9 Safar 1443  |  Jumat 17 September 2021

basmalah.png

Saat Spiritualitas di Ujung Tanduk

Saat Spiritualitas di Ujung Tanduk

Fiqhislam.com - Kerasnya hidup di kota menuntut mobilitas yang sangat tinggi. Padatnya aktivitas mencari nafkah, tak jarang menggerus nilai spiritualitas seseorang. Ini bukan tanpa efek samping. 

Dampak padatnya aktivitas mencari nafkah dan duniawi bagi dimensi rohani seseorang adalah hilangnya rasa kedamaian dan ketenteraman hati. Mereka akan lebih sering stres dan tubuh yang tidak mampu menanggungnya akan jatuh sakit. ”Jika abai kebutuhan spiritual maka merugilah”.

Mengutip surah al-Ma'arij ayat 15-19. "Sekali tidak dapat, sesungguhnya neraka itu adalah apa yang bergejolak, yang mengelupas kulit kepala, yang memanggil orang yang membelakangi dan yang berpaling dari agama serta mengumpulkan harta benda lalu menyimpannya, sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir."

Tergerusnya spiritual justru malah dapat menjadikan mereka selalu berkeluh kesah dan semakin kikir. Hal itu karena mereka hanya menumpuk harta tanpa memedulikan kebutuhan rohaninya. Penyebab utamanya adalah terkikisnya keimanan yang dimiliki. Harta yang diperoleh pun tak jelas sumbernya, kalaupun halal, enggan berbagi.  

Dengan keimanan yang menipis, mereka tidak lagi memerdulikan cara dan usaha yang halal untuk mengumpulkan hartanya. Sementara, rezeki yang diperoleh tak kunjung disedekahkan sebagiannya. “Padahal, ada hak orang lain di sana”. 

Dampak susutnya keimanan itu pula, ialah munculnya paradigma bahwa materi adalah puncak kebahagiaan. Padahal, hakikat bahagia menurut perspektif Islam, adalah ketenteraman dan kedamaian jiwa. 

Ketenangan batin itu bisa diperoleh antara lain, dengan bersyukur serta mengaisnya dengan cara yang halal. Ini penting, mengingat makanan haram akan mendarah daging melalui aliran darah. 

Akibatnya, bisa memicu efek domino. Otak berpikir jahat, lalu menjalar ke hati yang mendorong pada iri dan dengki. Mengutip surah al-Munafiqun ayat ke-9. Bahwa, hendaknya harta dan anak tidak lantas melalaikan fokus seorang Muslim. 

Empat cara, yang bisa ditempuh guna menyeimbangkan antara aktivitas duniawi dan ukhrawi. Cara tersebut di antaranya dengan memperbanyak membaca Alquran dengan terjemahannya, melaksanakan shalat lima waktu dengan tepat waktu, infak dan sedekah serta meluangkan waktu untuk menghidupkan majelis taklim.

Ustaz Najmuddin Shiddin
yy/republika.co.id