13 Safar 1443  |  Selasa 21 September 2021

basmalah.png

Hikmah Mata Air, Antara Ilmu dan Harta

Hikmah Mata Air, Antara Ilmu dan Harta

Fiqhislam.com - “Ya Hamzah, mana yang kau suka, memiliki segelas air atau memiliki sebuah mata air?” tanya Bujang tiba-tiba.

“Tentu saja aku lebih suka memiliki sebuah mata air.”

“Kenapa kau tidak suka memiliki segelas air?” tanya Bujang.

“Karena kalau aku hanya memiliki segelas air, maka air itu akan habis setelah dua kali kuminum,” jawab Hamzah.

“Lalu kenapa kau lebih suka memiliki sebuah mata air?” tanya Bujang.

“Pertanyaanmu aneh sekali. Tentu saja karena air dari sebuah mata air lebih bersih dan menyegarkan serta tidak akan habis meski beberapa kali kuminum,” jawab Hamzah

“Bagaimana menurutmu jika ada orang yang lebih suka memiliki segelas air daripada sebuah mata air?” tanya Bujang sambil membenarkan letak kopiahnya.

“Berarti dia orang bodoh yang tidak tahu mana air yang lebih menyegarkan dan lebih banyak jumlahnya,” jawab Hamzah dengan yakin.

“Apakah kau termasuk orang bodoh itu ya Hamzah?” tanya Bujang.

“Aku? Tentu saja tidak.”

“Kalau kau tidak termasuk orang bodoh itu, mengapa kau lebih suka memiliki banyak harta dibandingkan banyak ilmu? Ilmu adalah mata air yang tidak pernah kering, sedangkan harta adalah segelas air yang bisa dengan cepat habis jika kau minum dengan sering,” ujar Bujang. (Dikutip dari buku Bujang dan Syaikh Cinta)


Disatu sisi ilmu dan harta memang berdampingan apabila digunakan pada jalan Allah. Ilmu bisa terus mengalirkan pahalanya untuk kita meski kita sudah tiada jika ia menjadi ilmu bermanfaat.

Begitu juga dengan harta, ia bisa mengalirkan pahalanya kepada kita meski kita sudah tiada jika ia menjadi sedekah jariyah. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw.,

Apabila seseorang meninggal dunia, maka amal perbuatannya terputus kecuali dalam tiga hal, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Selain itu, dalam hadits yang lain Nabi saw. menceritakan perihal kebersamaan ilmu dan harta dalam sabda beliau,

Sesungguhnya di dunia ini terdapat empat macam orang.

Pertama, seseorang yang Allah berikan harta dan ilmu. Dia bertakwa kepada Allah, menyambung silaturahmi, dan mengetahui hak-hak Allah. Dia adalah sebaik-baik keadaan.

Kedua, seseorang yang diberikan ilmu dan tidak diberikan harta, tetapi dia mempunyai niat yang baik, yakni ingin melakukan apa yang dilakukan orang pertama. Orang seperti ini akan mendapatkan pahala yang sama seperti orang yang pertama karena niat baiknya.

Ketiga, seseorang yang diberikan harta dan tidak diberikan ilmu. Lalu dia menggunakan hartanya tanpa didasari dengan ilmu. Dia tidak bertakwa kepada Allah, tidak menyambung silaturahmi, dan tidak mengetahui hak-hak Allah. Dia adalah keadaan yang paling buruk.

Keempat, seseorang yang tidak diberikan harta dan ilmu, lalu dia berkata, ‘Apabila aku mempunyai harta, maka aku akan melakukan apa yang dilakukan orang ketiga.’ Dia akan mendapat ganjaran sebagaimana niatnya.” (HR Ahmad dan Tirmidzi)

Orang berilmu yang memiliki harta tidak akan berat untuk bersedekah sebanyak 50% atau bahkan 100% persen seperti yang dilakukan Umar ibnul Khaththab dan Abu Bakar ash-Shiddiq. Mengapa demikian? Karena ia meyakini dan menjalankan firman Allah swt.,

Kalian sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu.” (Ali Imran: 186)

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Ali Imran: 92)

Wahai orang-orang yang beriman. Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian (dilalaikan dari mengingat Allah), mereka itulah orang-orang yang rugi.” (al-Munaafiqiin: 9)

Sesungguhnya harta adalah ujian terberat bagi umat manusia. Harta bisa melalaikanmu dari mengingat Allah. Harta juga bisa menjadi pembuka pintu menuju kebajikan yang sempurna jika kita menafkahkan sebagian harta yang kita cintai.

Jadi, kita diperintahkan untuk menyedekahkan harta yang kita cintai. Akan tetapi, bukanlah termasuk harta yang kita cintai jika kita bersedekah Rp 10 juta dari total aset kita yang Rp 10 miliar karena yang miliaran itulah yang kita cintai.


Disisi lain keutamaan ilmu atas harta adalah bagaikan sebuah mata air dibandingkan dengan segelas air. Menurut Ali bin Abu Thalib, ilmu lebih baik dari harta, karena kamu pasti akan sibuk menjaga harta itu, sedangkan ilmu akan memeliharamu.

Harta habis bila dinafkahkan, sedangkan ilmu bila dinafkahkan justru akan berkembang. Ilmu adalah kuasa, sedang harta dikuasai. Penumpuk harta mati meskipun ia masih hidup, sedang ulama (ilmuwan) tetap hidup sepanjang zaman meskipun ia sudah mati.

Allah swt berfirman,

Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (al-Mujaadilah: 11)

Karena keutamaan ilmu inilah para nabi tidak mewariskan harta, melainkan mewariskan ilmu sebagaimana Nabi saw. bersabda,

Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dirham dan dinar.Mereka hanya mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambil ilmu itu maka ia telah mengambil keuntungan yang sangat besar.” (HR at-Tirmidzi)

Sebagai penutup, pahamilah firman Allah swt berikut ini,

Sekali-kali bukanlah harta dan bukan pula anak-anak kalian yang dapat mendekatkan kalian kepada Kami sedikitpun, tetapi orang-orang yang beriman dan beramal saleh itulah yang mendapatkan balasan berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka aman sentosa di dalam surga.” (Saba: 37).

Harlis kurniawan
Inspirator/Penulis buku Bujang dan Syaikh Cinta.
yy/pelitaonline.com