17 Safar 1443  |  Sabtu 25 September 2021

basmalah.png

Beberapa Alasan Turunnya Nubuwah di Hijaz

Beberapa Alasan Turunnya Nubuwah di Hijaz

Fiqhislam.com - Kenabian akhir zaman muncul di Jazirah Arab, menurut penulis, bukan disebabkan oleh kejahiliyahan bangsa Arab pada masa itu, melainkan karena adanya beberapa keutamaan yang mereka miliki. Walaupun mereka ketika itu terjatuh dalam kejahiliyahan, tetapi mereka juga memiliki beberapa kelebihan yang memungkinkan mereka mendapatkan kemuliaan sebagai tempat munculnya Nubuwah.

Dalam tulisan ini akan dibahas setidaknya empat keutamaan yang dimiliki oleh bangsa Arab di Makkah-Madinah dan sekitarnya pada masa itu:

1. Mereka Belum Pernah Dijajah Bangsa Asing.

Bangsa Arab di Hijaz (Makkah-Madinah dan sekitarnya) merupakan bangsa yang belum pernah dijajah oleh bangsa asing, baik bangsa Romawi, Persia, ataupun bangsa-bangsa lainnya. Hal ini menyebabkan mereka terhindar dari mentalitas negatif yang sering menimpa bangsa terjajah, seperti rendah diri (inferior) dan sikap mengekor bangsa lain yang dipandang lebih tinggi.

Hijaz merupakan negeri yang gersang dan relative miskin dari sumberdaya alam.Penduduknya hidup bersuku-suku dan sering berperang satu sama lain. Hal ini menyebabkan bangsa-bangsa besar di sekitarnya tidak merasa tertarik untuk menguasainya. Bangsa Arab di Syam (Suriah-Palestina) yang terletak di Utara Hijaz dikuasai oleh Romawi dan Persia secara bergantian.Wilayah itu termasuk subur dan dulunya memiliki peradaban besar seperti Sumeria, Babilonia, dan lainnya. Selain itu, al-Quds yang dimuliakan oleh orang-orang Kristen Romawi juga berada di wilayah ini. Syam juga terletak di perbatasan antara Asia dan Afrika, dan posisinya dengan Eropa tidak terlalu jauh.

Yaman yang terletak di Selatan Hijaz juga merupakan negeri yang subur dan strategis. Dahulunya wilayah ini memiliki peradaban penting. Pelabuhannya merupakan penghubung perdagangan di Samudera Hindia yang dapat membawa kapal-kapal hingga ke India dan Asia Tenggara, bahkan China. Wilayah ini juga sangat menarik bagi bangsa yang lebih kuat untuk menguasainya. Menjelang munculnya Kenabian Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam, wilayah ini sempat dikuasai oleh Ethiopia (Habsyah), dan juga Persia.

Satu-satunya yang pernah berusaha untuk masuk dan menguasai Makkah dan sekitarnya hanya Abrahah, penguasa Habsyah di Yaman. Motivasinya pun bersifat keagamaan, bukan ekonomi, yaitu ingin menghancurkan Ka’bah sebagai pusat ritual tahunan agar orang-orang berdatangan ke gereja yang dibangunnya di Yaman.

Upaya Abrahah ini gagal dan Hijaz tak jadi dijajah bangsa asing. Menariknya, upaya Abrahah ini terjadi bertepatan dengan lahirnya Nabi Muhammad saw. Yang nan tinya muncul sebagai pembawa risalah dan peradaban baru.

2. Adanya Masjid Tertua Dimuka Bumi

Hijaz memang bukan negeri yang strategis dari segi ekonomi, politik, ataupun geografi. Namun, ia memiliki nilai penting dari sisi keagamaan, karena di wilayah itu ada masjid tertua yang pernah dibangun oleh para Nabi, yaitu Ka’bah. Walaupun ibadah haji yang disyariatkan pada masa Nabi Ibrahim dan Ismail as. Telah disimpangkan oleh masyarakat  Arab pada masa itu dan Ka’bah banyak diisi dengan patung-patung berhala, tetapi ibadah tersebut masih tetap berjalan hingga kemasa Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Orang-orang dari berbagai wilayah, termasuk Afrika, berdatangan ke Makkah setiap musim haji. Hal ini membuat kota ini memiliki nilai strategis secara keagamaan. Allah  telah memerintahkan dihijrahkannya nenek moyang  Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam, yaitu Hajar dan Ismail, ke lembah Makkah ketika tempat itu masih kosong dari manusia. Kota ini telah disiapkan sebagai tempat kemunculan risalah akhir zaman.

3. Kesusastraan yang Tinggi

Bangsa Arab di Hijaz ketika itu tidak memiliki peradaban fisik yang tinggi sebagaimana yang dimiki oleh bangsa-bangsa besar di sekitarnya, seperti Romawi dan Persia. Mereka tidak memiliki bangunan-bangunan besar dan megah, atau barang-barang produksi yang hebat.Namun mereka memiliki satu bentuk kebudayaan yang sangat penting dan bernilai tinggi, yaitu bahasa Arab dan kesusasteraan. Bahasa dan kesusasteraan Arab justru mencapai puncaknya pada masyarakat Arab menjelang dan pada masa munculnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam.

Orang-orang Arab ketika itu sangat suka bersyair dan nilai keindahan syair mereka sangat tinggi. Mereka mengabadikan kisah-kisah dan peperangan yang mereka lewati dengan syair-syair. Mereka memuji dan mencela dengan syair-syair. Mereka bersyair ketika merasa bahagia, ketika sedang marah, ketika sedih, dan dalam berbagai keadaan yang merekajalani. Kepekaan mereka yang tinggi terhadap keindahan bahasa memungkinkan mereka untuk lebih cepat tersentuh dengan keindahan wahyu al-Qur’an. Kemampuan dan penilaian yang tinggi terhadap bahasa juga memungkinkan mereka untuk mengembangkan peradaban yang besar pada masa-masa setelahnya, karena peradaban dan kebudayaan berkembang bersama pengetahuan dan pengetahuan tersebar melalui bahasa.

4. Penghargaan Terhadap Kemuliaan Diri

Bangsa Arab menjelang kenabian sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemuliaan diri. Hal ini berkaitan erat dengan keadaan mereka yang tidak pernah dijajah oleh bangsa lain. Mereka sangat menghargai kemuliaan diri dan tidak suka dihinakan, apalagi sampai menghinakan diri kepada orang atau bangsa lain. Kemiskinan tidak menyebabkan mereka rendah diri, sebagaimana kemuliaan juga tidak menjadikan mereka sombong.

Penghargaan terhadap kemuliaan ini juga yang menyebabkan mereka begitu mudah berperang antar kabilah. Mereka tidak rela jika ada saudara mereka yang diganggu dan direndahkan. Hal ini pula yang menyebabkan mereka berlomba-lomba dalam bersedekah, menyantuni anak yatim, menentang kezaliman, dan melayani jamaah haji, karena semua itu dipandang sebagai bentuk-bentuk kemuliaan. Ketika Ka’bah dibangun kembali  dan Hajar Aswad hendak diletakkan di bangunan Ka’bah, beberapa suku bersikeras  untuk menjadi  pihak yang membawa dan meletakkan batuhitam itu di Ka’bah. Hal itu dilihat oleh mereka sebagai kemuliaan yang tinggi, dan mereka siap menumpahkan darah untuk mendapatkannya. Untunglah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam yang ketika itu belum diangkat jadi Nabi muncul dan member jalan keluar. Beliau Shallallahu ‘alaihi Wassalam merentangkan kainnya, meletakkan Hajar Aswad di tengah kain, dan meminta setiap kabilah membawa batu itu bersama-sama dengan memegangi kain tersebut. Pemuda agung itu mengajarkan kepada mereka bahwa kemuliaan bias didapatkan oleh semua orang secara bersama-sama, tanpa harus mengorbankan pihak lain.

Adanya kecintaan dan rasa kemuliaan yang tinggi ini menyebabkan mereka lebih siap untuk mengemban risalah serta membangun dan memimpin peradaban yang besar. Karena mereka tidak pernah menganggap dirinya inferior terhadap bangsa-bangsa lainnya, walaupun sebelum itu mereka tidak memiliki peradaban yang lebih tinggi.

Karena kemuliaan itu bukan terletak pada harta benda dan bangunan-bangunan yang megah, melainkan terletak di dalam jiwa manusia. Wallahua’lambis showab.

Oleh Alwi Alatas
Penulis adalah penulis buku "Nuruddin Zanki dan Perang Salib" kolumnis hidayatullah.com, kini sedang mengambil program doktoral bidang sejarah di Universiti Islam Antarabangsa, Malaysia
yy/hidayatullah.com

{AF}

 

Mengapa Islam Turun di Arab?

Mengapa Islam Turun di Arab?

Para penulis sirah nabawiyah seperti Syeikh Dr. Said Ramadhan Al-Buthi dan beberapa ulama lainnya memang pernah menuliskan apa yang anda tanyakan. Yaitu tentang beberapa rahasia dan hikmah di balik pemilihan Allah SWT atas jazirah arabia sebagai bumi pertama yang mendapatkan risalah Islam.

Rupanya turunnya Islam pertama di negeri arab bukan sekedar kebetulan. Juga bukan semata karena di sana ada tokoh paling jahat semacam Abu Jahal cs. Namun ada sekian banyak skenario samawi yang akhir-akhir ini mulai terkuak. Kita di zaman sekarang ini akan menyaksikan betapa rapi rencana besar dan strategi Allah jangka panjang, sehingga pilihan untuk menurunkan risalah terakhir-Nya memang negeri Arabia.

Meski tandus, tidak ada pohon dan air, namun negeri ini menyimpan banyak alasan untuk mendapatkan kehormatan itu. Beberapa di antaranya yang bisa kita gali adalah:

I. Di Jazirah Arab Ada Rumah Ibadah Pertama

Tanah Syam (Palestina) merupakan negeri para nabi dan rasul. Hampir semua nabi yang pernah ada di tanah itu. Sehingga hampir semua agama dilahirkan di tanah ini. Yahudi dan Nasrani adalah dua agama besar dalam sejarah manusia yang dilahirkan di negeri Syam.

Namun sesungguhnya rumah ibadah pertama di muka bumi justru tidak di Syam, melainkan di Jazirah Arabia. Yaitu dengan dibangunnya rumah Allah (Baitullah) yang pertama kali di tengah gurun pasir jazirah arabia.

Rumah ibadah pertama itu menurut riwayat dibangun jauh sebelum adanya peradaban manusia. Adalah para malaikat yang turun ke muka bumi atas izin Allah untuk membangunnya. Lalu mereka bertawaf di sekeliling ka'bah itu sebagai upaya pertama menjadikan rumah itu sebagai pusat peribadatan umat manusia hingga hari kiamat menjelang.

Ketika Adam as diturunkan ke muka bumi, beliau diturunkan di negeri yang sekarang dikenal dengan India. Sedangkan isterinya diturunkan di dekat ka'bah. Lalu atas izin Allah keduanya dipertemukan di Jabal Rahmah, beberapa kilometer dari tempat dibangunnya ka'bah.

Maka jadilah wilayah sekitar ka'bah itu sebagai tempat tinggal mereka dan ka'bah sebagai tempat pusat peribadatan umat manusia. Dan di situlah seluruh umat manusia berasal dan di tempat itu pula manusia sejak dini sudah mengenal sebuah rumah ibadah.

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT:

Sesungguhnya rumah yang pertama dibangun untuk manusia beribadah adalah rumah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkati dan menjadi petunjuk bagi manusia. (QS. Ali Imran: 96)

II. Jazirah Arabia Adalah Posisi Strategis

Bila kita cermati peta dunia, kita akan mendapati adanya banyak benua yang menjadi titik pusat peradaban manusia. Dan Jazirah Arabia terletak di antara tiga benua besar yang sepanjang sejarah menjadi pusat peradaban manusia.

Sejak masa Rasulullah SAW, posisi jazirah arabia adalh posisi yang strategis dan tepat berada di tengah-tengah dari pusat peradaban dunia.

Bahkan di masa itu, bangsa Arab mengenal dua jenis mata uang sekaligus, yaitu dinar dan dirham. Dinar adalah jenis mata uang emas yang berlaku di Barat yaitu Romawi dan Yunani. Dan Dirham adalah mata uang perak yang dikenal di negeri timur seperti Persia. Dalam literatur fiqih Islam, baik dinar maupun dirham sama-sama diakui dan dipakai sebagai mata uang yang berlaku.

Ini menunjukkan bahwa jazirah arab punya akses yang mudah baik ke barat maupun ke timur. Bahkan ke utara maupun ke selatan, yaitu Syam di utara dan Yaman di Selatan.

Dengan demikian, ketika Muhammad SAW diangkat menjadi nabi dan diperintahkan menyampaikannya kepada seluruh umat manusia, sangat terbantu dengan posisi jazirah arabia yang memang sangat strategis dan tepat berada di pertemuan semua peradaban.

Kita tidak bisa membayangkan bila Islam diturunkan di wilayah kutub utara yang dingin dan jauh dari mana-mana. Tentu akan sangat lambat sekali dikenal di berbagai peradaban dunia.

Juga tidak bisa kita bayangkan bila Islam diturunkan di kepulauan Irian yang jauh dari peradaban manusia. Tentu Islam hingga hari ini masih mengalami kendala dalam penyebaran.

Sebaliknya, jazirah arabia itu memiliki akses jalan darat dan laut yang sama-sama bermanfaat. Sehingga para dai Islam bisa menelusuri kedua jalur itu dengan mudah.

Sehingga di abad pertama hijriyah sekalipun, Islam sudah masuk ke berbegai pusat peradaban dunia. Bahkan munurut HAMKA, di abad itu Islam sudah sampai ke negeri nusantara ini. Dan bahkan salahseorang shahabat yaitu Yazid bin Mu'awiyah ikut dalam rombongan para dai itu ke negeri ini dengan menyamar.

III. Kesucian Bangsa Arab

Stigma yang selama ini terbentuk di benak tiap orang adalah bahwa orang arab di masa Rasulullah SAW itu jahiliyah. Keterbelakangan teknologi dan ilmu pengetahuan dianggap sebagai contoh untuk menjelaskan makna jahiliyah.

Padahal yang dimaksud dengan jahiliyah sesungguhnya bukan ketertinggalan teknologi, juga bukan kesederhanaan kehidupan suatu bangsa. Jahiliyah dalam pandangan Quran adalah lawan dari Islam. Maka hukum jahiliyah adalah lawan dari hukum Islam. Kosmetik jahiliyah adalah lawan dari kosmetik Islam. Semangat jahiliyah adalah lawan dari semangat Islam.

Bangsa arab memang sedikit terbelakang secara teknologi dibandingkan peradaban lainnya di masa yang sama. Mereka hidup di gurun pasir yang masih murni dengan menghirup udara segar. Maka berbeda dengan moralitas maknawiyah bangsa lain yang sudah semakin terkotori oleh budaya kota, maka bangsa arab hidup dengan kemurnian niloai kemanusiaan yang masih asli.

Maka sifat jujur, amanah, saling menghormati dan keadilan adalah ciri mendasar dari watak bangsa yang hidup dekat dengan alam. Sesuatu yang telah sulit didapat dari bangsa lain yang hidup di tengah hiruk pikuk kota.

Sebagai contoh mudah, bangsa Arab punya akhlaq mulia sebagai penerima tamu. Pelayanan kepada seorang tamu yang meski belum dikenal merupakan bagian dari harga diri seorang arab sejati. Pantang bagi mereka menyia-nyiakan tamu yang datang. Kalau perlu semua persediaan makan yang mereka miliki pun diberikan kepada tamu. Pantang bagi bangsa arab menolak permintaan orang yang kesusahan. Mereka amat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang paling dasar.

Ketika bangsa lain mengalami degradasi moral seperti minum khamar dan menyembah berhala, bangsa arab hanyalah menjadi korban interaksi dengan mereka. 360 berhala yang ada di sekeliling ka'bah tidak lain karena pengaruh interaksi mereka dengan peradaban barat yang amat menggemari patung. Bahkan sebuah berhala yang paling besar yaitu Hubal, tidak lain merupakan sebuah patung yang diimpor oleh bangsa Arab dari peradaban luar. Maka budaya paganisme yang ada di arab tidak lain hanyalah pengaruh buruk yang diterima sebagai imbas dari pergaulan mereka dengan budaya romawi, yunani dan yaman.

Termasuk juga minum khamar yang memabukkan, adalah budaya yang mereka import dari luar peradaban mereka.

Namun sifat jujur, amanah, terbuka dan menghormati sesama merupakan akhlaq dan watak dasar yang tidak bisa hilang begitu saja. Dan watak dasar seperti ini dibutuhkan untuk seorang dai, apalagi generasi dai pertama.

Mereka tidak pernah merasa perlu untuk memutar balik ayat Allah sebagaimana Yahudi dan Nasrani melakukannya. Sebab mereka punya nurani yang sangat bersih dari noda kotor. Yang mereka lakukan adalah taat, tunduk dan patuh kepada apa yang Allah perintahkan. Begitu cahaya iman masuk ke dalam dada yang masih bersih dan suci, maka sinar itu membentuk proyeksi iman yang amal yang luar biasa. Berbeda dengan bani Israil yang dadanya sesat dengan noda jahiliyah, tak satu pun ayat turun kecuali ditolaknya. Dan tak satu pun nabi yang datang kecuali didustainya.

Bangsa Arab tidak melakukan hal itu saat iman sudah masuk ke dalam dada. Maka ending sirah nabawiyah adalah ending yang paling indah dibandingkan dengan nabi lainnya. Sebab pemandangannya adalah sebuah lembah di tanah Arafah di mana ratusan ribu bangsa arab berkumpul melakukan ibadah haji dan mendengarkan khutbah seorang nabi terakhir. Sejarah rasulullah berakhir dengan masuk Islamnya semua bangsa arab. Bandingkan dengan sejarah kristen yang berakhir dengan terbunuhnya (diangkat) sang nabi. Atau yahudi yang berakhir dengan pengingkaran atas ajaran nabinya.

Hanya bangsa yang hatinya masih bersih saja yang mampu menjadi tiang pancang peradaban manusia dan titik tolak penyebar agama terakhir ke seluruh penjuru dunia.

VI. Faktor Bahasa

Sudah menjadi ketetapan Allah SWT untuk mengirim nabi dengan bahasa umatnya. Agar tidak terjadi kesalahan dalam komunikasi antara nabi dan umatnya.

Namun ketika semua nabi telah terutus untuk semua elemen umat manusia, maka Allah menetapkan adanya nabi terakhir yang diutus untuk seluruh umat manusia. Dan kelebihannya adalah bahwa risalah yang dibawa nabi tersebut akan tetap abadi terus hingga selesainya kehidupan di muka bumi ini.

Untuk itu diperlukan sebuah bahasa khusus yang bisa menampung informasi risalah secara abadi. Sebab para pengamat sejarah bahasa sepakat bahwa tiap bahasa itu punya masa eksis yang terbatas. Lewat dari masanya, maka bahasa itu akan tidak lagi dikenal orang atau bahkan hilang dari sejarah sama sekali.

Maka harus ada sebuah bahasa yang bersifat abadi dan tetap digunakan oleh sejumlah besar umat manusia sepanjang masa. Bahasa itu ternyata oleh pakar bahasa adalah bahasa arab, sebagai satu-satunya bahasa yang pernah ada dimuka bumi yang sudah berusia ribuan tahun dan hingga hari ini masih digunakan oleh sejumlah besar umat manusia.

Dan itulah rahasia mengapa Islam diturunkan di arab dengan seorang nabi yang berbicara dalam bahasa arab. Ternyata bahasa arab itu adalah bahasa tertua di dunia. Sejak zaman nabi Ibrahim as bahasa itu sudah digunakan. Bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa bahasa arab adalah bahasa umat manusia yang pertama.

Logikanya sederhana, karena ada sebuah hadits yang menyebutkan bahwa bahasa ahli surga adalah bahasa arab. Dan asal-usul manusia juga dari surga, yaitu nabi Adam dan isterinya Hawwa yang keduanya pernah tinggal di surga. Wajar bila keduanya berbicara dengan bahasa ahli surga. Ketika keduanya turun ke bumi, maka bahasa kedua 'alien' itu adalah bahasa arab, sebagai bahasa tempat asal mereka. Dan ketika mereka berdua beranak pinak, sangat besar kemungkinannya mereka mengajarkan bahasa surga itu kepada nenek moyang manusia, yaitu bahasa arab.

Sebagai bahasa yang tertua di dunia, wajarlah bila bahasa arab memiliki jumlah kosa kata yang paling besar. Para ahli bahasa pernah mengadakan penelitian yang menyebutkan bahwa bahasa arab memiliki sinonim yang paling banyak dalam penyebutan nama-nama benda. Misalnya untuk seekor unta, orang arab punya sekitar 800 kata yang identik dengan unta. Untuk kata yang identik dengan anjing ada sekitar 100 kata.

Maka tak ada satu pun bahasa di dunia ini yang bisa menyamai bahasa arab dalam hal kekayaan perbendaharaannya. Dan dengan bahasa yang lengkap dan abadi itu pulalah agama Islam disampaoikan dan Al-Quran diturunkan.

V. Arab Adalah Negeri Tanpa Kemajuan Material Sebelumnya

Seandainya sebelum turunnya Muhammad SAW bangsa arab sudah maju dari sisi peradaban materialis, maka bisa jadi orang akan menganggap bahwa Islam hanyalah berfungsi pada sisi moral saja. Orang akan beranggapan bahwa peradaban Islam hanya peradaban spritualis yang hanya mengacu kepada sisi ruhaniyah seseorang.

Namun ketika Islam diturunkan di jazirah arabia yang tidak punya peradaban materialis lalu tiba-tiba berhasil membangun peradana materialis itu di seluruh dunia, maka tahulah orang-orang bahwa Islam itu bukanlah makhluq sepotong-sepotong. Mereka yakin bahwa Islam adalah sebuah ajaran yang multi dimensi. Islam mengandung masalah materi dan rohani.

Ketika sisi aqidah dan fikrah bangsa Arab sudah tertanam dengan Islam, ajaran Islam kemudian mengajak mereka membangun peradaban materialis yang menakjubkan dalam catatan sejarah manusia. Pusat-pusat peradaban berhasil dibangun bangsa-bangsa yang masuk Islam dan menjadikan peradaban mereka semakin maju.

Logikanya, bila di tanah gersang padang pasir itu bisa dibangun peradaban besar dengan berbekal ajaran Islam, maka tentu membangun peradaban yang sudah ada bukan hal sulit. Wallahu a'lam bishshawab

Ahmad Sarwat, Lc., MA
yy/nabawia.com
{/AF}
.