14 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 21 Oktober 2021

basmalah.png

Magnet yang Tersimpan Dalam Hati

Magnet yang Tersimpan Dalam Hati

Fiqhislam.com - Tidak ada seorang pun, ketika Allah menciptakannya, kecuali pasti memiliki potensi menerima dan menolak. Bila tidak memiliki berarti ia telah kehilangan dirinya, kehilangan rahasia wujudnya. ia seperti pohon kering yang daun-daunnya berguguran, tidak menghijau dan tidak hidup. Atau seperti pohon yang tidak berbuah, hidup tapi seperti mati. ia tidak punya pengaruh dalam kehidupan karena hanya dapatmengambil tetapi tidak dapat memberi.

Ada sejumlah orang yang bukan nabi juga bukan syuhada, tetapi kedudukannya di sisi Allah membuat para nabi dan para syuhada iri hati. Mereka dapat menyingkap rahasia Allah dalam dirinya, yakni anugerah indra: telinga, mata, dan hati.

Mereka membangkitkan dan “memerangi”nya dengan ibadah dan ketaatan, sehingga menyala dan berkobar-kobar. Dari dalam jiwa dan hatinya muncul luapan gelombang yang mampu mengharu biru hati manusia sehingga menjadikannya lunak di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hati dan perasaan menjalin hubungan yang demikian harmonis, dan tak dapat di-ungkapkan dengan kata-kata, namun kita dapat merasakan kebahagiaan dengannya. ia menjelma menjadi kha-yalan indah yang melayang-layang. La pun lalu berubah menjadi “magnet” yang dapat menarik ruh dan hati.  Tak seorang pun yang tidak mempunyai perasaan seperti ini, walau hanya sedikit.

Seorang dai yang sukses adalah yang mendapat petunjuk Allah ke tempat persembunyian perasaan ini, sehingga menambah kekuatan dan gairahnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala. berfirman,

Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kalian kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kalian.” (Al Anfal: 24)

Sementara orang-orang yang kering hatinya dan berkarat jiwanya, telah Allah nyatakan,

Kemudian setelah itu hati kalian menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada sungai-sungai yang mengalir darinya, dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air darinya, dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari yang kalian kerjakan.” (Al Baqarah: 74)

Ayat ini telah menjelaskan bahwa batu itu sensitif. Bahkan ia meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Tetapi kita tidak memiliki peralatan yang dapat membuka rahasia, bagaimana batu itu dapat sensitif. Namun kita yakin (melalui ayat) tersebut bahwa ia memang sensitif, takut, dan melekat satu sama lain karena takut-nya kepada Allah.

Bila batu saja sensitif, gemetaran, dan melekat satu sama lain karena takut kepada Allah, lalu bagaimana dengan manusia yang banyak diberikan oleh Allah kenikmatan yang besar, seperti akal, perasaan, dan hati sebagai tempat penitipan rahmat. Allah berfirman,

Berkata Musa, ‘Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengertiperkataanku.” (Thaha: 25-28)

Hasan Al-Banna
yy/nabawia.com