fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


30 Sya'ban 1442  |  Senin 12 April 2021

Kalkulasi Kasar Intensitas Dzikir: Sebuah Renungan Pergantian Tahun

Kalkulasi Kasar Intensitas Dzikir: Sebuah Renungan Pergantian Tahun

Fiqhislam.com - Kasih sayang Allah tak bisa ditakar, ditimbang, dihitung dan diukur. Manusia tidak punya perangkat untuk mengukur keseluruhan karunia dari Yang Maha Pengasih itu. Manusia hanya diminta bersyukur. Pada akhirnya pun, syukur yang dipersembahkan kepada Allah akan kembali kepada dirinya.

Fakta untuk sampai kepada syukur pun teramat banyak untuk dikumpulkan. Dari yang sederhana sampai yang rumit. Fakta itu bisa dimulai dari yang terdekat dengan kebutuhan manusia setiap detik, atau yang sama sekali tak terjangkau oleh seluruh waktu manusia hidup.

Sebarapa volume kisaran udara yang dihirup, kebanyakan manusia tak peduli. Barangkali karena sudah teramat lumrah saat mereka bernafas. Tetapi tidak ada salahnya sekedar tahu, bahwa berapa volume udara yang dihirup manusia bisa diperkirakan. Konon kapasitas paru-paru seorang laki-laki normal berisi 4-5 liter udara dan pada seorang perempuan 3-4 liter udara.

Ketika manusia menghirup udara atau menarik nafas (inspirasi), lalu menghembuskannya keluar (ekspirasi) serta istirahat di antara kedua proses tersebut, tidak kurang dari 10-20 kali setiap satu satu menit terjadi pada manusia dewasa secara mekanis. 24 kali pada usia dua sampai lima tahun. 30 kali pada usia dua belas bulan, dan 30-40 pada bayi baru lahir dalam setiap menitnya. Proses ini adalah nikmat hidup yang paling kasat mata tapi sering dilupakan. Manusia kadang lalai berterima kasih kepada Allah. Padahal, Dia lah Allah yang menyuplai gratis oksigen agar manusia bisa bernafas untuk menyambung hidupnya. Ini satu contoh.

Berapa sudah liter air yang diminum manusia sepanjang hidup, mungkin mencengangkan dan mengerikan. Tetapi metabolisme tubuh ciptaan Allah mampu mengatasinya. Jika rata-rata pria dewasa mengkonsumsi 3 liter air (13 gelas) dan perempuan 2,2 liter (9 gelas) per hari, berapa kubik air yang sudah dimasukkan ke dalam tubuhnya yang kecil di usianya sekarang, mungkin setara dengan kolam renang. Tetapi Allah sudah mendesign tubuh manusia untuk mengatasi soal air itu.

Allah memperkenalkan urin. Rata-rata keluaran urin orang dewasa 1,5 liter sehari. Air juga dikeluarkan melalui pernafasan, keringat dan pergerakan usus. Di sinilah terjadi keseimbangan yang mengagumkan antara air yang masuk dan dibuang metabolisme tubuh. Ini contoh yang lain.

Mungkin tak setiap manusia sudi sekedar menghitung berapa kali ia berkedip. Bisa jadi, karena setiap kali berkedip, manusia butuh waktu antara 100 sampai 150 milidetik.  Durasi waktu sependek itu membuat manusia tidak menyadari ketika kedipan itu terjadi.

Biasanya, manusia berkedip 10 sampai 15 kali permenit agar kornea matanya tetap mendapat oksigen dan terjaga kelembabannya. Selama satu jam berarti hampir 900 kali berkedip. Katakanlah kita terjaga selama 16 jam sehari. Berarti tidak kurang dari 14.400 kali manusia berkedip sehari agar matanya tetap segar.

Apabila lebih dalam direnungkan, berkedip bukan saja sekedar gerak halus yang menjaga agar mata tetap berair, sehingga mata tidak kering dan terasa perih. Tetapi berkedip adalah refleks otomatis untuk melindungi mata dari benda asing seperti debu. Saat berkedip, bola mata akan dibasahi air mata yang akan membersihkannya jika terdapat debu yang menempel. Jadi, kedipan laksana helm bagi mata dan pelembab alami yang menjaganya tetap bersih. Ini satu contoh lagi.

Lagi dan teramat banyak nikmat Allah untuk dikumpulkan. Tetapi sudahkah setiap manusia membayarnya dengan syukur? Banyak mengingat-Nya dalam dzikir?

Sekarang mari kita gandengkan nikmat Allah yang telah disebut di atas dengan intensitas dzikir sebagai wujud rasa syukur. Apakah sudah cukup untuk ”membayar” sekedar harga kedipan mata?

Usia hidup rata-rata manusia sekarang antara 60 sampai 70 tahun lebih kurang. Taruhlah rata-rata sampai usia 65 tahun. Dalam bahasa fiqih, ada batasan usia seorang muslim mulai dihitung amalnya. Batasan itu adalah mukallaf dan baligh. Apabila seseorang sudah sampai usia baligh dan mukallaf, maka ia sudah wajib menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Di sinilah start kalkulasi ibadahnya baru dihitung. Rumus sederhananya barangkali demikian: Tutup Usia – masa baligh = Panjang usia taklif (65 th – 15 th = 50 th). Maka sepanjang usia 50 tahun hidup itulah, pembuktian rasa syukur dan intensitas dzikir seorang muslim dihisab setiap detik.

Menarik sekali, Al-Qur’an mengingatkan agar manusia banyak-banyak berdzikir. Bisa jadi, karena intensitas dzikirnya teramat sedikit dibanding kesibukan yang menggunung. Mari kita renungkan fakta waktu yang dihabiskan manusia untuk segala porsi selama hidupnya.

Waktu berjalan dalam hitungan detik, menit, jam dan hari. Lalu minggu, bulan dan tahun. Sehari semalam berdurasi 24 jam atau setara dengan 1.440 menit, atau 86.400 detik. 7 hari seminggu, 30 hari sebulan dan 165 hari setahun. Dalam kungkungan waktu itulah manusia hidup dan bergulat dengan aneka aktivitas. Lalu berapa lama porsi kita berdzikir?

Shalat adalah zikir yang paling inti. Jika kita ambil 5 waktu shalat wajib saja yang kira-kira hanya memakan waktu 12 menit, hasilnya memang sangat minim. Hanya 60 menit atau 1jam dalam sehari semalam. Sementara sehari semalam ada 24 jam waktu tersedia.

Kalau begitu, dalam seminggu kita hanya menghabiskan waktu untuk shalat 7 jam saja dari 168 jam tersedia.

Sebulan hanya 210 jam untuk shalat, setara dengan 8,75 hari. Padahal hitungan jam dalam sebulan tidak kurang dari 720 jam 30 hari.

Setahun tersedia waktu lebih kurang 8.760 jam. Dalam setahun, sholat menghabiskan waktu tidak lebih hanya 365 jam. Setara dengan hanya 15,2 hari dari 365 hari dilewati.

Lalu, berapa waktu yang dihabiskan untuk shalat selama kurun waktu 50 tahun?

Jika dirata-ratakan dalam sehari semalam butuh waktu 1 jam untuk shalat, maka akan ditemukan angka 18.250 hari atau 18.250 jam dalam 50 tahun. Jika dikonversi ke tahun, angka 18.250 hari atau 18.250 jam, itu hanya sebanding 2 tahun saja dari kurun waktu 50 tahun. Ini pun belum tentu sholat yang didirikan bernilai sisi-Nya. Subhanallaah. Sepadankah untuk ”melunasi” rasa syukur untuk satu nikmat berkedip saja?

Sekarang mari bandingkan dengan aktivitas lain di luar shalat.

Tidur misalnya. Waktu tidur yang sehat dan umum lebih kurang 8 jam perhari. Berarti dalam 50 tahun, waktu yang habis dipakai tidur setara dengan 18.250 hari dikalikan 8 jam. Hasilnya sama dengan 146.000 jam. Angka ini setara dengan 16 tahun 7 bulan. Ini untuk urusan tidur.

Aktivitas kerja standar lebih kurang 9 jam perhari. Dalam 50 tahun berarti 18.250 hari dikalikan 9 jam. Hasilnya 164.250 jam, setara dengan 18 tahun 3 bulan.

Waktu aktivitas santai atau relaksasi lebih kurang 6 jam dengan berbagai kegiatan menyenangkan dalam sehari. Dalam 50 tahun waktu yang dipakai relaksasi berarti 18.250 hari dikali 6 jam. Hasilnya 109.500 jam. Angka ini setara dengan 12 tahun 6 bulan. Cukup fantastis untuk acara semacam nonton TV sambil minum kopi, belanja dan hal-hal lain yang sifatnya santai.

Ternyata, dibanding dengan aktivitas lain, intensitas dzikir hanya shalat wajib terlalu sedikit. Itu pun jika shalat tidak bolong-bolong. Sementara nikmat yang kita rasakan terlalu banyak. Bahkan terlampau banyak hingga tidak ada angka untuk menjumlahnya. Pantaslah generasi terbaik; para shabat dan salafus shalih, sedikit tidur dan banyak berdzikir, lama berdiri mengisi malam-malamnya dengan munajat dan shalat malam.

Wajarlah Al-Qur’an mengingatkan agar orang beriman tidak putus berdzikir hanya sebatas shalat wajib saja. Kitab suci kita menegur agar kita berdzikir mengingat Allah sebanyak-banyaknya pagi dan petang. Di samping itu, Nabi SAW menuntun kita untuk menambah ibadah nawafil. Mengajarkan do’a agar semua aktivitas positif selalu diawali dan diakhiri dengan dzikir. Tentu dzikir sebagaimana beliau mencontohkan dalam lafadz, jumlah dan kaifiatnya.

Satu hal yang sangat penting untuk mengimbangi intensitas dzikir adalah dengan meniatkan semua aktivitas hidup sebagai ibadah. Bukan sekedar hidup untuk hidup yang lepas dengan konteks taqarrub ilallaah. Apalagi sama sekali melupakan aspek dzikir sebagai tanda syukur sedangkan waktu bergulir tanpa bisa dicegah atau diputar mundur.

Jangan pernah tahun berganti tanpa menyelipkan muhasabah. Sudah sejauh mana intensitas dzikir sepanjang tahun berganti? Stagnan, meningkat atau justeru menurun dari tahun ke tahun. Apakah sepanjang tahun berganti tetap saja rugi, beruntung atau malah celaka oleh karena intensitas dzikir yang semakin mengecil.

Amat layak kiranya merenungkan satu riwayat untuk menyikapi setiap kali pergantian tahun. Pergantian masa yang bertambah jauh tapi hakikatnya semakin mendekatkan seseorang pada kematian.

Yang berakal selama akalnya belum terkalahkan oleh nafsunya, berkewajiban mengatur waktu-waktunya. Ada waktu yang digunakan untuk bermunajat dengan Tuhannya, ada waktu untuk melakukan introspeksi, ada waktu untuk memikirkan ciptaan Allah (belajar) ada pula waktu untuk diri dan keluarganya guna memenuhi kebutuhan makan dan minum.” (HR. Ibnu Hibban dan al-Hakim melalui Abu Dzar al-Ghifari).

Ya, Rabb terimalah amal dan semua dzikir kami sepanjang waktu. Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil’aalamiin.

Oleh Abdul Mutaqqin
Penulis Kyai Kocak Vs Liberal
yy/islampos.com