20 Jumadil-Akhir 1443  |  Minggu 23 Januari 2022

basmalah.png
DUNIA ISLAM

Makkah dan Madinah Mercusuar Aktivitas Intelektual, Al-Azhar Mesir Mercusuar Ilmu Dunia Islam

Makkah dan Madinah Mercusuar Aktivitas Intelektual, Al-Azhar Mesir Mercusuar Ilmu Dunia Islam


Fiqhislam.com - Makkah merupakan kota kelahiran Nabi Muhammad SAW. Di sini pula lokasi Ka'bah, Masjid al-Haram, kawasan suci bagi umat Islam. Bagaimanapun, belum pernah ada satu entitas politik pun yang mengklaim Makkah sebagai pusat pemerintahan.

Makkah sudah dikenal sebagai salah satu kota penting dunia, setidaknya sejak abad pertama Masehi. Astronom Yunani Ptolemy (lahir 100 Masehi) menama kannya Macoraba. Sejak berkuasa pada abad kelima, suku Quraisy tidak men jadikan Makkah dalam genggaman po litik Romawi Timur maupun Persia.

Quraisy memilih sikap netral di tengah konflik pengaruh kedua imperium ter sebut. Dalam istilah sejarawan Henri Lammens (meninggal 1937), Makkah dalam masa klasik menjadi 'republik para pedagang'. Karakteristik terbuka kota ini tetap bertahan demi menghindari benturan-benturan politik yang dapat mematikan aktivitas perniagaan global.

Dengan sendirinya, Makkah menjadi kota kosmopolitan. Daya tarik utamanya adalah Ka'bah, tempat orang-orang yang da tang dari segala penjuru untuk bertawaf. Ritual tersebut sudah ada sejak pra-Islam. Dalam abad kedelapan Masehi, sarjana-sarjana dunia menyambangi Makkah untuk menghimpun ajaran Nabi SAW, sehingga memunculkan studi hadis.

Dalam disertasinya untuk Columbia University (1992), Azyumardi Azra menyebutkan, Makkah dan Madinah (Haramain) memainkan peran penting sebagai pusat persebaran gagasan reformasi di tubuh umat Islam sejak abad ke-17. Banyak ulama, sufi, pemikir, filsuf, dan sejarawan yang saling bertukar informasi dan ilmu di sana, termasuk benih-benih pemikiran antikolonialisme.

Gagasan reformasi itu sampai ke nusantara berkat para jamaah haji yang tinggal sementara di Haramain sebelum kembali ke Tanah Air. Bahkan, sejumlah ulama di Makkah merupakan kelahiran nusantara. Di antaranya adalah Syekh Achmad Kha tib al-Minangkabawi, imam besar Masjid al-Haram sekaligus ahli fikih mazhab Syafii kelahiran Sumatra Barat, 1860.

Mengutip pendapat sejarawan Taqi al- Din al-Fasi al-Makki al-Maliki, lanjut Azra, madrasah pertama di Makkah adalah Madrasah al-Ursufiyyah yang dibangun pada 1175. Pendirinya adalah 'Afif Abdullah Muhammad al-Ursufi. Lokasi madrasah ini berada di selatan Masjid al-Haram. Setahun sebelumnya, al-Ursufi juga membangun madrasah dengan konsep serupa di Kairo. Sampai akhir abad ke-16, ada sekitar 19 madrasah di seantero Makkah.

Ibnu Battutah yang menyambangi Madinah pada 1326 mencatat, aktivitas keilmuan berpusat di Masjid Nabawi. Para pelajar duduk melingkar dan mem bentuk majelis-majelis keilmuan. Sejara wan al- Samhudi, kata Azra, menyebut informasi, Sultan Bengal Ghiyath al-Din membangun sebuah madrasah di Madinah pada 1314.

Dalam abad ke-14, setidaknya ada delapan madrasah di Madinah. Pada era tersebut, jamak terjadi bahwa sultan-sultan dari India dan Turki menjadi filan tropis yang membangun institusi-institusi pendidikan di Haramain. Sebab, para ulama di Haramain merupakan tempat ber tanya dan meminta fatwa bagi per soalan kaum Muslim dari pelbagai penjuru dunia. [yy/republika]

Makkah dan Madinah Mercusuar Aktivitas Intelektual, Al-Azhar Mesir Mercusuar Ilmu Dunia Islam


Fiqhislam.com - Makkah merupakan kota kelahiran Nabi Muhammad SAW. Di sini pula lokasi Ka'bah, Masjid al-Haram, kawasan suci bagi umat Islam. Bagaimanapun, belum pernah ada satu entitas politik pun yang mengklaim Makkah sebagai pusat pemerintahan.

Makkah sudah dikenal sebagai salah satu kota penting dunia, setidaknya sejak abad pertama Masehi. Astronom Yunani Ptolemy (lahir 100 Masehi) menama kannya Macoraba. Sejak berkuasa pada abad kelima, suku Quraisy tidak men jadikan Makkah dalam genggaman po litik Romawi Timur maupun Persia.

Quraisy memilih sikap netral di tengah konflik pengaruh kedua imperium ter sebut. Dalam istilah sejarawan Henri Lammens (meninggal 1937), Makkah dalam masa klasik menjadi 'republik para pedagang'. Karakteristik terbuka kota ini tetap bertahan demi menghindari benturan-benturan politik yang dapat mematikan aktivitas perniagaan global.

Dengan sendirinya, Makkah menjadi kota kosmopolitan. Daya tarik utamanya adalah Ka'bah, tempat orang-orang yang da tang dari segala penjuru untuk bertawaf. Ritual tersebut sudah ada sejak pra-Islam. Dalam abad kedelapan Masehi, sarjana-sarjana dunia menyambangi Makkah untuk menghimpun ajaran Nabi SAW, sehingga memunculkan studi hadis.

Dalam disertasinya untuk Columbia University (1992), Azyumardi Azra menyebutkan, Makkah dan Madinah (Haramain) memainkan peran penting sebagai pusat persebaran gagasan reformasi di tubuh umat Islam sejak abad ke-17. Banyak ulama, sufi, pemikir, filsuf, dan sejarawan yang saling bertukar informasi dan ilmu di sana, termasuk benih-benih pemikiran antikolonialisme.

Gagasan reformasi itu sampai ke nusantara berkat para jamaah haji yang tinggal sementara di Haramain sebelum kembali ke Tanah Air. Bahkan, sejumlah ulama di Makkah merupakan kelahiran nusantara. Di antaranya adalah Syekh Achmad Kha tib al-Minangkabawi, imam besar Masjid al-Haram sekaligus ahli fikih mazhab Syafii kelahiran Sumatra Barat, 1860.

Mengutip pendapat sejarawan Taqi al- Din al-Fasi al-Makki al-Maliki, lanjut Azra, madrasah pertama di Makkah adalah Madrasah al-Ursufiyyah yang dibangun pada 1175. Pendirinya adalah 'Afif Abdullah Muhammad al-Ursufi. Lokasi madrasah ini berada di selatan Masjid al-Haram. Setahun sebelumnya, al-Ursufi juga membangun madrasah dengan konsep serupa di Kairo. Sampai akhir abad ke-16, ada sekitar 19 madrasah di seantero Makkah.

Ibnu Battutah yang menyambangi Madinah pada 1326 mencatat, aktivitas keilmuan berpusat di Masjid Nabawi. Para pelajar duduk melingkar dan mem bentuk majelis-majelis keilmuan. Sejara wan al- Samhudi, kata Azra, menyebut informasi, Sultan Bengal Ghiyath al-Din membangun sebuah madrasah di Madinah pada 1314.

Dalam abad ke-14, setidaknya ada delapan madrasah di Madinah. Pada era tersebut, jamak terjadi bahwa sultan-sultan dari India dan Turki menjadi filan tropis yang membangun institusi-institusi pendidikan di Haramain. Sebab, para ulama di Haramain merupakan tempat ber tanya dan meminta fatwa bagi per soalan kaum Muslim dari pelbagai penjuru dunia. [yy/republika]

Al-Azhar Mesir, Mercusuar Ilmu Dunia Islam

Al-Azhar Mesir, Mercusuar Ilmu Dunia Islam


Al-Azhar Mesir, Mercusuar Ilmu Dunia Islam


Fiqhislam.com - Kota yang terletak di daerah delta Sungai Nil ini sejak zaman purba menjadi pusat peradaban dunia. Pada awal abad ketujuh, Islam menguasai Mesir di bawah komando Amr bin Ash.

Salah satu pusat intelektual yang masyhur di Kairo adalah Universitas al- Azhar. Namanya berasal dari masa Dinasti Fatimiyah yang menguasai Mesir periode 909-1171.

Menurut Ensiklopedia Islam, peletakan batu pertama Masjid Raya al-Azhar, cikal bakal universitas tersebut, terjadi atas perintah Khalifah al-Mu'izz Lidinillah (953-975). Pembangunan masjid ini tuntas pada 971. Awalnya, nama masjid tersebut bukanlah al-Azhar, melainkan Jami' al-Kahhirah. Adapun nama al-Azhar dinisbahkan kepada gelar putri Rasulullah, Fatimah az-Zahra.

Pada awalnya, kegiatan belajar-mengajar di lingkungan al-Azhar dilatari kepentingan mazhab yang dianut penguasa setempat. Namun, dalam perkembangan berikutnya institusi tersebut menjadi lembaga pendidikan tinggi. Kegiatan akademis untuk pertama kalinya berlangsung pada 975 di al-Azhar.

Pemberi kuliahnya adalah Abu hasan Ali bin Muhammad bin an-Nu'man selaku qadi tertinggi Dinasti Fatimiyah kala itu.Jadwal yang lebih teratur berkat dorongan Wazir Ya'kub bin Killis atas izin Khalifah al-Aziz Billah Abu Mansur Nazzar (wafat 996 Masehi).

Saat kekuasaan beralih ke Dinasti Ayyubiyah, Universitas al-Azhar tak terlalu berkembang pesat. Ini lantaran kampus tersebut masih kuat menganut paham sebagaimana dinasti sebelumnya, Fatimiyah.

Perlahan, tapi pasti, para penguasa dan kalangan elite Dinasti Ayyubiyah berupaya menghidupkan lagi aktivitas intelektual di al-Azhar. Mereka mengundang para sarjana dari pelbagai penjuru Dunia Islam untuk datang dan mengajar di sana.

Dalam masa berikutnya, Dinasti Mamluk (1250-1517), Universitas al- Azhar sempat vakum 100 tahun lamanya. Bagaimanapun, periode ini merupakan masa yang penuh kemelut di pelbagai belahan Dunia Islam. Di timur, Baghdad porak-poranda akibat serangan bangsa barbar, sedangkan di Barat terjadi pengusiran di Andalusia.

Dalam momentum itulah, banyak sarjana Muslim dari timur dan Barat yang menyelamatkan diri ke Mesir. Tidak ada alasan untuk menunda aktivitas keilmuan di al-Azhar karenanya. Dinasti Mamluk mendukungnya dengan mengimbau para ulama agar membukukan pengajaran mereka.

Jabatan syekh atau rektor Universitas al-Azhar baru terbentuk pada 1517 Masehi. Seorang rektor al-Azhar berhak memberikan penilaian atau reputasi kepada para sarjana, guru, mufti, dan hakim. Sistem pengajaran di al-Azhar adalah lingkaran-lingkaran studi dalam masjid (halaqah), dengan syarah, diskusi-diskusi (niqasy), dan dialog (hiwar).

Sebelum tahun 1872, ijazah tidak diperoleh para mahasiswa melalui ujian, te tapi keputusan pribadi para guru dengan ketentuan yang ketat. Misalnya, untuk mahasiswa kuliah tertentu, ia di wajib kan mendampingi seorang guru besar sampai wafatnya sehingga diharapkan dapat mencapai taraf keilmuan yang setara.

Selain itu, ada pula ketentuan lain. Bilamana ada mahasiswa yang merasa mampu dalam matakuliah tertentu, ia berkesempatan mengajar dan memberikan fatwa terkait ilmu itu. Perpustakaan al-Azhar berdiri sejak 1879 Masehi dengan jumlah koleksi awalnya sebanyak 7.700 buku. [yy/republika]

 

Tags: Makkah | Madinah | Azhar