24 Dzulhijjah 1442  |  Selasa 03 Agustus 2021

basmalah.png

Menelusuri Jejak Islam di Negara Sekular Eropa

Menelusuri Jejak Islam di Negara Sekular Eropa

Fiqhislam.com - Islam tidak hanya tumbuh pesat di Timur Tengah dan Asia Tenggara saja. Tak sedikit negara-negara berfaham sekular yang dipenuhi umat muslim.

Ya, negara sekular adalah salah satu konsep sekulerisme, dimana sebuah negara menjadi netral dalam permasalahan agama. Negara tersebut juga tidak mendukung orang atau warganya yang memelulk agama tertentu, maupun orang yang tidak beragama.

Deskripsi negara sekular juga bisa disebut sebagai negara yang mencegah agama ikut campur dalam masalah pemerintahan. Negara sekular juga mencegah agama menguasai pemerintahan atau kekuatan politik.

Dibalik sistem sekular tersebut, Islam mampu berkembang dan memikat banyak orang di negara-negara sekular, khususnya di Benua Biru alias negara-negara di Eropa. Perlahan tapi pasti, sejumlah negara-negara di Eropa yang berpaham sekular, mulai menerima kedatangan Islam.

Setidaknya ada lima negara berpaham sekular di Eropa yang mulai disesaki umat Muslim. Meski masih menjadi minoritas, tapi umat Islam di Eropa menguasai beberapa sektor penting.

Banyak faktor yang membuat Islam berkembang pesat di Eropa. Awalnya, beberapa negara di Eropa adalah wilayah kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah, yang berpusat di Turki.

Setidaknya ada sebelas negara Eropa berpaham sekuler yang menjadi rumah bagi umat Islam.

{AF}Peringkat pertama diduduki Negeri Napoleon Bonaparte, Prancis.

1. Prancis

Islam adalah satu dari beragam agama di Prancis. Meski sebenarnya Islam bukan agama baru di Prancis.

Prancis daratan maupun wilayah kependudukannya di luar Eropa, Islam berkembang pesat disana. Imigrasi massal muslim ke Prancis pada abad 20 dan 21, adalah faktor utama Prancis disebut-sebut 'surga' bagi imigran muslim.

Imigran muslim yang datang ke Prancis menjadikan negara tersebut menjadi salah satu negara dengan komunitas muslim terbesar di Eropa. Pertumbuhan Islam di Prancis juga didorong penduduk pribumi yang berpindah agama ke Islam, alias menjadi mualaf.

Sayang seribu sayang. Paham sekular yang dianut Prancis, membuat muslimah dilarang mengenakan jilbab, apalagi burka atau cadar. Larangan itu bahkan dilegalkan dengan dikeluarkannya Undang-Undang.

Banyak versi mengenai jumlah muslim di Prancis. Menurut Departemen Negara Amerika, pada 2006 terdapat sekitar 10 persen umat muslim dunia tinggal Prancis. Buku yang diterbitkan Badan Intelijen Pusat Amerika (CIA), CIA World Factbook, menyatakan ada sekitar 5-10 persen populasi muslim di Prancis.

Jumlah itu diperkuat dari jajak pendapat yang menyatakan tiga persen dari jumlah total penduduk Prancis memeluk Islam. Pada 2000, Kementerian Dalam Negeri Prancis memperkirakan ada 4,1 juta orang yang dilahirkan dalam keluarga Islam.

Sekitar 40 ribu warga Prancis menjadi mualaf. Ada juga yang memperkirakan jumlah muslim di Prancis mencapai tujuh juta jiwa pada 2009.{/AF}

{AF}Berpaham komunis, bukan berarti tidak ada umat Islam di Rusia. Islam yang sudah menancapkan kukunya di Rusia sejak abad ke-16, menjadi agama terbesar kedua setelah Kristen Ortodoks.

2. Rusia

Sekitar 21 sampai 28 juta penduduk atau 15 sampai 20 persen dari sekitar 142 juta penduduk Rusia memeluk agama Islam. Kehidupan Muslim Rusia sekarang juga kian membaik dibanding masa komunis menguasai negara keturunan Uni Soviet tersebut.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah Rusia, pemimpin Rusia, Vladimir Putin memberikan jabatan menteri kepada seorang muslim. Kebijakan ini semakin mengakui eksistensi Muslim Rusia.

Menurut United States Department of State, umat Islam di Rusia dikonsentrasikan di antara warga negara minoritas yang tinggal di antara Laut Hitam dan Laut Kaspia. Di antaranya Avar, Adyghe, Balkar, Nogai, Orang Chechnya, Circassian, Ingush, Kabardin, Karachay, dan banyak bilangan warga negara Dagestan.

Di Volga Basin tengah ada penduduk besar Tatar dan Bashkir, kebanyakan mereka memeluk Islam. Banyak muslim Rusia juga tinggal di Perm Krai dan Ulyanovsk, Samara, Nizhny Novgorod, Moscow, Tyumen, dan Leningrad Oblast -- kebanyakan kaum Tatar.{/AF}

{AF}Di Belanda, Islam juga berkembang pesat. Sedikitnya satu juta orang di Negeri Kincir Angin tersebut, memeluk agama Islam.

3. Belanda

Islam adalah satu dari beragam agama di Belanda. Kebanyakan umat muslim di Belanda adalah keturunan imigran.

Umat Muslim Belanda yang terbesar adalah Umat Islam di Belanda berasal dari Turki (46 persen), Maroko (38,8 persen), Suriname (6,2 persen), Pakistan (2,2 persen), Mesir (0,7 persen), Tunisia (0,9 persen), Indonesia atau Suriname (1,6 persen), dan lainnya (3,9 persen). Mereka ini adalah keturunan para pekerja migran pada medio 1960an. Meski demikian, tak sedikit warga Belanda yang juga memeluk Islam.

Berdasarkan data statistik Central Bureau de Statistiek pada 1994, jumlah umat Islam dari 15.341.553 jumlah penduduk Belanda saat itu, menempati posisi ketiga (3,7 persen), setelah Katolik Roma (32 persen), dan Kristen Protestan (22 persen). Sebanyak 40 persen warga Belanda mengaku tidak beragama, dan sekitar 0,5 persen pemeluk Hindu.

Pada 1971, jumlah umat Islam 54.300 jiwa, dan meningkat pesat pada 1993 menjadi 560.300 jiwa. Kenaikan rata-rata 0,6 persen setahun. Bertambahnya jumlah umat Islam dari tahun ke tahun itu, diperkirakan berasal dari imigran dan sebagian lain mendapatkan hidayah, dan pernikahan.{/AF}

{AF}Negara sekular Eropa keempat yang memiliki populasi muslim terbesar diduduki Swiss.

4. Swiss

Jumlah muslim di Swiss meningkat dua kali lipat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, beberapa sumber menyebut ada sekitar 150 ribu warga Swiss yang memeluk Islam. Tapi mereka masuk dan menetap di Swiss secara ilegal.

Rombongan muslim pertama tiba di Swiss sebagai pekerja pada 1960-an. Sebagian besar dari Turki, bekas Yugoslavia dan Albania.

Mereka bergabung dengan keluarga dan komunitas muslim lainnya pada 1970-an. Dan dalam beberapa tahun terakhir, muslim datang ke Swiss untuk mencari suaka, di antaranya mendapat kewarganegaraan.{/AF}

{AF}Negara sekular Eropa terakhir diduduki Austria.

5. Austria

Sebagian besar muslim yang berada di bawah pemerintahan Austria ketika Bosnia-Hercegovina dianeksasi oleh Austria-Hongaria pada 1908. Banyak dari Muslim Austria memiliki akar leluhur di Turki.

Selain itu umat muslim Swiss juga datang dari Balkan selama perang pada 1990-an. Sebagian besar karena datang ikatan sejarah.

Islam diakui sebagai salah satu agama resmi di Austria. Karenanya, agama Islam masuk dalam kurikulum pengajaran di sekolah-sekolah.

Kota Wina secara historis dianggap sebagai titik di mana dunia Islam mencapai titik paling barat. Sebuah pertempuran penting di Austria pada abad ke-16 menandai awal kemunduran Turki Ottoman.{/AF}

{AF}Total penduduk Belgia mencapai 10,3 juta jiwa. Dan sebanyak 0,4 juta jiwa atau empat persen dari total penduduk Belgia beragama Islam.

6. Belgia

Islam adalah salah satu dari tujuh agama yang diakui di Belgia. Status ini membuat adanya fasilitas, juga subsidi bagi pengajaran agama tersebut di sekolah-sekolah, termasuk penyediaan guru.

Meski Islam diakui, umat Islam tetap mendapatkan diskriminasi di Belgia. Ketegangan antara umat Islam dan umat agama lain di Belgia dipicu karena masalah pengangguran dan kemiskinan.

Mayoritas Muslim Belgia berasal dari Maroko dan Turki. Perpindahan penduduk dari Albania juga membaut umat Islam di Belgia semakin beragam.{/AF}

{AF}Sebanyak tiga juta umat Islam hidup di Jerman. Negeri yang pernah terbelah menjadi dua negara tersebut, umat Islam menyumbang 3,6 persen dari total populasi Jerman yang tercatat mencapai 82,5 juta jiwa.

7. Jerman

Sebagian besar umat Islam di Jerman berasal dari Turki. Akar leluhur yang kuat itu membuat umat Islam Jerman menjaga silaturahimnya dengan Negeri Dua Benua tersebut.

Selain orang Turki, Muslim Jerman juga datang dari dari orang-orang Bosnia dan Kosovo, yang lari ke Jerman selama Perang Balkan.

Sampai saat ini umat Islam di Jerman dianggap 'pekerja tamu', yang suatu hari akan meninggalkan negara itu.

Isu kekerasan rasis adalah masalah sensitif di Jerman. Pemerintah Jerman mencoba berbagai strategi untuk menekan kasus kekerasan tersebut. Hasilnya cukup baik, umat Islam di Jerman sedikit terlindungi dari diskriminasi.

Bagi pecinta sepak bola, tentu mengenal sosok Zlatan Ibrahimovic. Penyerang Paris Saint-Germain (PSG) dan Timnas Swedia itu berasal dari keluarga muslim keturunan Bosnia yang menetap di Swedia.{/AF}

{AF}Populasi di negara yang tidak memberlakukan uang tunai tersebut mencapai sembilan juta jiwa, sementara tiga persen di antaranya diketahui memeluk Islam.

8. Swedia

Populasi Muslim di Swedia cukup luas. Umat Islam di Sweda berasal dari imigran Turki, Bosnia, Irak, Iran, Lebanon dan Suriah.

Swedia termasuk negara yang menjunjung multikulturalisme. Selain itu, Swedia juga menjunjung nilai-nilai toleransi di antara umat beragama.

Tak hanya itu, Swedia juga memberi peluang kepada imigran menjadi warga negara, setelah menetap minimal lima tahun di Swedia. Perkembangan populasi Islam yang signifikan ini, membuat Pemerintah Swedia memberi bantuan dana pada badan perwakilan negara.

Meski negara berusaha bersikap baik pada golongan minoritas, seperti umumnya negara-negara Eropa yang memiliki komunitas Islam signifikan, tetap saja muncul kritik perlakuan diskriminatif terhadap umat Islam yang merasa terlalu sering dipersalahkan atas masalah-masalah kemasyarakatan.{/AF}

{AF}Inggris memiliki sejarah panjang dengan umat Islam. Hubungan dari abad pertengahan ini membuat Islam berkembang cukup pesat di negerinya David Beckham tersebut.

9. Inggris

Total populasi Inggris mencapai 58,8 juta jiwa, dimana 1,6 juta jiwa atau 2,8 persen memeluk Islam. Pada abad 19 orang-orang Yaman datang untuk bekerja di kapal.

Mereka kemudian membentuk komunitas muslim pertama di Inggris. Pada medio 1960-an, sejumlah besar umat Islam tiba, mereka berasal dari di bekas koloni Inggris yang mendapat tawaran pekerjaan di Inggris.

Di antaranya dari Afrika timur Asia, Asia selatan. Masyarakat muslim juga terbentuk karena lahir di Inggris dan menjadi warga begara Inggris, setidaknya mencapai 50 persen.

Komunitas Islam lainnya adalah berasal dari Turki, Iran, Irak, Afghanistan, Somalia dan Balkan juga ada. Sensus pada 2001 menunjukkan sepertiga dari penduduk Muslim berusia di bawah 16 tahun- proporsi tertinggi untuk kelompok manapun yang tersebar di Inggris.

Yang menjadi persoalan di sini adalah tingginya tingkat pengangguran, rendahnya tingkat kualifikasi dan rendah kepemilikan rumah. Inggris juga mendukung multikulturalisme, sebuah gagasan yang dianut oleh negara-negara lain yang, secara umum bermakna menerima semua budaya memiliki nilai yang sama dan pemerintah terlibat melindungi kelompok minoritas. [yy/republika/foto
euc.illinois.edu]{/AF}