24 Dzulhijjah 1442  |  Selasa 03 Agustus 2021

basmalah.png

Surga Seperti Apa yang Kamu Rindu, Catatan Hati untuk Para Penebar Teror

Surga Seperti Apa yang Kamu Rindu, Catatan Hati untuk Para Penebar Teror
Fiqhislam.com - Wahai para pelaku teror... peledak bom... penembak brutal... pembajak, perusak, penjahat, dan pelaku kekejian... Ingin aku bertanya padamu.

Beragamakah dirimu? Adakah Tuhan di matamu? Atau Tuhankah pada dirimu? Apakah begitu tingginya posisimu hingga merasa berhak mengambil nyawa orang lain. Sebegitu sucinyakah kau sehingga menganggap manusia lain kotor dan berhak kau rusak masa depan dan harapannya?

Wahai penyebar teror. Percayakah engkau akan surga? Atau mungkin hanya percaya adanya surga dan tidak percaya keberadaan neraka. Lupa kalau setiap kebiadaban akan dibalas di akhirat kelak?
Percaya, apa pun yang kau lakukan tetap akan membuatmu masuk surga?

Ah. Jika demikian, surga seperti apa yang kamu kenal? Surga yang kutahu adalah tempat suci untuk hamba-hamba-Nya yang berbuat baik. Mereka yang senantiasa me - nyebarkan rahmat bagi sekalian alam. Juga para pembela kaum yang lemah.

Mungkin, surga yang kau kenal berbeda dengan yang selama ini kutahu? Adakah surgamu memberi ruang bagi para peledak bom yang telah melukai banyak korban, sehingga halal saka bagimu membunuh sesama tanpa pandang bulu?

Bom yang kau ledakkan bisa jadi membunuh seorang ayah yang menjadi tumpuan hidup anak- anaknya. Menghilangkan nyawa sosok suami yang menjadi sandaran cinta dan harapan istrinya. Membunuh guru yang menjadi pelita bagi murid- muridnya. Bahkan, tidak mustahil membunuh penyeru agama yang menjadi harapan umat dan masa depan bangsa.

Surga yang kukenal tidak membuka pintu bagi pembunuh berdarah dingin, untuk melangkah ke dalamnya. Sebab, surga yang kukenal sama dengan surganya Rasulullah Muhammad SAW. "Berjalanlah kamu dengan nama Allah dan di jalan Allah, perangilah orang-orang yang kufur kepada Allah, jangan mencincang, jangan berkhianat, dan jangan membunuh anak-anak." (HR Ahmad dan Ibnu Majah). Surga yang kurindu, tidak mengizinkan manusia membunuh manusia lain secara gegabah.

Surga yang ingin kutuju, sama dengan surganya Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan para sahabat. Mereka yang rindu berada di dalamnya akan terus teringat sebuah pesan menjelang peperangan ketika Abu Bakar memberi instruksi, antara lain, jangan membunuh perempuan, jangan membunuh anak-anak, jangan membunuh orang tua yang sudah tak berdaya, jangan menebang pohon yang sedang berbuah, jangan merobohkan bangunan, jangan menyembelih kambing dan unta, kecuali sekadar untuk dimakan. Jangan merusak, membakar pohon kurma, dan lain-lain.

Abu Bakar, sahabat dekat Nabi, tahu surga tidak memberi tempat bagi siapa saja --atas nama agama sekalipun-- untuk berbuat kerusakan. Itulah sebabnya, sekali lagi aku ingin bertanya, mungkin dirimu punya surga yang berbeda? Atau pemimpin yang berbeda? Yang lebih mulia dari Rasulullah SAW sehingga mengizinkan dirimu melakukan teror?

Jika ingin suaramu didengar, jika ingin membalas ketertindasan yang pernah kamu alami, maka pelajarilah bagaimana manusia paling mulia melakukannya. Rasulullah Muhammad SAW juga pernah ditindas, tapi beliau SAW tidak melawan dengan teror.

Ia membalas dengan kesabaran dan daya tahan yang tangguh. Sikap yang justru membuat simpati berhamburan dan memojokkan para penindas. Prinsip yang kelak menginspirasi Mahatma Ghandi untuk melawan kesewenangan tanpa kekerasan dan membantu membebaskan India tanpa pertumpahan darah.

Prinsip Mahatma Ghandi yang kemudian menginspirasi Marthin Luther King dalam memperjuangkan hak masyarakat kulit hitam Amerika hingga berhasil mencapai kesetaraan. Satu pesannya yang sangat ditekankan pada warga kulit hitam saat itu ialah agar tidak terpancing kekerasan.

Ya, daya tahan. Kesabaran, kunci keberhasilan sebuah perjuangan. Jika teror adalah jalan yang kamu pilih, maka tidak akan ada keberhasilan. Masyarakat, para objek dakwah justru lebih membencimu. Lebih buruk lagi jika mereka turut membenci agama yang kamu anut, ikut menuduh Nabi yang kamu agungkan.

Jika engkau memang memiliki agama. Jika engkau mencintai Tuhan dan Rasulmu, berhenti melakukan teror. Sebaliknya tebar cinta, kebajikan, dan kemanfaatan hingga agama, Nabi, dan Tuhanmu menjadi bukti rahmatan lil alamin. Rahmat, hanya rahmat, bagi seluruh alam.
 
Oleh Asma Nadia
yy/republika