12 Safar 1443  |  Senin 20 September 2021

basmalah.png

Benarkah Ketidaktahuan adalah Kebahagiaan?

Benarkah Ketidaktahuan adalah Kebahagiaan?

Fiqhislam.com - Pada bulan Juli 2012 Gangnam Style rilis dan meledak, lima bulan kemudian dengan satu setengah milyar penonton di youtube, ratusan video cover, review dari ribuan media dan jutaan penggemar dari berbagai kalangan. Lucunya dari satu setengah miliar penontonnya diyoutube, mungkin hanya ribuan yang mengerti lirik lagu ini, lalu bagaimana dengan sisa pemirsa yang bahkan tidak paham sedikitpun makna dan arti dari lirik lagu yang berbahasa korea ini?. Satu kunci pengikat yang sekaligus menjadi kunci tenar nyavideo clip ini: FUN.

Tidak peduli dan tidak perlu anda mengerti liriknya, toh dengan sekali dua kali dengar anda bisa langsung ngomong “Oppa(n) Gangnam Style” dan berjoged a la menunggang kuda seperti yang dicontohkan oleh sang penyanyi, sebegitu saja anda mungkin sudah ketawa ketiwi atau malah jadi bahan tertawaan orang lain, ga apa – apa toh rasa fun dapet.

Fenomena lainnya menyusul, setelah "Gangnam Style" terbit dari timur, barat seolah merasa tidak mau kalah. Makamuncullah “Harlem Shake” yang dengan cepat mewabah dan menyebar. Lalu memang ada kaitannya dengan “Gangnam Style”?,

Don’tbother to ask, just do the stuff and have fun

Sekali lagi daya fikir dibunuh karena seolah-olah kalau kita berfikir kritis terhadap sesuatu maka kita akan kehilangan efek, nilai, citarasa, sensasi FUN dari sesuatu tersebut.

Efek dari ketidakpedulian terhadap penggunaan logika dan fikiran waras dapat dilihat dari kasus “Illegal sudden party pranks on public bus”, dimana sekelompok pemuda dengan hanya niatan untuk “have fun”  membuat rekaman video kegaduhan memalukan didalam sarana transportasi masal dengan menyetel peralatan DJ plus pengeras suara ditambah dengan joged-joged liar secara massal yang sangat jauh dari kepantasan dan sangat mengganggu kepentingan umum. Pun sudah mendulang kritik tajam dari berbagai kalangan, salah satu eksekutor pelaksana, alih alih meminta malah umbar statement:

In this episode we decided to do a prank (ifyou don't understand what prank is, please spend sometime to go to wikipedia or simply google it, we receive so many dislikes because most of Indonesian doesn't understand what prank is ^^)

Sejatinya dialah yang tidak sadar bahwa ribuan “dislike” serta ratusan komentar negative itu muncul bukan karena ketidakpahaman orang Indonesia  akan arti sebuah kata, tapi karena arogansi mereka sendiri yang menolak untuk menggunakan logika dan rasa ketika hendak melaksanakan sebuah peristiwa.

Dan entah karena merasa mirip atau hendak mengikuti trend “Harlem Shake”, sang uploader yang juga bertindaksebagai eksekutor tadi mengganti judul video nya yang semula berjudul “Illegalsudden party pranks on public bus” menjadi “Harlem Shake sexy on public bus (illegal)”.

Yang paling baru dan justru palin gmengerikan adalah beredarnya sebuah video yang merekam kegiatan sekelompok siswi SMA 2 Tolitoli Sulawesi Tengah yang mencampuradukan gerakan sholat dengan joged-joged dan lagu yang sangat jauh dari nilai kepantasan. Mirisnya salah seorang siswi tersebut mengenakan jilbab, dan ketika mereka melakukan tindakan itu justru penuh dengan tawa canda, bahagia. Tanpa tahu konsekuensi apa yang menanti. Sekali lagi sebuah bukti nyata; ga usah mikir, ga usah peduli, yang penting FUN.

Benarkah“Ignorance Is Bliss”?

Dari potongan dialog diatas yang diambil dari film Ice Age 4 dengan jutaan penonton serta menilai fenomena “HarlemShake” yang mendunia, sesungguhnya kata-kata Ignorance Is Bliss (ketidaktahuan adalah kebahagiaan) bukanlah kata mati yang diam atau mengalir secara normal lewat mulut ke mulut, tetapi justru kata-kata ini dikonsep dan didistribusikan sedemikian rupa secara massif, tentunya oleh sekelompok orang tertentu dengan kepentingan tertentu.

Kalaupun kita ragu dengan abnormalitas penyebaran konsep “ketidaktahuan melahirkan kebahagiaan”, maka mari kita coba renungkan kembali arti kebahagiaan yang sejatinya kita cari.

Sangat memungkinkan memang ketika kita tidak mengetahui sesuatu maka cara pandang atau penilaian kita terhadap sesuatu tersebut menjadi kosong alias seolah-olah tidak memberikan efek apapun pada anda. Artinya ketika anda akan disambit batu oleh seseorang yang berada persis di depan anda dan anda lebih memilih untuk menutup mata dan tidak peduli, maka jeda waktu sampai batu itu mendarat di tubuh anda dan menimbulkan luka adalah gambaran bliss yang lahir dari ignorance. Melalaikan, dan efeknya sangat destruktif.

Jika level ignorance nya mau ditingkatkan lagi dengan contoh mengabaikan efek destruktif dari level ignorance sebelumnya, maka ini sudah persis seperti pecandu narkoba yang menolak untuk peduli pada tubuh dan kelangsungan hidupnya sendiri demi mendapatkan bliss berupa euphoria yang bahkan tidak bertahan dalam hitungan hari.

Menilik Kembali Cara Pandang Kita Tentang Arti “Bahagia”

Mungkin kita sudah berada pada titik puncak ad nauseum (jenuh berujung muak) dengan jargon-jargon “hidup-hidup gue ya suka-suka gue”, “jangan sok suci”, “jangan sok ikut campur”, “kayak loe sendiri udah hidup bener aja”, dan sejuta statement apologi untuk membela gaya hidup anti kemapanan dan anti kritik, atau mungkin kini yang dipopulerkan oleh iklan rokok A Mild denga tag line “goAhead” (walau nyasar dan tersesat sekalipun). Sehingga karena efek ad nauseum tadi, kebanyakan dari kita menjadi “pasrah” dan menganggap itu semua sebagai sebuah keniscayaan hidup yang bahkan mungkin menjadi sebuah keyakinan dan kepercayaan. Padahal nyata betul sudah kerusakan di muka bumi ini yang  terjadi akibat tangan-tangan  manusia yang “ignorance”.

Benar adanya bahwa kalau kita cuek, kesedihan yang menerpa hati bisa menjadi tak terasa, tapi andai kita mau ambil resiko untuk berani merasakan, berfikir, merenung dan memahami makna atau arti dibalik kesedihan itu, maka jaminan untuk hidup lebih baik dengan berdampingandengan kesedihan menjadi terbuka lebar. Kita dipahamkan bahwa kesedihan adalah sebuah keniscayaan hidup, karena mustahil hukumnya seorang manusia bahagia tanpa putus-putus selama hidupnya. Yang demikian itu adalah makna dari kebahagiaan yang sesungguhnya.

Apalagi kalau kita mengaku beriman,karena dalam Islam konsepnya jelas “Al ‘Ilm qobla Al ‘amal” (pengetahuan harus mendahului perbuatan) plus penegasan lewat nash-nash syar’i lainnya tentang kewajiban dan keutamaan menuntut ‘ilmu, ini semua kemudian disempurnakan lewat jaring pengaman sosial berupa konsep ”tawashou bil haqqiwa tawashou bis shobri” saling menegur, mengingatkan, dan menguatkan dalamkebenaran dan kesabaran.

Sebagai penutup, semoga Allah SWT menjagadan menjauhkan kita dari worldview postmodernism yang begitu massif membombardir halaman rumah pemikiran kita.

Wallahu ‘alamu bisshowwab

Ezza Ahim Iki
yy/muslimdaily.net