pustaka.png.orig
basmalah.png


4 Dzulqa'dah 1442  |  Senin 14 Juni 2021

Mari Menjadi Orang Yang Biasa-Biasa Saja

Mari Menjadi Orang Yang Biasa-Biasa Saja

Fiqhislam.com - Mari kita bermimpi untuk menjadi orang yang biasa-biasa saja. Terkenal pun tidak, tidak dikenal juga jangan. Karena tidak dikenal itu juga berbahaya, bayangkan jika para perawi hadits jika tidak dikenal, rawan periwayatannya. Tapi menjadi terkenal juga jangan sekali-kali diimpikan, kenapa? Betapa berat resiko menjadi orang terkenal, namun masalahnya, sesuatu kadang datang sendiri, tanpa kita cari-cari, tidak sengaja berbuat salah, atau keliru ngomong saja orang bisa ujug-ujug jadi terkenal, bagaimana ya, kalau tiba-tiba kita menjadi selebriti?

Betapa banyak orang yang senang menjadi populer. Karena popularitas dekat dengan kekayaan materi. Semakin populer—asal bukan populer karena kasus kriminalitas—akan banyak orang mudah percaya kepadanya. Peluang bisnis akan semakin terbuka lebar. Belum lagi bila popularitasnya berkaitan dengan jalur-jalur komersial, semakin lengkaplah kecanggihan sebuah popularitas. Itulah, demi popularitas, banyak orang mengorbankan segala yang mereka punya, bahkan kehormatan dan harga diri.

Padahal popularitas yang dicari mungkin tak akan memberi kebaikan apa-apa.  Kebanyakan orang beranggapan dengan menjadi terkenal, segala wujud impian dapat setidaknya didekati dan direngkuh sebagiannya dengan mudah.

Jika menengok ke belakang, ternyata para salafushalih terdahulu, begitu takut terhadap yang namanya ‘popularitas’ seperti kebanyakan orang-orang sekarang menggilainya. Kalu kita bertanya kenapa para salafushalih terdahulu justru menghindari popularitas, padahal toh popularitas itu juga penting? Alasannya, karena banyak kebajikan yang bisa dilakukan oleh orang populer, yang juga dapat dilakukan oleh orang biasa. Sementara beban popularitas itu tetap saja berat. Antara resiko dan hasil atau pencapaian-di mata allah- kadang tidak berimbang sama sekali, yah itu karena mereka menimbang-nimbangnya dengan kacamata ketakwaan, bukan ambisi syahwat dan naluri kemanusiaan saja. Itu berbeda dengan kebanyakan kita yang senantiasa mengukur kenyamanan dengan selera nafsu kita saja.

Kalau anda disuruh memilih, antara bermimpi menjadi kekasih Allah, atau bermimpi menjadi idola orang banyak, mana yang anda pilih? Secara idealis, anda mungkin akan berkata “lebih baik saya dicintai Allah dan dibenci orang banyak, daripada diidolakan orang banyak, tapi dibenci oleh allah”

Tapi, benarkah idealitas itu mengalir dalam darah kita sebagai obsesi yang nyata? Belum tentu. Justru kebanyakan orang kerap bermimpi menjadi idola orang banyak, sambil menutup-nutupi, he

Teringat sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam muslim:

“Sesungguhnya allah menyukai hamba yang bertakwa, kaya (hati) dan menjauhi popularitas”

“Setan itu dekat dengan orang yang populer”, kata Muhammad Ali, yang bernama asli Clasius Clay, petinju muslim, mantan juara dunia bergelar The Greatest yang amat tersohor itu.

Ali berkata demikian bisa jadi karena ia sendiri sudah merasakannya.Dalam perjalanan hidupnya pernah ditakdirkan untuk merasakan kenikmatan semu bernama ‘popularitas’, dari mulai artis, olahragawan bahkan kiayi sekalipun, hantu popularitas tidak pandang bulu menyerang hati-hati setiap manusia. Bagaimana setan menggoda dan menjebak manusia agar terpuruk di lembah nista? Saat terkenal, orang akan banyak berdekatan dengan berbagai kalangan, berbagai tipe orang, dan berbagai jenis manusia dengan keragaman pemikiran dan keyakinannya. Ia tak lagi mencari teman, tapi justru orang berjubel-jubel mendekatinya. Ingin diakui sebagai temannya, saat itulah godaan setan makin dekat dengannya.

Popularitas membutuhkan kemampuan bertoleransi tingkat tinggi. Di level ini, sedikit orang yang mampu mempertahankan prinsip hidup dan keyakinannya. Terkadang seseorang harus memilih tetap eksis sebagai selebriti, atau dicap kampungan. Tetap dipakai sebagai simbol komersial, atau didepak kembali menjadi orang biasa.

Ada yag bertahan dan ternyata tetap baik-baik saja. Ada yang bertahan ternyata terbukti ia tak lagi menjadi icon popularitas. Selebihnya memilih jalur aman, dengan bareng-bareng mengarungi arus, menoleransi segala bentuk kesesatan, karena mereka sudah menganggap diri mereka sebagai ‘milik’ semua orang. Para pengagum, fans, dan penggemar dipandang sebagai raja.

Sebagai raja, penggemar itu punya keinginan. Sebisa mungkin seorang selebriti atau seorang yang ternama harus memenuhi semua atau sebagian besar keinginan itu. Bila ia tampil atau menyuguhkan sesuatu yang ia jajakan, tanpa mengikuti dan memedulikan selera pasar, ia akan dijauhi orang banyak. Ia seperti orang yang menjual bakso kepada para atlet sepak bola yang sedang kehausan. Atau menjual aksesoris kepada orang yang belum berpakaian, itulah resiko menjadi orang yang terkenal. segala aib dan cacat kita pun bisa menjadi gosip yang layak dijual.

Khaira Anisa
yy/islampos.com