fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


1 Ramadhan 1442  |  Selasa 13 April 2021

Jika Hati Mencintai Sesuatu, maka Ia Tak Akan Lelah dan Bosan Bersamanya

Jika Hati Mencintai Sesuatu, maka Ia Tak Akan Lelah dan Bosan BersamanyaFiqhislam.com - Ini nasihat dari seorang kawan di kampus: “Aku benar-benar dibuat takjub oleh kisah-kisah orang-orang sholih dahulu. Kuatnya mereka berjam-jam duduk membaca Alquran, menela’ah buku, dan mendalami ilmu, tanpa lelah dan bosan. Namun, saat aku melihat orang-orang yang kuat berjam-jam i’tikaf bersama handponenya, terjawab sudah rasa heranku. Sekarang aku sadar, bahwa hati itu apabila telah mencintai sesuatu, maka ia tak akan merasa lelah dan bosan untuk selalu bersamanya.”

Yang terasa adalah malu dan merasa amat kerdil, saat membaca kisah-kisah para ulama salaf dalam menuntut ilmu. Sungguh pengorbanan yang luar biasa.

Berikut diantaranya:

Dawud at Tho-i rahimahullah dahulu biasa mengonsumsi remukan roti; tidak makan roti utuhan sebagaimana lumrahnya makanan masyarakat kala itu. Saat beliau ditanya tentang kebiasaan beliau ini, beliau menjawab, “Waktu yang dihabiskan untuk makan roti sambil minum (untuk melenturkan kerasnya roti ), cukup untuk membaca 50 ayat.” (Al majalis wa jawahirul ilm 1/346)

Abu Hilal al ‘Askari menceritakan, “Ada sebuah kisah tentang Tsa’lab (Ulama ahli bahasa). Beliau tak pernah pisah dari buku-buku yang beliau pelajari. Bila mendapatkan undangan (walimah misalnya), beliau mensyaratkan untuk menyediakan tempat yang cukup umtuk duduk beliau serta menaruh kitab2 beliau. Sehingg beliau tetap bisa membaca.” (Al hatstsu ‘ala Tholabil ilm, 76)

Muhammad bin Ahmad al Khoyyat, menghabiskan seluruh waktunya untuk mempelajari ilmu. Meski saat beliau dalam perjalanan. Sampai-sampai diceritakan beliau jatuh ke lobang atau tertabrak hewan tunggangan, karena sibuk membaca buku. (Al Musyauwiq ilal qiroah, 62).

Imam Ahmad bin Hambal menceritakan, “Selama 18 bulan lamannya Syu’bah melazimi Hakam bin Utaibah, (dalam rangka menimba ilmu dari hadis-hadis Nabi yang beliau sampaikan). Bahkan sampai menjual usuk (bagian dari atap) rumah beliau demi memenuhi biaya dalam menuntut ilmu. (Al ‘ilal wa ma’rifatur rijal 2/342).

Sampai dikisahkan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah, tentang guru beliau; Syaikh Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, saat beliau sakit. Dokter yang merawat beliau menghimbau, “Mohon jangan banyak berbicara dan berpikir tentang masalah keilmuan dahulu. Karena itu akan membahayakan kesehatan Anda.”

Syaikhul Islam menjawab, “Bukankah Anda dan para dokter meyakini, bahwa jiwa yang senang, secara tabi’at bisa mengusir berbagai penyakit? Karena rasa bahagia dalam jiwa adalah musuh nya penyakit. Bila semakin kuat kebahagiaan dalam jiwanya, maka penyakit akan kalah dan terusir.”

“Iya benar,” Jawab dokter tersebut.

Syaikhul Islam berkata, “Aku amat merasakan bahagia saat aku menyibukkan diri dengan memberi wejangan, mengulang pelajaran, dan berbicara tentang masalah keilmuan (syar’i). Maka hal ini akan membantu mengusir penyakit dalam diriku.” (Miftah Dar As Sa’adah 2/170). [yy/islampos]