20 Jumadil-Akhir 1443  |  Minggu 23 Januari 2022

basmalah.png
DUNIA ISLAM

Media Turki Sebut Korban Pembantaian di Orlando Kaum Menyimpang

Media Turki Sebut Korban Pembantaian di Orlando Kaum Menyimpang

Fiqhislam.com - Media Turki, Yeni Akit, mengutuk para korban pembantaian di klub gay Pulse di Orlando, Amerika Serikat (AS) dengan menyebut para korban sebagai orang-orang yang “menyimpang”.
 
Yeni Akit dikenal sebagai media sayap kanan Turki yang disebut-sebut memiliki ikatan kuat dengan Presiden Tayyip Erdogan. Media ini terang-terangan mengumbar homophobic atau kebencian pada kaum homoseksual.

“Korban tewas meningkat menjadi 50 di bar di mana homoseksual menyimpang pergi!” demikian judul berita utama di situs media Turki tersebut dalam pemberitaan terkait penembakan massal di klub gay di Orlando.
 
Media ini telah lama mendukung Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) atau partai berkuasa Turki yang menjadi kendaraan politik Erdogan dalam memimpin Turki.
 
Pelaku penembakan massal itu adalah Omar Mateen, 29—laporan lain menyebut 27 tahun—seorang pria AS keturunan Afghanistan. Selain 50 orang tewas, sebanyak 53 lainnya terluka dalam serangan itu.
 
Ayahnya, Seddique Mateen, mengungkap bahwa putranya membenci homokseksual di depan publik. Dua bulan sebelum penembakan, Omar Mateen marah saat melihat dua pria berciuman di depan publik di Miami.
 
“Kami mengatakan; kami meminta maaf untuk seluruh kejadian. Kami tidak menyadari atas tindakan yang dia ambil,” kata Seddique.

”Kami kaget seperti seluruh warga negara. Ini tidak ada hubungannya dengan agama,” katanya lagi, yang dilansir NBC News, Senin (13/6/2016). [yy/sindonews]

Media Turki Sebut Korban Pembantaian di Orlando Kaum Menyimpang

Fiqhislam.com - Media Turki, Yeni Akit, mengutuk para korban pembantaian di klub gay Pulse di Orlando, Amerika Serikat (AS) dengan menyebut para korban sebagai orang-orang yang “menyimpang”.
 
Yeni Akit dikenal sebagai media sayap kanan Turki yang disebut-sebut memiliki ikatan kuat dengan Presiden Tayyip Erdogan. Media ini terang-terangan mengumbar homophobic atau kebencian pada kaum homoseksual.

“Korban tewas meningkat menjadi 50 di bar di mana homoseksual menyimpang pergi!” demikian judul berita utama di situs media Turki tersebut dalam pemberitaan terkait penembakan massal di klub gay di Orlando.
 
Media ini telah lama mendukung Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) atau partai berkuasa Turki yang menjadi kendaraan politik Erdogan dalam memimpin Turki.
 
Pelaku penembakan massal itu adalah Omar Mateen, 29—laporan lain menyebut 27 tahun—seorang pria AS keturunan Afghanistan. Selain 50 orang tewas, sebanyak 53 lainnya terluka dalam serangan itu.
 
Ayahnya, Seddique Mateen, mengungkap bahwa putranya membenci homokseksual di depan publik. Dua bulan sebelum penembakan, Omar Mateen marah saat melihat dua pria berciuman di depan publik di Miami.
 
“Kami mengatakan; kami meminta maaf untuk seluruh kejadian. Kami tidak menyadari atas tindakan yang dia ambil,” kata Seddique.

”Kami kaget seperti seluruh warga negara. Ini tidak ada hubungannya dengan agama,” katanya lagi, yang dilansir NBC News, Senin (13/6/2016). [yy/sindonews]

Trump Salahkan Komunitas Muslim AS atas Pembantaian Orlando

Trump Salahkan Komunitas Muslim AS atas Pembantaian Orlando

Bakal calon Presiden Amerika Serikat (AS) dari partai Republik Donald Trump menyalahkah komunitas Muslim di AS atas pembantaian di Orlando. Menurut Trump, komunitas Muslim di AS terlalu pasif.

Trump menuturkan, komunitas Muslim AS harusnya melaporkan setiap orang yang memiliki tindakan mencurigakan di wilayah mereka. Jika hal itu dilakukan, lanjut Trump maka aksi pembantaian di Orlando tidak akan terjadi.

"Anda akan menemukan bahwa banyak orang yang mengenalnya merasa bahwa dia memiliki hal yang aneh, sesuatu seperti ini akan terjadi," kata Trump dalam wawancara dengan CNN, seperti dilansir Reuters pada Sein (13/6).

"Orang-orang yang mengenalnya, mantan istri, orang lain. Mereka tidak melaporkannya. Untuk beberapa alasan masyarakat Muslim tidak melaporkan orang-orang seperti ini," sambung pengusaha nyentrik tersebut.

Dirinya dikesempatan yang sama juga menuturkan bahwa AS harus lebih berbuat banyak untuk mencegah hal semacam ini terjadi kembali. Salah satunya adalah dengan memperketat pengawasan terhadap masjid-masjid di AS.

"Kami harus mengawasi masjid dan kita harus mengawaso masyarakat, dan percayalah, masyarakat tahu orang-orang yang memiliki potensi untuk melakukan serangan," pungkasnya. [yy/sindonews]

ISIS Mengklaim Dalang Pembantaian Massal Klub Gay Orlando

ISIS Mengklaim Dalang Pembantaian Massal Klub Gay Orlando

Kelompok Islamic State (ISIS) mengklaim sebagai dalang atas pembantaian massal di klub gay di Orlando, Amerika Serikat (AS) yang menewaskan 50 orang dan melukai 53 orang lainnya.
 
Klaim ISIS sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan itu muncul di Amaq News, media propaganda ISIS.
 
”Serangan bersenjata yang menargetkan sebuah klub malam gay di Kota orlando di negara bagian Florida Amerika meninggalkan lebih dari 100 orang tewas atau terluka dilakukan oleh seorang militan Islamic State,” tulis Amaq News.

Serangan di klub malam Pulse itu dilakukan oleh Omar Mateen, warga AS keturunan Afghanistan, pada Minggu pukul 02.00 pagi waktu setempat atau semalam WIB.
 
Sebelum melakukan pembantaian, Mateen, menghubungi 911 dan bersumpah setia kepada ISIS.
”Itu belum dikonfirmasi. Kita harus melihat apakah mereka berhubungan atau tidak setelah kami mendapatkan rincian,” kata Senator Florida, Bill Nelson.
 
FBI juga telah menyatakan bahwa Omar Mateen telah menyatakan kesetiaannya kepada ISIS ketika menghubungi 911. Mateen menyebut dia adalah saudara dari Tsarnaev, yang mengebom arena Boston Marathon pada 2013.
 
FBI mengaku sudah menyelidiki Mateen pada 2013 dan 2014, atas dugaan melakukan ancaman di media sosial, di mana dia melakukan kontak dengan seorang “pengebom bunuh diri yang tak dikenal".
 
Bulan lalu, ISIS melalui juru bicaranya mendesak simpatisannya di Barat untuk melakukan pembantaian selama bulan Ramadhan. [yy/sindonews]

Obama: Belum Ada Bukti ISIS Kendalikan Penembakan Orlando

Obama: Belum Ada Bukti ISIS Kendalikan Penembakan Orlando

Pelaku penembakan Orlando, Omar Mateen diduga kuat sudah lama merencanakan aksi jahatnya di klub malam Pulse.

Beberapa pekan sebelumnya, pemuda 29 tahun keturunan Afghanistan itu berusaha membeli pelindung tubuh yang diperuntukkan untuk personel militer atau Level III di sebuah toko setempat. Namun, sang penjual menolak memberikannya.

Sebelumnya, ia telah membeli sebuah pistol Glock dan senapan laras panjang. Itu dilakukan secara legal.

Belum jelas apakah senjata-senjata itu kemudian ia gunakan untuk membantai pengunjung klub malam yang terkenal di kalangan LGBT itu. Yang jelas, 49 orang tewas dan 53 lainnya luka-luka akibat ulahnya.

Sendirian, ia menjadi pelaku penembakan massal paling mematikan dalam sejarah AS.

Hidup Matten tamat setelah peluru aparat menembus tubuhnya. Hingga kini, apa motif sesungguhnya di balik tindakan Omar Mateen belum diketahui.

Meski sempat menghubungi 911 dan berkoar soal sumpah setianya pada ISIS, polisi masih terus menyelidiki kebenaran di balik itu.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengatakan, belum ada bukti langsung bahwa pelaku penembakan Orlando dikendalikan ISIS atau terkait langsung dengan organisasi teroris itu.

Obama menambahkan, serangan yang terjadi pada Minggu dini hari diperlakukan sebagai kasus terorisme.

Penembak tersebut mungkin terinspirasi, "oleh informasi ekstremis yang disebarkan melalui internet," kata Obama seperti dikutip dari BBC, Senin malam (13/6/2016).

Obama menambahkan, belum ada bukti kuat bahwa pelaku merupakan bagian dari plot yang lebih besar.

Sang presiden menambahkan, ada kemungkinan penembakan tersebut adalah kasus 'ekstremis domestik' (homegrown extremism).

"Belum ada bukti jelas bahwa ia diarahkan dari pihak ekstrenal," kata Obama. "Memang pada menit-menit terakhir ia mengumumkan kesetiaannya pada ISIS. Namun, belum ada bukti sejauh ini bahwa ia faktanya dikendalikan ISIL (ISIS).

Barack Obama sebelumnya mengatakan penembakan massal di sebuah kelab malam di Orlando, Florida, merupakan "aksi teror dan tindak kebencian".

Obama mengaitkan penembakan di Orlando dengan sejumlah penembakan lain seperti di sebuah gereja di Charleston dan di beberapa kampus.

Ia kembali menyoroti kemudahan yang dirasakan orang untuk memperoleh senjata dan melakukan pembunuhan massal.

"Pelaku diduga bersenjatakan pistol dan senapan serbu berkekuatan tinggi. Pembunuhan massal ini, menjadi pengingat tentang betapa mudah seseorang untuk mendapatkan senjata yang memungkinkan mereka menembak orang-orang di sekolah, tempat ibadah, gedung bioskop atau di klub malam." [yy/liputan6]

Simpatisan ISIS Rayakan Penembakan Massal di Orlando

Simpatisan ISIS Rayakan Penembakan Massal di Orlando

Aksi brutal seorang pria yang mengumbar tembakan disebuat klub gay yang ada di Orlando, Amerika Serikat dirayakan oleh simpatisan kelompok Negara Islam Irak Suriah atau ISIS.

Sebuah akun di lini masa Twitter yang terkait dengan ISIS menunjukkan sejumlah gambar dari laki-laki gay yang telah dibunuh oleh kelompok teror itu. Mereka juga menggunakan hashtag dengan kata Pulse.

"Kami akan membunuh dimana pun Anda berada, orang kafir," begitu bunyi pesan salah satu simpatisan ISIS di lini masa Twitter seperti dikutip dari laman Mirror, Minggu (12/6/2016).

Postingan ini muncul tidak lama setelah pihak kepolisian menyatakan akan menyelidiki kemungkinan kejadian penyerangan dengan kelompok ekstrimis tersebut. Mereka menduga pelaku adalah seorang Lone Wolf, anggota kelompok militan yang kerap bekerja sendiri dalam melakukan aksi teror.

Sedikitnya 50 orang tewas dan 5 orang lainnya terluka ketika seorang pria, yang identitasnya hingga kini belum diketahui, melepaskan tembakan di klub Pulse, Orlando. Pelaku sendiri akhirnya tewas terkena timah panas polisi. [yy/sindonews]

 

 

Tags: gay | lesbian | luth | lgbt | orlando | florida