25 Dzulhijjah 1442  |  Rabu 04 Agustus 2021

basmalah.png

WACANA: Islam, ‘China’ dan Kebangkitan Timur

WACANA:  Islam, ‘China’ dan Kebangkitan Timur


Fiqhislam.com - Islam dan Tiongkok merupakan dua peradaban tua yang mengalami asimiliasi budaya selama berabad-abad. Peradaban menurut Samuel, P Huntington (The Clash of Civilization, 1996) adalah sebagai entitas kultural yang mencakup faktor-faktor obyektif sekelompok masyarakat, seperti bahasa, sejarah, agama, tradisi, institusi maupun identitas dan simbol identifikasi diri yang bersifat subyektif.

Dalam buku yang sama, Huntington memprediksi menguatnya peradaban Islam dan peradaban Tiongkok bersama peradaban Hindu (India), Jepang, Budha, Afrika, dan Amerika Latin, akan saling berbenturan atau sebaliknya, akan menyatu menjadi pesaing utama dari dominasi peradaban Barat. 

Dari berbagai peradaban tersebut, peradaban Islam dan Peradaban Tiongkok, dianggap bisa mewakili peradaban Timur, yang karena sifat asimilatifnya akan bersaing merebut dominasi peradaban Barat. Islam dan Tionghoa, meski berbeda akar kulturalnya, tetapi saling memengaruhi hampir separuh penduduk dunia dan tersebar di berbagai negara dan bangsa. Hal itu minimalnya terlihat dari populasi umat Islam dan komunitas etnis Tionghoa di berbagai negara. 

Menariknya, berbeda dengan nilai-nilai peradaban Barat, seperti sekularisme dan kapitalisme yang mengalami pertentangan keras ketika diterapkan di negara-negara berkembang, nilia-nilai keislaman dan tradisi Tionghoa bisa hadir dan menyatu dengan budaya lokal di berbagai negara. 

Martin Jacques (2009) memotret secara khusus perkembangan ekonomi Tiongkok beserta faktor-faktor pendukungnya. Sebagai negara sosialis, Tionghoa mengalami tekanan ekonomi serupa dengan negara-negara Amerika Latin.

Namun dalam tekanan tersebut, Tiongkok justru berhasil membangun sistem ekonomi yang mandiri dan mengimpor berbagai produk kuliner, pengobatan tradisional, dan manufakturnya ke seluruh dunia.

Penyebaran global masakan Tionghoa menurut Jacques, telah berlangsung selama beberapa dasawarsa, berkat migrasi orang-orang Tiongkok.

Tiongkok yang pada empat dasawarsa sebelumnya terkategori sebagai negara dunia ke tiga, kini telah  menjadi negara yang memiliki cadangan devisa terbesar di dunia.

Dengan pertumbuhan ekonominya yang fenomenal, ditunjang dengan investisasi di bidang militer yang besar-besaran,  negara tirai bambu ini juga diprediksi bakal menggeser dominasi Amerika Serikat sebagai negara hyperpower.

Dengan proteksi anggaran yang ketat, kini Tiongkok telah memanfaatkan globalisasi yang digulirkan Barat, untuk membangun kekuatan ekonomi di negaranya. Tiongkok menerapkan sistem ekonomi  yang  sangat  kapitalis dan moderen namun tetap memproteksi kepentingan negara dan warganya.

Reformasi ekonomi  pada 1978  telah  menjadikan  Tiongkok sebagai  salah  satu negara  tujuan terbesar  untuk FDI (foreign direct  investment)  dunia dan juga memiliki  hubungan yang penting di dalam rantai  persediaan dunia.  

Dari sebuah  negara  yang  begitu  terpuruk  ekonominya,  berpindah  menjadi peringkat ke-empat dunia tingkat pertumbuhan ekonomi paling cemerlang di  dunia.

Bahkan  beberapa  ahli  percaya  bahwa  Tionghoa  merupakan tantangan  yang  serius  bagi  Amerika  Serikat  untuk  menjadi  negara pemimpin dunia. (Herd & Dougherty, 2005)

Sejak 1978  hingga  2008,  GDP  Tiongkok  rata-rata meningkat  9,8 persen,  lebih  cepat  6,8 persen dari  tingkat pertumbuhan  ekonomi dunia  dalam kurun  waktu  yang  sama.  

Dari 1980  hingga  2008, perekonomian  Tiongkok tumbuh  14  kali  lipat. Hal  ini  menjadikan  Tiongkok sekarang sebagai negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia.

Perkembangan ekonomi  Tiongkok  yang  signifikan  menjadikan  posisi  Tiongkok  di  level internasional  semakin diperhitungkan. Kebangkitan  ekonomi Tiongkok bagaikan sebuah representasi  kemajuan negara-negara  yang dulu sering disebut  sebagai  negara  dunia  ketiga.  

Dengan  adanya pertumbuhan ekonomi  Tiongkok yang mengesankan, tidak memungkinkan negara-negara lain juga dapat melakukan hal serupa. Tiongkok, menjadi harapan kebangkitan banyak negara lainnya.

Kini, Tiongkok juga digadang-gadang akan menjadi pemimpin koalisi negara Asia dan menjadi cikal bakal munculnya isu integrasi Asia Timur.

Tiongkok dan Islam

Dari segi historis, kemajuan Tiongkok tidak bisa dilepaskan dari sejarah peradabannya yang dibangun dan jatuh bangun dalam ribuan tahun.

Peradaban awal Tiongkok bermula sejak zaman Dinasti Sang (1766-1122 SM), Dinasti Zou (1122-256 SM), Dinasti Qin(221-206 SM), Dinasti Han (206 SM-221 M), Dinasti Sui (581-618 M), Dinasti Tang (618-906 M), Dinasti Song (960-1268), Dinasti Yuan (1279-1368 M), Dinasti Ming (1368-1644 M), Dinasti Qing (1644-1912 M) hingga pemerintahan negara modern Republik Rakyat Tiongkok saat ini. 

Tak bisa dimungkiri bahwa umat Islam juga banyak menyerap ilmu pengetahuan serta peradaban dari Tiongkok, antara lain di bidang teknologi navigasi, persenjataan, kedokteran, hingga percetakan dan kertas, yang ikut memberi sumbangsih besar bagi kemajuan peradaban Islam pada abad ke-8. 

Menurut sejumlah literatur, Islam mulai masuk ke Tiongkok sekitar 616 Masehi, berselang waktu dengan hijrahnya Nabi Muhammad Saw bersama para sahabat, ke Habasyi atau Ethiopia pada 615 M.

Mohammed Khamouch dalam risetnya berjudul Jewel of Chinese Muslim’s Heritage (2005), menemukan manuskrip tentang kunjungan Sa’ad Ibn Abi Waqqas dan Ja’far bin Abu Thalib (salah satu sepupu Nabi) ke Tiongkok, yang didukung Raja Habasyi, Atsmaha Negus.

Kunjungan itu kemudian ditindaklanjuti dengan misi dakwah pada masa Khalifah Usman Ibnu Affan pada 651 M dan mendapat sambutan positif dari Kaisar Gaozong dari Dinasti Tang.

Kini Islam berkembang pesat dan populer di kalangan generasi muda Tiongkok. The China Religion Survey dalam surveinya pada 2015, mengungkapkan bahwa Islam adalah agama dengan pemeluk muda yang berusia di bawah 30 tahun terbanyak, yakni 22,4 persen. Islam dinilai paling populer di antara lima agama besar di Tiongkok (Buddha, Islam, Tao, Katolik dan Protestan).  

Pesatnya perkembangan Islam di Tiongkok, merujuk pada ulasan Khamouch (2005) adalah karena fleksibilitas ajaran Islam dan nilai-nilai kemanusiaan di dalamnya, yang selaras dengan tradisi Konfusius yang dianut mayoritas warga Tionghoa.

Dengan persentuhan budaya yang  telah berlangsung selama berabad lampau, ditambah kesamaan karakter nilai dan budaya dalam peradaban Islam dan peradaban Tiongkok dan sikap asimilatif keduanya terhadap kebudayaan lain, membuat Islam dan Tiongkok berpotensi bersatu.

Persatuan Islam dan Tiongkok inilah yang bisa jadi sangat ditakuti negara-negara hyperpower di Barat. Bahkan Presiden Amerika Serikat beberapa waktu lalu sempat mengungkap kekhawatiran tersebut di Polandia, seperti dikutip sejumlah media, dengan menyatakan bahwa, kini peradaban Barat sedang dipertaruhkan.

Islamofobia dan sentimen Tiongkok 

Meski peradaban Islam dan Tiongkok berpotensi berkoalisi, namun masih terhalang dengan tingginya persepsi negatif masyarakat dunia terhadap Islam dan Tiongkok. Ya, Islamofobia dan sentimen negatif terhadap kultur ekonomi masyarakat Tionghoa menjadi kendala dalam menyatukan dua peradaban ini. 

Eksistensi kelompok radikal di kalangan Muslim memicu lahirnya terorisme atas nama Islam di berbagai negara. Hal ini, menjadi pukulan bagi perkembangan peradaban Islam dan melahirkan berbagai prasangka negatif berbagai pihak, termasuk pemerintah Tiongkok, terhadap Islam. 

Di sisi lain, penguasaan aset-aset ekonomi oleh sebagian etnis Tionghoa di negara-negara Asia yang mayoritas warganya beragama Islam, juga melahirkan sentimen negatif tentang upaya ekspansif Tiongkok terhadap negara-negara berpenduduk mayoritas Islam. 

Perlu upaya khusus dari dua belah pihak untuk menumbuhkan sikap saling pengertian dan saling mendukung pertumbuhan dua peradaban ini.

Tokoh-tokoh Islam, khususnya di negara berpenduduk mayoritas Islam, seperti di Indonesia, bisa mengulas kembali sejarah peradaban Islam di Asia, yang tak terlepas dari peran Muslim Tiongkok. Eksistensi kelompok radikal juga perlu dipersempit dan disadarkan pada substansi ajaran Islam tentang kemanusiaan dan kemuliaan akhlak.  

Sebaliknya warga etnis Tionghoa, juga perlu berkaca diri, bahwa pertumbuhan aset ekonomi mereka akan terhambat jika bersikap apriori terhadap umat Islam. Karena diakui atau tidak, pasar terbesar di Asia saat ini adalah umat Islam.

Tradisi monopoli dan penguasaan sektor ekonomi sepihak juga perlu dikurangi dengan prinsip berbagi peran dan peluang usaha bagi warga non tionghoa.  Jika dua hal tersebut bisa dilakukan, bukan mustahil lagi, koalisi dua peradaban ini akan menggeser dominasi peradaban Barat.

Oleh Rahmat Hidayat Pulungan
Ketua Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor