21 Rabiul-Awal 1443  |  Rabu 27 Oktober 2021

basmalah.png

Kurikulum Kehidupan

Kurikulum Kehidupan Fiqhislam.com - Kita butuh kurikulum agar kita bisa terus belajar memperbaiki diri sampai akhir hayat kita, kurikulum ini saya sebut “Kurikulum Kehidupan”.

Ada do’a yang dicantumkan di halaman akhir al-Qur’an yaitu do’a khatmil Qu’ran, yang penggalan artinya kurang lebih berbunyi begini: “Ya Allah jadikanlah umur terbaik hamba di penghujungnya, jadikanlah amal terbaik hamba di penutupnya, jadikanlah hari-hari terbaik hamba hari bertemu dengan Engkau di dalamnya.

Do’a ini mengisyaratkan perlunya kita untuk selalu dalam kondisi memperbaiki diri secara terus menerus sampai akhir hayat kita. Dalam hal apa kita perlu terus memperbaiki diri? Dalam hal mencapai tujuan dari akhir hidup kita.

Bila Anda ingin jadi ahli ekonomi misalnya, Anda akan belajar terus menerus dari berbagai sumber untuk unggul dibidang ekonomi yang Anda tuju. Bila Anda ingin jadi ahli pertanian, demikian juga – Anda akan belajar dari berbagai sumber untuk menjadi ahli pertanian.

Ahli ekonomi, ahli pertanian, teknologi, kedokteran dlsb sifatnya fardhu kifayah agar ada sebagian dari umat ini yang menguasainya sehingga kita tidak diperdaya oleh umat yang lain. Tetapi ada keahlian lain yang fardhu ‘ain (hal-hal yang wajib) yang harus terus menerus diperbaiki bagi setiap diri kita, yaitu keahlian kita dalam meningkatkan keimanan, ketakwaan dan memperbaiki amal.

Masalahnya adalah dimana masyarakat di jaman ini belajar terus menerus memperbaiki yang fardhu ‘ain dan fardhu kifayah tersebut secara terintegrasi?  Yang umum adalah di masjid-masjid dan majlis ilmu untuk yang fardhu ‘ain, dan dari buku, seminar dan sejenisnya yang fardhu kifayah. Tidak ada salahnya cara ini, hanya kurang efektif saja karena tidak terintegrasi.

Seperti untuk anak-anak kita yang di Sekolah Dasar tersebut di atas, kita juga butuh perbaikan kurikulum  agar proses kita belajar meningkatkan keimanan, ketakwaan dan memperbaiki amal secara terus menerus dapat berjalan terarah dan  efektif.

Saya ambilkan contoh kasus berikut untuk mudahnya dipahami:

Si Fulan adalah eksekutif Muslim yang sehari-hari masih terlibat dalam bisnis yang bergelut dengan riba, gharar, KKN dan sejenisnya. Setiap kali mengaji dan mendengarkan ceramah keagamaan – dia paham dan ingin segera meninggalkan pekerjaannya. Tetapi begitu balik ke keluarganya dan ke kantornya – dia merasa begitu banyak kendala yang dia hadapi untuk berani meninggalkan pekerjaan yang bertentangan dengan hati nuraninya itu.

Apa yang terjadi dengan Si Fulan sebenarnya? Dia sudah belajar yang fardhu ‘ain yaitu meningkatkan pemahaman keagamaannya dari para ustadnya, dia tentu juga menguasai yang fardhu kifayah di bidangnya sehingga dia menjadi eksekutif yang sukses – tetapi mengapa keduanya tidak cukup untuk membuatnya berani meninggalkan riba, gharar, KKN dlsb? Proses pembelajaran Si Fulan tidak nyambung antara yang dia pelajarinya dengan para ustadz dengan apa yang dia lakukan sehari-hari.

Itulah hasil ‘proses belajar’ yang tidak efektif, tidak cukup untuk mengantarkan si ‘murid’ untuk sampai kepada tujuannya. Agar proses belajarnya efektif, orang-orang seperti Si Fulan dan juga kita semua perlu kurikulum pembelajaran yang lebih efektif – kita butuh “Kurikulum Kehidupan”.

“Kurikulum Kehidupan” mendahulukan apa yang harus didahulukan, sehingga mampu menjadi fondasi yang kuat untuk setiap pembelajaran berikutnya. Kasus Si Fulan tersebut di atas akan mudah dan ringan teratasi bila fondasi iman Si Fulan  sangat kokoh. Dengan mudah dia akan meninggalkan pekerjaannya yang tenggelam dalam riba, gharar dan KKN karena dia tahu rezeki tidak datang darai tempat kerjanya. Rezeki datang dari Allah, dan hanya Dia yang mampu menyempitkan atau meluaskannya tanpa batas.

Bukan hanya membangun fondasi yang kuat, “Kurikulum Kehidupan” juga melengkapi dengan bangunan yang indah di atasnya. Bangunan yang terdiri dari ‘tembok-tembok’, ‘pintu’, ‘jendela’ dan kelengkapan lainnya yang semua terbangun dengan kokoh dan indah di atas fondasi yang kuat.

Muslim yang kuat imannya, akan mampu menampilkan keindahan di setiap aspek kehidupannya. Iman yang kuat yang bukan hanya ada di dalam hati dan dalam ucapan, tetapi juga muncul dalam perbuatan yang tercermin ketika dia beraktifitas ekonomi di pasar, ketika dia menjadi dokter, ketika dia menjadi eksekutif, ketika dia menjadi karyawan, ketika dia menjadi politikus, pemimpin dlsb. Semuanya menjadi kokoh dan indah karena dibangun di atas fondasi yang kuat yaitu iman yang melahirkan ketakwaan dan amal shaleh.

Itulah perlunya “Kurikulum Kehidupan” itu, dia seperti blue print dari bangunan yang akan kita bangun. Detail, lengkap dan berproses sesuai urutan yang seharusnya.
[yy/hidayatullah/foto pendidikankarakter.com]

Oleh Muhaimin Iqbal