25 Dzulhijjah 1442  |  Rabu 04 Agustus 2021

basmalah.png

Shimon Peres Tokoh Keji yang Bertanggung Jawab Pertumpahan Darah di Pales

Shimon Peres Tokoh Keji yang Bertanggung Jawab Pertumpahan Darah di Pales


Fiqhislam.com - Seorang anggota parlemen Israel mengguncang kalangan rezim Zionis ketika mengklaim mantan Presiden Israel, Shimon Peres (93), yang kini sedang menderita akibat stroke, disebut paling bertanggung jawab sepenuhnya terhadap pertumpahan darah yang terjadi di Palestina.

Dakwaan tersebut dipicu Basel Ghattas yang juga seorang anggota parlemen Israel keturunan Arab.

Sebagaimana dikutip laman Timeofisrael, Rabu (14/09/2016), pernyataan Ghattas pertama kali diunggah melalui akun Facebook miliknya.

Ia mengupload status dalam bahasa Arab dengan tulisan: “Peres adalah tonggak utama proyek pemukiman ilegal Yahudi dan salah satu pemimpin yang keji,radikal dan kejam yang hidup paling lama.”

Bagi Israel, Peres dianggap sesepuh negara dengan karir cukup panjang sebagai politisi. Meski Komite Nobel Norwegia memberika hadiah Nobel Perdamaian tahun tahun 1994,  tetapi menurut Ghattas, Perez tetapkan seorang penjahat perang dan harus di bawa ke pengadilan internasional sebagai penjahat perang.

Bagi  Ghattas, Peres ‘merupakan “hal yang paling merusak dan bencana bagi bangsa Palestina dan bangsa Arab lainnya.”

“Jadi mari kita setidaknya mengingat dengan benar esensi di kematiannya, sebagai seorang tiran yang bertanggung jawab atas kejahatan dan kejahatan perang yang diarahkan terhadap kami,” tambahnya.  “Darah kami membasahi tubuhnya dari ujung kepala sampai ke ujung kaki.”

Komentar ini menimbulkan kegemparan dan kemarahan kalangan politisi Zionis Israel. Seorang politisi Israel dari Persauan Zionis, Itzik Shmuli,  menyebut Ghattas sebagai pria kecil yang celaka, dimana seluruh kontribusi politiknya dinilai ‘menabur kebencian dan permusuhan’ yang dianggap tidak pantas mengucapkan nama Peres.

Sebagaimana diketahui, keturunan Arab-Israel mewakili 17,5 persen jumlah penduduk Israel dan kebanyakan berasal dari keturunan warga Palestina yang terus menetap di tanah air mereka bahkan setelah kehadiran penjajah  Israel pada 1948. [yy/hidayatullah]