<
pustaka.png
basmalah.png

Adakah Hubungan antara Akhlak Mulia dengan Kesehatan Jiwa?

Adakah Hubungan antara Akhlak Mulia dengan Kesehatan Jiwa?

Fiqhislam.com - Jika sejarah pernah mencatat pribadi-pribadi agung dan insan-insan mulia di jagad raya ini, mereka semua diabadikan dan dikenang karena tingkat spiritualitas dan akhlak mulianya. Sebuah masyarakat yang tidak bermoral dan tidak memiliki nilai-nilai kemanusiaan, maka masyarakat seperti itu akan tenggelam dalam lembaran kelam sejarah.

Menurut para pakar antropologi, keruntuhan peradaban besar dan kehancuran bangsa-bangsa tidak semata-mata diakibatkan oleh krisis ekonomi akut, tapi lebih disebabkan oleh sirnanya nilai-nilai spiritual dan moral di tengah sebuah masyarakat. Dapat disimpulkan bahwa keruntuhan pilar-pilar spiritual dan moral memiliki peran signifikan dalam menenggelamkan sebuah masyarakat.

Landasan kepribadian setiap manusia dan nilai-nilai eksistensinya diukur menurut sifat-sifat mulia yang ia sandang. Seorang penulis Inggris, Samuel Smiles mengatakan, "Setiap kemajuan dan keberhasilan yang dicapai dalam kehidupan seseorang, berhubungan erat dengan kekuatan internal dan potensi (fitrah) individu tersebut. Hal itu juga berhubungan dengan akhlak mulia dan keseimbangan kepribadiannya. Pada dasarnya, kebahagiaan setiap orang memiliki hubungan erat dengan akhlak mulia dan keramahan dia dengan orang lain."

Dengan kata lain, bagian penting dari nilai-nilai kemanusiaan harus dicari dalam keutamaan-keutamaan moral. Namun perlu diingat bahwa sifat-sifat luhur kemanusiaan tersebut hanya bisa diraih melalui penyucian diri serta pendidikan mental dan moral. Oleh karena itu, para pakar psikologi dan guru akhlak menaruh perhatian besar untuk mencegah kerusakan moral dan juga bagaimana memperoleh sifat-sifat luhur kemanusiaan. Mereka juga sangat menekankan dimensi pendidikan praktis dalam masalah itu.

Para ulama telah mengajarkan banyak langkah praktis untuk memperoleh dan mengembangkan keutamaan-keutamaan moral. Selain itu, mereka juga mengajarkan umat manusia dengan memberi teladan yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Agama Islam senantiasa mengajak umatnya untuk bersikap sopan dan lemah lembut dalam berinteraksi dengan orang lain dan melarang mereka untuk berlaku kasar dan tidak sopan. Akhlak mulia dan sikap ramah termasuk di antara sifat dominan yang akan mengundang kasih sayang dan cinta di tengah pergaulan sosial. Perkataan yang lahir dari pribadi seperti itu juga memiliki dampak besar bagi pihak lain.

Salah satu faktor utama kemajuan Islam adalah akhlak mulia dan kesantunan Rasulullah Saw. Dalam surah Ali Imran ayat 159, Allah Swt berfirman "Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu." Rasul Saw senantiasa bersikap ramah dan memberikan kasih sayang dan perhatian kepada semua Muslim dengan kadar yang sama. Cahaya kasih sayang dan cinta senantiasa menghiasi raut wajah beliau.

Anas bin Malik, pelayan Rasulullah Saw selalu mengisahkan kemuliaan akhlak Nabi Saleh dan berkata, "Selama 10 tahun melayani beliau, aku sama sekali tidak melihat raut murung di wajah Rasul Saw dan bahkan tidak pernah mengerutkan wajahnya ketika menyaksikan perbuatanku yang tidak berkenan dan juga tidak pernah menunjukkan sikap kasar." Jelas bahwa perbuatan baik dan sikap tawadhu' Rasulullah Saw semata-mata memberi pesan bahwa manusia harus berlaku seperti itu untuk mencapai kesempurnaan.

Dalam budaya Islam, manusia harus menjadi teladan moral dan cerminan akhlak di tengah masyarakat sehingga orang lain dapat berkaca kepadanya. Berakhlak mulia memiliki dampak besar dalam kehidupan individual dan sosial. Mereka yang menyandang akhlak mulia umumnya lebih sukses dalam menjalani aktivitas dan karir. Akan tetapi, manusia yang berlaku kasar dan tidak sopan selain akan mengurangi daya tarik orang-orang di sekitarnya, juga kurang sukses dalam beraktivitas dan kegiatan.

Pada dasarnya, akhlak mulia memiliki banyak dampak positif bagi kehidupan seseorang dan akan menuntun mereka meraih kebahagiaan dan kesempurnaan. Sebaliknya, akhlak buruk juga memiliki dampak destruktif bagi individu dan bahkan masyarakat.

Alkisah, ada seorang remaja yang berakhlak buruk dan menyakiti orang-orang di sekitarnya. Pada suatu hari, ayahnya memberi sebuah kotak paku kepada remaja itu sambil berkata setiap kali emosi menguasaimu, engkau harus menancapkan sebuah paku di tembok itu. Pada hari pertama, remaja itu menancapkan 37 buah paku di tembok.

Beberapa pekan kemudian, jumlah paku yang ia tancapkan ke tembok semakin berkurang dan mulai memahami bahwa mengontrol emosi lebih mudah daripada menancapkan paku di tembok. Akhirnya, orangtua remaja itu mengusulkan setiap kali engkau bisa mengontrol emosi, maka cabutlah satu paku dari tembok itu.

Hari-hari berlalu dan remaja itu akhirnya mampu berkata kepada orangtuanya bahwa seluruh paku di tembok telah ia cabut. Kemudian ayahnya memegang tangan anaknya dan membawanya ke sisi tembok tersebut sambil berkata, "Wahai anakku! Engkau telah berbuat baik dan sukses mengontrol kemarahanmu. Akan tetapi, lihatlah lubang-lubang di tembok itu, dia tidak mungkin seperti dulu lagi. Ketika engkau sedang dikuasai emosi dan mengeluarkan sebuah ucapan, perkataan tersebut juga akan berbekas seperti itu. Engkau mampu menusuk sebuah pisau ke hati seseorang dan mencabutnya lagi, tapi ribuan kata maaf tidak berguna lagi, luka itu akan membekas. Luka lisan dan ucapan kasar lebih menyakitkan dari luka tusukan."

Setiap sifat mulia seseorang selain memiliki dimensi spiritual dan ukhrawi, juga punya dampak besar dalam kehidupan material dan duniawi umat manusia. Oleh sebab itu, masalah moral jangan dianggap hanya sebuah kasus pribadi dan individu serta sesuatu yang terpisah dari kehidupan sosial manusia. Namun sebaliknya, segala bentuk perubahan sosial tidak mungkin terjadi tanpa perubahan moral. Akhlak mulia adalah syarat pertama untuk mencapai kesuksesan interaksi sosial. Sifat itu menyimpan daya tarik dan membantu mengangkat kepribadian seseorang serta memiliki pengaruh besar dalam menata kehidupan individual dan sosial.

Tidak ada sifat lain yang mampu mengundang daya tarik dan mengurangi tekanan mental selain akhlak mulia. Orang yang bermental seperti ini mampu mengontrol diri dan membuat lingkungan sekitar tidak memahami problema-problema yang ia hadapi. Ia senantiasa berusaha bersikap ramah dan gembira sehingga orang lain merasa terhibur dan senang.

Mereka yang berakhlak mulia selain mampu menguasai diri saat menghadapi beban hidup, juga bisa mengatasi kondisi lingkungan yang tidak mendukung. Ahklak mulia merupakan faktor yang paling dominan dalam menjamin kesuksesan seseorang. Sebagai contoh, kemajuan sebuah pusat layanan sosial sangat bergantung pada keramahan dan kesopanan para pengelolanya.

Di dunia modern saat ini, ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang mengalami guncangan, depresi, stres, dan tekanan. Namun, akhlak mulia dan sopan santun akan mengurangi tingkat tekanan mental dan akan menyebabkan panjang usia. Imam Ali bin Abi Thalib RA berkata, "Tidak ada kehidupan yang lebih indah dari kehidupan yang dihiasi oleh akhlak mulia." Sementara itu Imam Ja’far Shadiq berkata, "Kebaikan dan akhlak mulia akan memperpanjang usia." [yy/pelitaonline]

 

top