13 Safar 1443  |  Selasa 21 September 2021

basmalah.png

Tasawuf Sering Dipalsukan Sebagai Sihir

Tasawuf Sering Dipalsukan Sebagai Sihir

Fiqhislam.com - Tasawuf dan sihir tentunya sesuatu yang seharusnya saling bertolak belakang. Namun dalam kenyataannya bila diamati di berbagai situs dan artikel-artikel lainnya, kok kelihatannya banyak kesamaan antara tasawuf dengan Ilmu ilmu ghaib dan saling mendukung. Seperti misalnya: tawasul kepada orang yang sudah mati, ilmu laduni, tafsir mimpi-mimpi dll yang menurut kita banyak mengandung tahayul bid'ah dan khurafat.

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Dan tasawuf yang mana yang sekiranya masih bersih dari hal-hal tersebut?

Ilmu tasawuf memang termasuk ilmu yang rentan untuk dipalsukan, bahkan nama tasawuf seringkali dipakai untuk melegitimasi sihir dan perdukunan. Sehingga saking seringnya ilmu ini dipalsukan, seolah-olah tasawuf menjadi identik dengan segala bentuk sihir, khurafat, syirik dan bid'ah.

Ahli bid'ah dan golongan fasik banyak yang menyebut ilmu yangdikembangkannya sebagai ilmu tasawuf, bahkan menyebut dirinya sebagai ahlitasawuf. Namunklaim seperti itu ditolak dan tidak diakui oleh tokoh-tokoh sufi yang benar dan terkenal, sepertiAl-Junaid (w. 297 H) dan ulama sufi lainnya.

Sesungguhnya ilmu tasawuf adalah ilmu tentang managemen hati. Apa yang diangkat oleh Aa Gym dengan managemen kalbu-nya tidak lain adalah tasawuf. Ilmu tasawuf ada dalam Islam, serta merupakan bagian utuh dari ajaran Islam.

Semua imam dalam ilmu fiqih pada dasarnya juga ahli dalam ilmu tasawuf. Imam Al-Ghazali adalah tokoh besar dalam ilmu tasawuf ketika menulis kitab Ihya'u Ulumum Ad-Din. Bahkan Ibnul Qayyim juga termasuk ulama yang punya perhatian besar dalam ilmu ini. Beliau berkata mengenai keterangan dari tokoh-tokoh sufi Al-Junaid bin Muhammad dengan kata-katanya, 'Semua jalan tertutup bagi manusia, kecuali jalan yang dilalui Nabi saw.'

Ilmu tasawuf mengajarkan keikhlasan dan kebersihan hati dari sifat-sifat buruk. Di antaranya sifat riya', suka dipuji, sombong, 'ujub, kikir, sum'ah, besar kepala, mau menang sendiri, hanya berorientasi kepada kemegahan duniawi, tidak pernah salah, dan seterusnya.

Ilmu tasawuf mengajarkan moral, nilai-nilai, akhlaq dan etika. Ilmu tasawuf mengajarkan seseorang menjadi kaya hati, bukan kaya harta. Ilu tasawuf mengajak orang bertaubat kepada Allah atas semua dosa dan kesalahan.

Tasawuf ada dalam Islam dan mempunyai dasar yang mendalam. Tidak dapat diingkari dan disembunyikan, dapat dilihat dan dibaca dalam Al-Qur'an, Sunnah Rasul saw. dan para sahabatnya yang mempunyai sifat-sifat zuhud (tidak mau atau menjauhi hubudunya), tidak suka hidup mewah, sebagaimana sikap khalifah Umar r.a, Ali r.a, Abu Darda', Salman Al-Farisi, Abu Dzar r.a. dan lainnya."

Tidak ada yang salah dari ilmu tasawuf kecuali setelah para penyihir dan dukun datang memperkosanya. Dengan meminjam istilah dari ilmu tasawuf, jadilah tasawuf menjadi sebuah gerakan ilmu hitam yang penuh dengan nafsu syaitani, bid'ah-bid'ah kotor dan syirik yang parah.

Berbagai ilmu kedigjayaan dan kanuragan yang dimotori oleh Iblis dan konconya menjadi asesoris ilmu tasawuf. Itulah talbisnya iblis, piawai dalam hal tipu menipu, terutama buat orang awam.

Untuk membedakan ilmu tasawuf yang benar atau yang telah dipalsukan, bisa ditengarai dengan melihat beberapa cirinya, antara lain:

  1.     Tidak melakukan hal-hal yang syirik kepada Allah SWT
  2.     Tidak melakukan berbagai ritual aneh yang menjadibid'ah yang dhalalah, kecuali yang memang ada khilaf di dalamnya
  3.     Tidak berbentuk ilmu-ilmu ghaib, kanuragan, kedigjayaan dan sejenisnya.
  4.     Tidak mengajarkan hal-hal yang bertentangan dengan larangan syariah Islam, dari semua sisinya
  5.     Tidak keluar dari koridor hukum syariah Islam yang mu'tabar.

Wallahu a'lam bishshawab.


Ahmad Sarwat, Lc., MA
Rumah Fiqih Indonesia
yy/nabawia.com

 

Ilmu Tasawuf

Hakikat dan Sejarah Tasawuf

Makna Suluk dan Tasawuf

Tasawuf untuk Era Syariat

Tasawuf di Abad Modern

Mestikah Manusia Bertasawuf?

Tasawuf dan Wali Menurut Syeikh Hasyim Asyari

Tasawuf Indonesia, Dulu dan Sekarang