21 Rabiul-Awal 1443  |  Rabu 27 Oktober 2021

basmalah.png

AT TAWWAAB | YANG MAHA PENERIMA TAUBAT

AT TAWWAAB | YANG MAHA PENERIMA TAUBATAT TAWWAAB (yang Maha Penerima Taubat) adalah Allah berulang-ulang menuju cara yang memudahkan taubat bagi hamba-hamba-Nya, dengan jalan menempatkan tanda-tanda kebesaran-Nya, menggiring mereka pada peringatan-peringatan-Nya serta mengingatkan ancaman-ancaman-Nya. Dengan demikian, apabila menyadari akibat buruk dari dosa-dosa dan merasa takut dari ancaman-Nya, mereka kembali bertaubat dan Allah-pun kembali kepada mereka dengan anugerah rahmat-Nya dengan penerimaan.
 
`Dan andaikata tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atas dirimu dan (andaikata) Allah bukan penerima taubat lagi Maha Bijaksana, (niscaya kamu akan mengalami kesulitan-kesulitan)` (24-An Nuur:10)
 
`Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang` (49-Al Hujuraat:12)
 
`Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang` (02-Al Baqarah:37:54)
 
`Sesungguhnya Allah maha penerima taubat lagi maha penyayang` (04-An Nisaa':16)
 
`Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang` (An Nisaa':64)
 
`Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunkepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha penerima taubat` (An Nashr:1~3)
 
`Dan bahwasanya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang` (At Taubah:104)
 
`Sesungguhnya Allah-lah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang` (At Taubah:118)
 
`Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang` (Al Baqarah:128)
 
`Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima taubatnya dan Aku-lah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang` (Al Baqarah:160)
 
`Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri` (Al Baqarah:222)
 
`Dan barangsiapa yang tidakbertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim` (49-Al Hujuraat:11)
 
Rasulullah Saw bersabda `Jika kamu telah mengerjakan suatu dosa, beristighfarlah kamu kepada Allah, karena sesungguhnya taubat dari dosa itu adalah menyesal dan memohon ampunan`
 
Tiga Syarat Taubat:
 
(1)-Penyesalan sedalam-dalamnya dari dosa yang telah dilakukan.
 
(2)-Menghimpun berbagai cara guna memohon ampunan.
 
(3)-Berjanji untuk berhenti dari melakukan dosa.
 
Hakikat Taubat Yang Harus Diperhatikan:
 
(1)-Membesar-besarkan arti dosa yang pernah dilakukan.
 
(2)-Mengarahkan tuduhan pada diri sendiri sebagai pelaku utama.
 
(3)-Memohon kepada semua orang agar berkenan memberi maaf kepada dirinya.
 
Rahasia Hakikat Taubat.
 
(1)-Waspada terhadap perasaan yang meyakinkan bahwa dirinya telah berbuat dosa dari tipu muslihat bisikan yang hendak melalaikan.
 
(2)-Bertaubat untuk selama-lamanya, karena orang yang bertaubat itu hendaknya mencakup keseluruhan.
`Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung` (An-Nuur:31).
 
(3)-Allah SWT menerima orang yang bertaubat kepada-Nya dengan sebaik-baiknya
 
`Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu kedalam Surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan Dia.
 
Sedang cahaya mereka memancar dihadapan dan disebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan "ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu".
 
Maqom taubat tidak sempurna, melainkan pada kesudahan taubat dari selain Al Haqq Allah Azza wa Jalla, yakni harus meminta maaf terlebih dahulu kepada orang yang disakiti, taubat dengan kesungguhan hati, kemudian taubat dengan melihat sebab musabab dari perbuatan dosa yang dilakukannya.
 
Rasulullah Saw bersabda `Seseorang yang bertaubat dari dosa bagaikan orang yang tidak mempunyai dosa` (HR. Ibnu Majah, Hakim, Tirmidzi).
 
Siapapun yang berulang kali menerima maaf dari orang-orang yang berbuat salah kepadanya, sesungguhnya iajuga memiliki sifat `Tawwaab`.
 
Imam Al-Ghazali
foto madaniwallpaper.com