiga anak laki-laki yang lebih kecil di rumah. Di Afghanistan, kehidupan bisa sangat sulit bagi seorang janda dengan sejumlah anak yang harus dirawat, dimana pelayanan sosial dan pendidikan sangat tidak memadai karena situasi perang dan pemerintahan yang korup.

“Saya meminta pemerintah untuk datang dan membantu kami agar anak saya (Manzur) tidak berada di bawah tekanan besar,” tambah ibu tersebut.

Bagi Malghalara, adik perempuan Manzur, saudara laki-lakinya adalah saudara laki-laki terbaik di dunia.

“Saya selalu suka membaca dan menulis, dan terima kasih kepada saudara laki-laki kesayangan saya, saya bisa ke sekolah”, katanya kepada AboutIslam. [yy/muslimdaily]

 

Tags: Afghanistan